Kamis, 30 Januari 2014

Dan Aku Memilih Setia


Ketika itu, aku baru pertama kalinya merasakan sebuah rasa yang memang sulit untuk ku ungkapkan. Entah itu perasaan senang, perasaan sedih, gundah, gelisah. Tak tahu. Semuanya aku tak tahu tentang rasa itu.
            Ketika itu aku sedang menyukai seorang lelaki. Namanya sama seperti malaikat, dan tak jauh hatinya pun sama seperti malaikat di hidupku. Semuanya berawal ketika ia sudah terlalu sering menolongku ketika aku terkena musibah. Seketika saja ia selalu datang disaat aku sedang membutuhkan bantuan orang lain. Ia datang untukku di saat yang tepat.
            Namun satu yang sangat ku sayangkan. Ia tak pernah sekali PEKA dalam perasaanku ini. Aku selalu menunggu, kapan ia datang kepadaku? Namun, ia tak kunjung datang padaku. Akhirnya aku pun lelah untuk menanti. Aku membulatkan tekadku dengan langkah MOVE-ON. Memang, awalnya cukup sulit. Namun jika niat itu memang masih mengikat hati, insha Allah selalu bisa.
*****
Sudah 3 tahun, aku berkuliah di perguruan tinggi negeri. Kebetulan aku mengambil jurusan sastra arab disana. Keluargaku memang menuntut aku untuk menjadi seorang wanita yang memang benar-benar mendalami Islam secara detail. Tak hanya itu, terkadang orangtuaku menuntut aku bisa berbahasa asing. Minimal bahasa arab, dan bahasa inggris. Dan disamping itu, aku pun mempunyai minat dan didukung oleh bakat.
Ketika aku sudah bisa melakukan move-on selama 5 bulan, tak ku sangka dan ku duga, akhirnya Ridwan tiba-tiba datang kembali kepadaku. Awalnya memang dengan mengajak ngobrol biasa, namun setelah itu semakin dekat dan semakin dekat. Dan akhirnya, rasa yang dulu pernah ada perlahan muncul kembali.
Ketika setiap pulang aku selalu memunculkan wajah yang sangat riang, ummiku dan abiku pun terheran-heran melihat anak satu-satunya ini seperti sedang mengalami kasmaran.
“Abi, kayaknya ada yang lagi kasmaran ya?” Sindir ummi dengan agak keras pada abi.
“Aduh, siapa sih yang berani menggetarkan hati anak kita satu-satunya ini mi? Abi penasaran.” Kata abi membalas sindiran ummi.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka dan langsung menuju ke kamarku. Namun ternyata, ummiku dan abiku ini datang menghampiri ke kamarku. Aku pun mempersilahkan mereka untuk memasuki kamarku.
“Sayang, siapa sih ikhwan itu?” Tanya ummi seketika sambil tersenyum-senyum.
Aku pun kaget, kenapa ummi dan abi tiba-tiba bisa menanyakan seperti ini.
“Ummi Wujhah ku yang paling soleha, abi Dzul ku yang paling soleh,” Kataku sambil mencium kedua telapak tangan mereka.
“Mahbubah tak apa, ummi, abi. Sungguh. Dan yang ummi maksud, ikhwan itu pun ….” Lanjutku dengan tersipu malu sambil menggelengkan kepala.
“Ah masa? Boong ya?” Tanya abi menggodaku.
“Aahhh, sudahlah. Pasti bakal panjang nih perbincangan. Kita makan aja yuk. Mahbubah laper nih.”
Terlihat ummi dan abi yang saling berpandangan sambil tersenyum. Tak ada reaksi untuk beranjak dari kasur tempat tidurku.
“Ayo, ummi, abi.” Manjaku sambil menarik lengan mereka.
*****
“Mahbubah, boleh gak aku main ke rumahmu?”
“Ya, boleh saja sih sebenernya. Tapi, tapi …..”
“Tapi kenapa?”
“Aku malu.”
“Kamu malu kalo aku datang ke rumahmu?”
“Bukan itu maksudnya. Tapi aku suka malu kalo aku bawa laki-laki ke rumah.”
“Ya ampun. Aku kan teman kamu, sahabat kamu. Lagian malu sama siapa?”
“Iya. Mau itu teman, sahabat, calon suami. Tapi aku malu. Aku malu sama orangtuaku.”
“Hah? Malu sama orangtua?”
“Iya. Dari kecil, aku selalu diasupi pengetahuan agama yang cukup kuat. Jadi, inilah sudah menjadi budaya dalam hidupku.”
“Oh gitu ya. Yowis deh kapan-kapan aja ya.”
“Iya. Ditunggu.”
*****
Esoknya, aku menemukan sepucuk surat beramplopkan warna hitam di atas mejaku. Aku pun melihat ke sekeliling kelas, tak ada orang. Aku mencoba untuk melihat apa isi surat itu.
Ketika surat itu ku baca. Sungguh, aku tak kuat menerima kenyataan ini. Rasanya ingin ku menjerit sekeras-kerasnya. Tak sadar, akhirnya buliran air mataku pun perlahan jatuh membasahi pipi kanan, lalu pipi kiriku.
“Ya Allah, bagaimana aku menunjukkan surat ini kepada orangtua ku?”
*****
[Assalamu’alaikum Mahbubah, kamu udah baca surat yang ada di meja kamu kan?] Ridwan.
[Wa’alaikumsalam. Iya sudah.] Mahbubah.
[Ma’af, aku tak bisa mengungkapkan perasaan itu kepadamu secara langsung. Sekarang, aku sedang sibuk mempersiapkan lomba yang akan diadakan di kampus kita yang tercinta ini. Aku hanya bisa mengungkapkan lewat media. Sekali lagi aku mencintaimu, aku menyayangimu, Mahbubah. Ingin sekali rasanya kau selalu berada dalam dekapanku.] Ridwan.
Melihat sms itu, jemari ku pun seolah mati, tak bisa bergerak. Fikiran ku pun stak, entah harus menjawab apa.
*****
“Assalamu’alaikum, ummi, abi.” Salamku masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka.
Seperti biasanya aku selalu mencium kedua telapak tangan oramgtuaku. Namun ketika itu, sedikit aku mengalami perbedaan. Kenapa? Karena aku tak riang lagi seperti biasanya. Aku pun langsung memasuki kamarku.
Melihat tingkah laku aneh ku yang jarang ini, akhirnya ummi ku seorang diri menghampiri ke kamarku.
“Mahbubah, boleh ummi masuk?”
“Ya, boleh ummi.”
“Kenapa sayang? Ko Mahbubah agak beda ya dari biasanya?”
Aku pun menyerahkan surat dari Ridwan itu kepada ummiku. Dan ummi ku pun langsung membacanya.
Namun tiba-tiba, abi ku pun datang menghampiri kami. Dan abi ku pun langsung tertuju pada surat yang sedang dibaca oleh ummi ku.
“Astahhfirullah al’adziim. Mahbubah, apa-apaan ini?” Bentak abi ku.
Aku pun menunduk, tak berani untuk menjawab.
“Kamu di didik dari kecil, lalu ini ujung-ujungnya. Abi dan ummi tak pernah mengajarimu untuk berbuat khianat nak. Siapa nama anak lelaki itu?”
“Abi, sudahlah. Inget abi. Discipline starts from mastery of the content of the mind. Disiplin dimulai dari penguasaan isi pikiran.”
Lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk. Dan terlihat ummi ku yang sedang menenangkan hati abi ku.
“Jawab Mahbubah!!” Bentak abi ku sampai aku pun terperanjat.
“Ayo sayang, jawab. Jangan takut, ayo nak.” Kata ummi ku.
“Namanya Ridwan, ummi, abi.” Kataku sambil terus menunduk.
“kapan dia menjadi seorang muallaf?”
“Kurang lebih 5 bulan ke belakang, abi.” Jawabku.
“Nah, itu baru 5 bulan. Pengetahuan tentang agamanya pun pasti masih seumur jagung. Masih belum luas. Ya sudah, mungkin ini keputusan yang tepat. Pokoknya, kamu akan abi jodohkan sama anak shahib abi. Namanya Fakhir. Dia seorang duta luar negeri di Negara Cordoba. Keluarganya, termasuk dianya seorang yang fanatic dalam agama. Sama seperti kita.”
“Ma’af abi, izin berbicara.”
“Silahkan.”
“Sebelumnya, Mahbubah hanya ingin meluruskan apa yang tadi dikatakan oleh abi. Memang, Ridwan itu seorang muallaf. Memang, baru 5 bulan kemaren. Tapi, Mahbubah yakin ia sudah sangat mendalami agama kita, abi. Dia saja sudah berani untuk mengajak menikah denganku, abi.”
“Apa kamu bilang? Dia itu hanya mengungkapkan di surat ini. Sesibuk apapun dia, kalau dia sudah sangat mendalami agama kita, harusnya dia langsung datang ke rumah ini, langsung ngomong di depan abi dan ummi.”
“Ma’af abi. Tapi apakah Fakhir juga demikian? Apakah Fakhir mau menjadi suamiku?”
“Aahh..Sudahlah. Yang terpenting, abi setuju kalau kamu hanya menikah dengan Fakhir.”
Abi pun pergi, lalu ummi ku mendekat ke arahku dan mengusap kepalaku.
“Sabar ya nak. Pasti jodoh itu ada di tangan Tuhan. Namun, kita fikirkan juga tentang masa depan kita. Proceed your actions positively. Lakukan tindakanmu secara positif, nak.”
*****
Esoknya, aku membicarakan tragedy kemarin pada Ridwan.
“Begitu ceritanya.” Kataku tak bersemangat sambil menunduk.
“Ya sudah. Mungkin memang benar, pengetahuan agamaku memang masih seumur jagung. Masih sangat sedikit. Aku sadar, no perfect man without trial. Tak ada manusia yang sempurna tanpa cobaan. Namun, ada suatu hal yang perlu kamu ingat Mahbubah. Aku mencintaimu karena Allah. Aku menyayangimu karena Allah. Sungguh, cintaku ini padamu adalah cinta pertama bagiku. Aku merasakan getaran ini ketika aku mendengar lantunan suaramu yang sedang mengaji. Dan setelah itu, aku pun membulatkan tekadku untuk menjadi seorang muallaf.”
Aku hanya bisa menunduk. Tak tahu harus menjawab apa. Yang pasti, hatiku pun tergetar jiwaku pun merinding saat Ridwan membicarakan soal itu.
*****
3 bulan sudah, akhirnya Fakhir meminangku. Di satu sisi, aku juga mencintai dan menyayangi Fakhir. Disamping karena untuk membahagiakan orangtuaku, menurutku Fakhir memang sama sepertiku. Keluarga Fakhir, sama seperti keluargaku. Gayanya yang sederhana, namun sangat istimewa. Dia mampu bertekad demi siapa saja yang ia cintainya. Suami sholeh yang ku idamkan, mungkin ia jawaban yang tepat.
Namun, di sisi yang lain. Aku pun belum bisa lagi move-on terhadap Ridwan semenjak mengutarakan akan menikahiku. Masih ada serpihan bayangan yang melekat dalam fikiranku. Karena, perjuangan selama ini ketika sudah muallaf yang menjadi senyum lebarku.

Tidak ada komentar: