Sabtu, 09 November 2013

Aku Bersyukur


            “Ma’af bu, kami dari team dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Allah punya cara lain.” Kata dokter yang dipotong oleh suara ibuku.
            “Maksudnya dok?” kata ibuku dengan nada yang cukup was-was.
            “Kaki sebelah kiri anak ibu harus kami amputasi, karena keadaannya yang cukup parah.” Kata dokter menjelaskan.
“Hah? Apa gaada cara lain dok selain di amputasi?” Tanya ibuku dengan mimic wajah yang kaget.
“Tidak ada lagi bu. Ini sudah satu-satunya jalan yang harus dijalani. Bila dibiarkan, bisa jadi kaki anak ibu membusuk.” Jawab dokter.
            “Hhh, ya sudah. Saya sih terserah dokter saja. Asal tolong, saya mohon berikan layanan terbaik pada anak saya dok.” Kata ibuku dengan wajah yang penuh harap.
            “Iya bu, saya akan usahakan itu semua. Kami dari pihak Rumah Sakit akan berusaha semaksimal mungkin. Masalah yang menentukan berhasil atau tidaknya kami juga serahkan pada Allah SWT bu.” Kata dokter dengan penuh wibawa.
            “Baik, terimakasih dok. Kira-kira, butuh dana berapa ya dok untuk menjalankan operasi itu?”
            “Sekitar 28 juta bu.”
            “Hah?” jawab ibuku dengan nada yang shock. “Oh, yasudah dok. Saya permisi. Assalamu’alaikum.” Lanjut ibuku pamit.
            “Wa’alaikumsalam.”
            “Ya Allah, uang 28 juta darimana? Saya saja pekerjaannya hanya sebatas buruh cuci. Itu pun kalo ada yang nyuruh saja. Ya Allah, mudahkanlah urusan hamba. Jauhkanlah rasa sakit yang kini diderita oleh Is’ad anak hamba ya Allah.” Renung ibuku sambil berjalan menuju koridor masjid.
            Adzan Dzuhur berkumandang. Aku masih saja stay di kasur belang-belang berwarna putih hitam. Ternyata aku masih koma. Gara-gara semenjak kecelakaan tabrak lari 5 hari yang lalu itu. Aku masih saja betah di Rumah Sakit ini.
            3 jam kemudian, aku mulai sadar. Itu pun masih setengah sadar sih sebenarnya. Tapi, mau itu setengah sadar ke, full sadar ke, aku masih melihat dengan jelas ketika ibuku melihat aku sudah siuman tampak diwajahnya menggambarkan kegembiraan yang tak terkira. Itu yang paling ku ingat sampai sekarang.
            Begitu cerita ibuku yang terpotong oleh suara perempuan yang memberikan salam dari luar.
            “Assalamu’alaikum, permisi.”
            “Wa’alaikumsalam. Eh, dek Nur. Silahkan masuk. Pasti mau ke Is’ad ya?” Kata ibuku mencoba menebak maksud kedatangan Nur Najdah alias dek Nur.
            “Hehehe, iya bu.” Jawabnya sambil tersipu malu.
            “Sebentar ya. Is’ad? Is? Kesini, ada dek Nur nih.” Teriak ibuku memanggil.
            “Iya sebentar bu.” Kataku sambil berusaha untuk berdiri sambil ditopang oleh dua gips ku itu yang selalu setia menemani selama lebih kurang 8 tahun.
            “Eh, dek Nur. Ada apa ya?” Tanyaku.
            Memang, aku dengan dek Nur itu seangkatan. Cuman beda kelas aja sih. Tapi, karena umurku lebih tua 2 tahun dari dia, dia meminta sendiri untuk memanggilnya dengan sebutan “dek Nur”. Otomatis, aku sih menurutinya saja. Dan dia juga selalu memanggilku dengan sebutan “kang Is”
            “Ini kang, Nur mau minta ajarin Sejarah. Ada PR halaman 5 sampe 28. Kang Is udah?” Tanyanya sambil membuka buku sejarahnya satu persatu.
            “Oh, sebentar. Kang Is ambil dulu buku sejarahnya ya.” Kataku pamit untuk mengambil buku sejarah.
            “Oh iya kang, silahkan.”
            “Halaman 5 ya? Sampe halaman berapa?” Tanyaku sambil mendekati ke arah dek Nur.
            “Sampe halaman 28.” Jawabnya.
            “Oh, itu. Ada yang udah, ada juga yang belum.” Jawabku sambil melihat-lihat halaman.
            “Kalo halaman 8 no 15 itu apa? …..” Tanyanya sambil melihat halaman lain.
“Sebentar ..” Kataku memotong sambil mencari halaman yang ia tanyakan.
“Emang kerajaan yang dulu pernah pesat pada zaman atau massanya itu apa?” Tanyanya dengan serius.
            “Oh, kerajaan yang pernah pesat itu diantaranya Mataram Kuno, Majapahit, dan Sriwijaya.” Jawabku mantap.
            “Loh? Emang kenapa? Apa sih yang menjadi bukti kalo kerajaan itu pesat?”
            “Kerajaan tersebut terdapat unsur Bhineka Tunggal Ika nya. Masih inget kan artinya?” Tanyaku mencoba untuk mengetesnya.
            “Ya inget dong. Berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan.” Jawabnya penuh keyakinan.
            “Nah, bener banget. Terus, kerajaan tersebut selalu toleransi terhadap masalah yang ada. Tapi tetep bijak ko dalam memberikan hukuman. Lalu, kerajaan tersebut juga agraris, karena tidak merusak lingkungan dan juga maritim, karena tidak merusak lautan. Kerajaan tersebut juga kuat akan tradisinya.” Kataku lancar.
            “Subhanallah, Kang Is. Wawasannya tambah luas aja nih. Nur iri, gimana sih ngafalinnya? Sampe tau sedetail itu?” Tanyanya dengan wajah yang penasaran.
            “Alhamdulillah, aamiin, makasih dek Nur. Yah, jangan iri dong. Ayo kita bersaing secara sehat saja. Kang Is juga sama-sama belajar ko. Kalo tipsnya, sama saja halnya ketika dek Nur menghafal dan sama seperti anak yang lainnya. Harusnya kan dek Nur bisa lebih dari kang Is. Tau sendiri kan keadaan kang Is kaya gimana?” Kataku sambil tersenyum dan bersabar.
            “Mmmm iya juga sih. Yowis lah. Ayo kang, kita lanjut belajar lagi.” Katanya dengan penuh semangat.
            “Ayo.” Jawabku antusias.
            Terkadang, aku juga tak mengerti. Dibalik orang-orang yang mencibirku, ternyata masih ada orang yang mengagumiku. Memang, Allah itu Maha Adil.
            Pernah, ketika itu aku berjalan di koridor bawah menuju koridor atas. Ketika aku hendak menaiki tangga, terlihat ada Qadir disana. Oke, Qadir itu anak Kepala Sekolah. Sangat beda sekali antara Bapak dan anak yang satu ini. Bapaknya yang menjadi tauladan bagi guru dan siswanya. Bukan hanya di sekolahku saja, di luar sekolahku pun begitu. Lah, tapi jika dilihat dari anaknya, mungkin karena factor keadaannya yang menjadi anak Kepala Sekolah. Jadi, sikap sombong dan angkuhnya selalu ditampakkan.
            Ketika kami berpapasan, aku mencoba tetap tersenyum padanya. Meskipun memang dia yang paling sering mencibirku daripada teman yang lain.
            “Astaghfirullah.” Kataku sambil menahan sakit dan berusaha untuk berdiri kembali.
            “Napa? Mau lagi?” Tanyanya sinis.
            “Eh, biasa aja dong.” Teriak dek Nur yang tiba-tiba saja datang tepat pada waktunya.
            Dek Nur langsung membantuku untuk segera berdiri. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Ini adalah salah satu cara untuk menenangkan hatiku. Aku harus bisa selalu sabar. Disamping itu, memang dek Nur ini orang yang sangat mengerti perasaanku. Diam-diam, aku juga menyimpan kagum padanya.
            Setelah aku berusaha untuk berdiri, aku meneruskan perjalananku menaiki tangga dengan dek Nur. Dengan perasaan yang gak karuan, aku tetap berusaha untuk mencoba menenangkan hatiku. Terkadang, aku juga merasa kasihan pada Qadir. Dia sering sekali mendapat hukuman, sampai-sampai Bapaknya tampak terlihat sangat pasrah. Mungkin beliau berfikir, bagaimana lagi dan dengan cara apalagi mendidik Qadir.
            Kelas XI, aku terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba cerdas cermat pelajaran sejarah. Dari sekolahku, hanya mengirimkan 2 orang. Aku dan juga Thai’ah. Kami berdua, setiap hari Kamis dan Sabtu pukul 15.00 sampai 16.15 selalu pergi lagi ke sekolah untuk latihan soal-soal sejarah yang bisa dijadikan gambaran untuk lomba nanti.
            H-3, kami semakin bersemangat. Karena aku berfikir, “aku pasti bisa menjalankan ini semua. Walaupun, memang tak sedikit yang mencibirku. Aku bisa menjadi perwakilan sekolah meskipun aku cacat. Dan akan aku buktikan, aku pasti bisa menggantikan kecacatan ini dengan kekaguman.” Itu yang menjadi acuanku sekarang.
            “Is’ad, Thai’ah, ini kartu tanda pesertanya. Jika kartu ini hilang, kalian tidak bisa mengikuti lomba tersebut.” Kata guruku menjelaskan.
