“Saya terima nikahnya Buthaynah binti Adam dengan mas kawin sekian
dibayar tunai.” Terucap kalimat dengan suara lantang dan lancar oleh sang
pengusaha muda yakni Rafaat. “Bagaimana, sah?” Tanya penghulu kepada wali dan
para undangan. “Sah.” Jawab mereka serentak. “Alhamdulillah.”
Seketika bumi
menjadi saksi akan mulai terjalinnya ikatan yang sangat suci. Penuh janji, dan
penuh arti. Memaknai semua ini. Pelangi yang kian mewarnai hati, seakan tak
peduli dengan suka duka yang kian menanti.
Melewati hari yang
penuh dengan warna kehidupan. Bercumbu bersama, suka duka bersama, semua
dilewati dengan bersama. Menatap indah wajahnya yang seakan bisa meneduhkan
hati. Merangkulnya yang seakan bisa menggetarkan jiwa. Ya, itu semua membuat
dunia ini terasa sempurna.
“Alhamdulillah ya
mas. Akhirnya sekarang kita resmi menjadi sepasang suami istri.” Kata Ayna
memulai pembicaraan di kamarnya. “Iya Ayna. Mas sangat senang sekali.” Jawab
Rafa sambil menggenggam tangan Ayna.
Malam pertama yang
seakan menjadi kenangan manis dalam hidup. Menikah dengan seorang suami yang
mapan bak seorang pangeran tampan yang sangat kaya raya. Begitu pun sebaliknya,
menikah dengan seorang gadis cantik jelita. Namun di tengah kebahagiaannya ini,
Ayna harus sering-sering sabar menunggu suaminya ada di rumah. Maklum, seorang
eksekutif muda yang sangat sukses harus menyelesaikan urusan pekerjaannya di
luar kota, pulau, bahkan negeri. Ayna harus menanti suaminya yang pulang ke
rumah hanya dalam jangka waktu 5 hari dalam 3 bulan. Oh, betapa sangat rindunya
ia. Di tengah gedong rumahnya yang mewah, ia harus sendiri hanya menunggu suami
tercinta.
“Ayna, ma’afkan
mas. Lagi-lagi mas harus ke luar kota.” Kata Rafa, yang sedang dipakaikan dasi
oleh Ayna. “Ya sudahlah mas, tak apa. Harus bagaimana lagi? Tapi …..” Jawab
Ayna sambil mengelus wajah suaminya. “Tapi kenapa?” Tanya Rafa. “Aku ingin
mencari kesibukan dengan menjadi seorang wanita karier mas. Aku bosan di rumah
terus.” Kesal Ayna. “Sayang, dengarkan aku. Harta kita sudah banyak sekali.
Biarkan kita memberi peluang tersebut terhadap orang yang memang sangat
membutuhkannya. Kalau kamu bĂȘte, kamu bisa pergunakan uangku dalam ATM ini.”
Kata Rafa sambil menyodorkan ATMnya pada Ayna. “Terimakasih banyak, mas.” Kata
Ayna. “Sama-sama Ayna. Ya sudah, aku harus pergi dulu. Jaga baik-baik di rumah
ya sayang. Oya, tadi kamu bilang, kamu kesepian? Oke, aku akan kirim pengawal
untukmu.” Kata Rafa sambil mengecup dahi istrinya. “Iya mas. Hati-hati dijalan
ya.”
#####
Setelah 1 minggu
kemudian.
“Ma’af bu. Apakah ini
benar rumahnya Bapak Rafaat?” Tanya laki-laki yang berbadan suspect dan
berwajah serius. “Iya benar. Saya istrinya. Anda ini siapa ya? Silahkan masuk.”
Tanya Ayna. “Saya Jaffan. Saya dibayar oleh Pak Rafa untuk menjadi pengawal
ibu.” “24 jam?” “Ya.”
Setelah
ditunjukkan kamar untuk Jaffan, bodyguardnya Ayna, Ayna meminta untuk Jaffan
sendiri rehat sejenak di rumahnya.
“Ah, sial. Ko
beneran sih sampe ngirim bodyguard segala. Aku kan bukan anak kecil lagi.”
Gumam Ayna dalam hati.
#####
“Bu, hari ini mau
kemana?” Tanya Jaffan. “Aduh, risih banget sih.” Gumam Ayna dalam hati. “Aku
mau ketemu sama teman-teman lamaku. Mending kamu bersihin halaman rumah aja
sana.” “Ma’af bu. Tapi saya ini diperintahkan oleh Pak Rafa itu menjadi
pengawal ibu. Bukan jadi tukang kebun.” “Ya tapi kan sekarang suami saya lagi
gaada di rumah, berarti kamu harus nurut sama saya.” Kata Ayna dengan nada yang
nyolot. “Ma’af Bu. Sekali lagi, saya hanya dibayar untuk menjadi pengawal ibu.
Bukan untuk yang lainnya.” “Ahh. Terserah kamu lah. Cape saya.”
Setelah sampai di café,
“Kamu jangan ikut
turun dari mobil. Saya janji, saya bakal duduk di kursi luar sana. Biar kamu
juga bisa mantau saya dari mobil ini.” “Baik bu.”
Ayna pun keluar
mobil lalu menghampiri 2 orang laki-laki.
“Hey. Udah nunggu
lama ya sayang?” Tanya Ayna pada laki-laki yang berkulit putih itu sambil
bersalaman dilengkapi dengan cipika-cipiki. “Asy’ar. Ini siapa?” Lanjutnya. “Oh,
kenalin. Ini temanku, namanya Thomi.” Ayna dan Thomi pun bersalaman untuk
berkenalan. “Say, jalan yu?” Tawar Asy’ar pada Ayna. “Aduh, ma’afin say. Mobil
dibelakangku itu yang warnanya putih, disana ada bodyguardku.” Jawabnya kesal. “Hah?
Bodyguard? Hahahaa.” Kaget Asy’ar. “Gatau tuh. Suamiku yang kirim dia untukku.
Aku risih kalo lama-lama gitu.” “Yah, aku gabisa bebas lagi dong sama kamu.
Tiap detik kan aku selalu kangen kamu.” Rayu Asy’ar. “Ah, gombal kamu. Hahahaha
bisa aja. Tenang aja, aku bakal cari ide supaya kita bisa selalu ketemu. Never
say impossible but I am do it. Jangan katakan tidak mungkin tetapi
katakan aku sanggup. Hahahha.”
#####
[Say, kangen nih
pengen ketemu.] Asy’ar.
[Sama say. Aku
juga kangen nih. Cuman bodyguardnya itu loh yang terus buntutin aku.] Ayna.
[Aku punya ide.]
Asy’ar.
[Apaan say?] Ayna.
[Dia udah
berkeluarga? Punya anak?] Asy’ar.
[Udah. Punya 1
anak dia.] Ayna.
[Coba aku minta no
hp nya.] Asy’ar.
[Mau ngapain?]
Ayna.
[Udah, kirim aja
sini. Believe to yourself is more the enough. Kepercayaan diri
lebih dari cukup. Tenang aja say. Beres deh.] Asy’ar
Setelah Ayna
mengirim no hp Jaffan kepada Asy’ar lewat v-card, akhirnya dengan cara ngebujuk
yang entah bagaimana, akhirnya Jaffan meminta izin kepada Ayna.
“Bu, ma’af. Saya
meminta izin untuk malam ini dan esok
hari pulang ke kampung halaman. Istri saya menelepon katanya anak saya demam
tinggi bu.” Izin Jaffan pada Ayna. “Oh gitu. Ya sudah gapapa. Anakmu kan lebih
penting daripada saya. Oya ini ada sedikit uang untuk kamu pulang dan berobat
anakmu itu.” Kata Ayna. “Alhamdulillah, terimakasih banyak bu. Kalau begitu,
saya pamit bu. assalamu’alaikum.”
Ketika Jaffan
sudah pergi dari rumah mewahnya, akhirnya Ayna bisa bebas, dan Ayna pun
langsung sms pada Asy’ar untuk bisa ke rumahnya.
[Jaffan udah
gaada. Kamu aman.] Ayna.
[Aku OTW.] Asy’ar.
Setelah 8 menit
menunggu,
“Ko cepet banget
nyampenya sih say?” Tanya Ayna pada Asy’ar sambil cipika-cipiki. “Iya dong,
tadi aku abis jalan dulu bareng Thomi. Abis makan yang emang tempatnya gak jauh
dari sini.” Jawab Asy’ar sambil menoleh pada Thomi yang ada disampingnya. “Oh
gitu. Oya mau minum apa?” Tawar Ayna pada mereka berdua. “Biasa aja, say.
Orson.” Jawab Asy’ar. “Thomi?” Tanya Ayna. “Mmm, sama aja deh.” Jawab Thomi
dengan gaya cool nya.
Disamping Ayna
sedang pergi ke dapur, Asy’ar yang emang sering sekali ke rumahnya Ayna,
otomatis ia tahu semua letak bagian ruangan rumah tersebut. Asy’ar masuk ke
dalam kamarnya Ayna sambil langsung menyemprotkan sesuatu. Entah, apa benda itu
dan apa maksud tujuan benda itu.
“Ini orsonnya.
Silahkan diminum.” Kata Ayna. “Iya.” Kata Thomi sambil melihat foto-foto yang
terpajang di tembok dan di bupet. “Loh, Asy’ar nya mana?” Tanya Ayna. “Oh, dia
lagi ke belakang katanya. Oya, boleh ga kamu ajak aku keliling rumah ini? Aku
kagum nih sama rumah ini. Gede banget. Isinya apa aja?” “Hahahaha. Ada-ada aja
kamu. Boleh dong.”
Setelah Asy’ar
menyemprotkan cairan itu, lalu ia pun langsung bergegas ke ruang tamu yang
terdapat 3 orson disana. Ia memasukkan serbuk-serbuk semacam obat pada orson
bagian Ayna, sambil membaca komat-kamit.
Disamping itu,
ketika Ayna memperlihatkan kamar tidurnya, tampak Thomi menggenggam tangan
Ayna. Ayna pun kaget, dan seolah-olah ia merasakan hal yang berbeda.
Setelah kembali ke
ruang tamu,
“Wah, pantes ya
rumahnya segede ini. Isinya aja pada mahal semua. Hahahaha.” Kata Thomi. “Ah,
bisa aja kamu.” Kata Ayna yang tersipu malu. “Eh say, aku minum ya orsonnya.
Haus nih.” Kata Asy’ar. “Oh iya, iya. Silahkan. Aku juga jadi haus nih.
Gara-gara nganter Thomi keliling rumah. Haahahaha.” Kata Ayna.
Namun, reaksi yang
terjadi pada Ayna setelah meminum orson tersebut, ia langsung pergi ke
kamarnya. Ia kembali ke ruang tamu dengan pakaian yang sangat-sangat sexy.
Pakaian yang ketat, yang jauh lebih ketat daripada biasanya. Tiba-tiba ia
mendekati Thomi, dan merayu lalu membujuk Thomi supaya masuk ke dalam kamarnya.
#####
Keesokan harinya,
Ayna pun langsung bangun dan kaget dengan apa yang sudah dilakukannya. Ia tak
sadar, ketika malam itu sudah berbuat apa saja. Ia pun langsung pergi ke kamar mandi, untuk
membersihkan diri.
Setelah itu,
Jaffan pun datang dari kampung halamannya. Ia kaget. Karena, TV, guci, hiasan,
laptop, tab, i-pad, itu tidak ada. Jaffan pun langsung mencari Ayna.
Setelah Ayna
selesai membersihkan diri, ia langsung ingin bersantai-santai. Ia sangat ingin
untuk menonton TV.
“Bu, ko TV, guci,
hiasan, laptop, tab, i-pad gitu ga ada? Emang dipindahkan kemana?” Tanya
Jaffan. “Hah? Masa gak ada? Orang di tempatnya ko.” Kata Ayna dengan ekspresi
kaget. “Benar bu. Sungguh. Saya tidak berbohong.”
Di cek nya benda tersebut,
namun benar saja apa yang di katakana Jaffan itu benar.
“Loh, kemaren
malem masih ada ko.” “Hah? Emang ada maling bu?” Tanya Jaffan.
Tiba-tiba, jawaban
Ayna hanya mual-mual yang ingin keluar namun tak kunjung keluar. Jaffan pun
semakin merasakan keganjalan, karena berawal dari penelepon itu yang ternyata
palsu.
Sudah 15 hari,
Ayna mual-mual seperti itu. Dan perutnya pun terlihat semakin membuncit. Ia
menolak jika di ajak pergi ke dokter oleh Jaffan. Karena Jaffan pun mempunyai
tanggung jawab sebagai pengawal pribadinya Ayna, akhirnya ia menelepon pada
Rafa.
“Assalamu’alaikum
pak. Bu Ayna tampaknya lagi sakit. Sudah saya bujuk untuk pergi ke dokter,
namun tak mau saja pak. Mau panggil dokter pun dilarang pak. Bagaimana?” “Astaghfirullah.
Iya, sebenarnya saya juga lagi di jalan menuju pulang. Ya, sekitar 28 menitan
kira-kira saya sampe disana. Tolong terus jaga istri saya ya.” “Baik pak.” “Ya
sudah kalau begitu. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.”
#####
“Assalamu’alaikum.
Jaffan, gimana? Istri saya udah mendingan?” Tanya Rafa dengan sangat khawatir. “Tadi
saya lihat, Bu Ayna sedang tidur Pak.” Jawab Jaffan. “Yasudah, biarkan saja
lah.” Katanya agak tenang. “Oya, ini TV kemanain? Emang dipindahin kemana?”
Tanya Rafa. “Mmm, anu pak. Anu, mmm …..” Jawab Jaffan dengan gugup.
Tiba-tiba, suara
hp Ayna pun bordering,
[Makasih ya
sayang, atas semuanya. Barang-barang ini aku pinjem dulu. Kamu kan bisa minta
lagi ke suamimu.]
Rafa pun kaget, ia
langsung membacakannya dengan nyaring di depan Jaffan.
“Ma’af sekali
sebelumnya pak. Semenjak malem juga ada yang telpon saya, ia mengakunya sebagai
istri saya. Ia bilang, bahwa anak saya sedang sakit.” Jelas Jaffan. “Oh, untung
saya pasang CCTV di rumah ini, ayo kita lihat.”
Setelah semuanya
terbongkar, terdengar Ayna yang semakin muntah-muntah. Mereka berdua langsung
menghampirinya.
“Ayna, jawab
jujur. Kamu hamil?” Tanya Rafa.
Ayna pun kaget,
namun ia berfikir. Ia bisa memberikan alasan bahwa jabangbayi ini anaknya.
“Iya mas. Aku
hamil. Ini anakmu mas. Mas senang kan?” Tanya Ayna. “Bohong. Anak itu dari
perbuatan jinah kamu kan dengan orang lain? Kita tak akan mungkin mempunyai
keturunan karena aku sendiri mandul. Ingat Ayna, Discipline is a highest
esteem. Disiplin adalah harga diri paling tinggi.” Tegas Rafa. “Maksudnya
mas? Mas tega!” Bentak Ayna sambil berjalan keluar. “Apa? Kamu yang lebih tega,
karena kamu, …..” Tiba-tiba Rafa mengalami sesak nafas dan akhirnya pingsan. “Bu,
Bu Ayna. Jangan pergi Bu. Kasian Pak Rafa.” Kata Jaffan sambil mengetuk-ngetuk
pintu mobil.
Namun karena
terlalu agresifnya, akhirnya mobil itu pun menabrak Jaffan. Lalu, dengan
perasaannya yang sangat kacau. Ia pun turun dan langsung membawa keduanya ke
rumah sakit.
Setelah sampai,
entah mengapa perutnya mengalami sakit yang luar biasa, lalu pingsan. Dan
akhirnya ia pun dirawat disana juga.
Kurang lebih
sekitar 28 menit, akhirnya Ayna pun siuman.
“Bagaimana Bu,
sudah mendingan?” Tanya suster. “Alhamdulillah suster. Meski masih merasakan
perih dan nyeri yang campur aduk dibagian perut dan dibawahnya.” Jawab Ayna
merintih. “Memang demikian Bu. Karena ibu mengalami keguguran.” “Apa sus?
Keguguran? Astaghfirullah.” Tangis Ayna. “Iya Bu. Ma’afkan saya Bu. Memang
seharusnya berita ini disampaikan kepada orang yang menjaga ibu. Namun
tampaknya tak ada seorang pun yang menemani ibu.” “Iya, suami saya juga lagi di
rawat disini. Sus, saya boleh minta tolong?” “Silahkan bu.” “Antar saya ke
ruang suami saya.” “Baik bu.”
Setelah mereka
berdua sampai,
“Astaghfirullah.
Ma’afkan aku mas. Ayo mas bangun.” “Ma’af bu, bapak ini sedang mengalami koma.”
“Astaghfirullah. Oya sus, bagaimana keadaan seorang pasien yang bernama Jaffan
yang disebabkan kecelakaan?” “Oh, Pak Jaffan. Sekitar 28 menit yang lalu, pak
Jaffan meninggal dunia bu.” “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.”
#####
“Ya Allah, sadarku
dalam dosa. HambaMu yang penuh hina. Kau pun datang memelukku. Tuk kembali ke
jalanMu. Ku pasrahkan diri. Ku sandarkan hati. Tuk dapat ridhoMu. Ya Allah, ku
ikhlaskan air mata basahi seluruh jiwa dan ragaku. Sempurnakan ku dalam
ibadahku. Agar ku selalu jadi kekasihMu. Aamiin.” Do’anya ketika di dalam
mushola.
Dan ia pun
menyadari semua kesalahannya, dan bertobat dengan sepenuh hatinya. Yakni dengan
taubatan nasuha.