            “Bu, kenapa tidak disimpan di ibu saja? Kami khawatir, takut tertinggal bahkan hilang bu.” Kata Thai’ah.
            Aku mengangguk, menandakan setuju.
            “Oh, ok. Baiklah, ibu akan simpan di laci ibu. Ingatkan ibu, jika ibu lupa.”
            “Siap bu.”
            H-2, kami berdua semakin deg-degan. Tiba-tiba saja, ketika aku sedang belajar di jam ke 3, Thai’ah datang ke kelasku. Aku kira, ada apa. Ternyata, lomba cerdas cermat itu bukan esok. Tapi hari itu. Jujur, aku semakin kaget, karena ini terlalu mendadak. Latihan soal dengan waktu 15 hari, mungkin sudah cukup. Tapi mendengar lombanya hari ini, mental yang gak cukup. Ini terlalu mendadak.
            Apa boleh buat, aku meminta izin sekaligus meminta do’a kepada guru pengajar dan teman-temanku untuk dispensasi mengikuti lomba.
            Inilah, lomba ke 5 ku untuk mengikuti lomba cerdas cermat pelajaran sejarah. Yang pertama, aku tidak mendapat juara, lalu juara bina 3, mula 1, harapan 2. Dan sekarang, entahlah. Aku hanya bisa pasrah
            Lomba pun dimulai, kami berdua harus tetap bisa tenang di dalam kondisi yang mendadak seperti ini. Orang-orang melihatku seperti biasa dengan tatapan yang aneh. Hhmm itu semua sudah biasa, sudah terlalu mudah untuk diacuhkan. Sudah professional untuk dijalankan.
            Selesai lomba, kami langsung keluar menunggu jemputan dari sekolah. Meski mendadak, tapi akhirnya kami melaksanakan dengan lancar.
            Seperti biasanya, setiap pengumuman selalu disampaikan berbarengan dengan upacara hari senin. Dan tiba saatnya, pengumuman lomba cerdas cermat itu disampaikan oleh guru sejarahku.
            “Dan Alhamdulillah, setelah kami dari pihak sekolah mengirimkan 2 perwakilan dalam lomba cerdas cermat sejarah tingkat SMA/SMK/MA se-Indonesia, yang diadakan kemarin. Alhamdulillah, keduanya meraih juara. Yaitu, juara 2 oleh saudari Thai’ah dari kelas XI IPS 2 dan juara 1 oleh Is’ad kelas XI IPS 3. Silahkan , bisa maju ke depan untuk memberikan piala.”
            Sungguh, aku bangga sekali. Teman-teman yang lain pun bersorak tepuk tangan menambah kegembiraan di senin pagi ini. Aku maju ke depan untuk memberikan piala kepada Bapak Kepala Sekolah. “Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberikan kebahagian pada kami semua. Semoga hal ini diridhoi oleh-Mu.” Gumamku.
            Pulang sekolah, aku tak henti-hentinya selalu memuji-Nya. Setelah sampai ke rumah, aku langsung menceritakan pada ibuku. Dan ibuku pun langsung memeluk erat tubuhku. Andaikan, bapak masih ada. Beliau juga pasti akan memelukku erat seperti ibuku.
            “Nak, terus bersemangat ya. Janganlah kamu berputus asa. Biarpun kamu cacat, tapi otakmu tidak cacat nak. Ingat itu! Allah itu Maha Adil.” Begitu kata-kata motivasi ibuku.
            “Iya bu, terimakasih.” Kataku sambil memeluk ibu.
            3 tahun sudah, akhirnya aku lulus dari SMA ini. Dan alhamdulillahnnya, aku mendapat beasiswa dari sekolah untuk melanjutkan kuliahku. Aku selalu bersyukur. Dibalik kesedihanku, Allah selalu menyisipkan kebahagiaan yang luar biasa padaku. Aku diterima di perguruan tinggi negeri yang lumayan menjadi salah satu favorit se-Indonesia.
            Di perguruan tinggi, aku pun berjuang mati-matian untuk mendapatkan IP yang sebaik-baiknya. Aku masih terngiang kata-kata motivasi ibuku “Janganlah kamu berputus asa. Biarpun kamu cacat, tapi otakmu tidak cacat nak. Ingat itu! Allah itu Maha Adil.”
            Dan rasa kagum pada dek Nur yang dulu tersimpan di hati ini, kini sudah terjawab bahwa dia akan bertunangan dengan Zainul, teman sejak SDnya dulu. Dan aku, bertemu kembali dengan Thai’ah ketika sudah menjadi ahli sejarawan. Ketika bertemu, kami saling membicarakan kenangan lomba waktu dulu. Dan, satu yang dapat ku simpulkan “Find reasons grateful, then challenge yourself.” Artinya, temukanlah alasan bersyukur, kemudian tantanglah dirimu.
           

Tidak ada komentar: