Kamis, 30 Januari 2014

Kembali Ke JalanMu


“Saya terima nikahnya Buthaynah binti Adam dengan mas kawin sekian dibayar tunai.” Terucap kalimat dengan suara lantang dan lancar oleh sang pengusaha muda yakni Rafaat. “Bagaimana, sah?” Tanya penghulu kepada wali dan para undangan. “Sah.” Jawab mereka serentak. “Alhamdulillah.”
            Seketika bumi menjadi saksi akan mulai terjalinnya ikatan yang sangat suci. Penuh janji, dan penuh arti. Memaknai semua ini. Pelangi yang kian mewarnai hati, seakan tak peduli dengan suka duka yang kian menanti.
            Melewati hari yang penuh dengan warna kehidupan. Bercumbu bersama, suka duka bersama, semua dilewati dengan bersama. Menatap indah wajahnya yang seakan bisa meneduhkan hati. Merangkulnya yang seakan bisa menggetarkan jiwa. Ya, itu semua membuat dunia ini terasa sempurna.
            “Alhamdulillah ya mas. Akhirnya sekarang kita resmi menjadi sepasang suami istri.” Kata Ayna memulai pembicaraan di kamarnya. “Iya Ayna. Mas sangat senang sekali.” Jawab Rafa sambil menggenggam tangan Ayna.
            Malam pertama yang seakan menjadi kenangan manis dalam hidup. Menikah dengan seorang suami yang mapan bak seorang pangeran tampan yang sangat kaya raya. Begitu pun sebaliknya, menikah dengan seorang gadis cantik jelita. Namun di tengah kebahagiaannya ini, Ayna harus sering-sering sabar menunggu suaminya ada di rumah. Maklum, seorang eksekutif muda yang sangat sukses harus menyelesaikan urusan pekerjaannya di luar kota, pulau, bahkan negeri. Ayna harus menanti suaminya yang pulang ke rumah hanya dalam jangka waktu 5 hari dalam 3 bulan. Oh, betapa sangat rindunya ia. Di tengah gedong rumahnya yang mewah, ia harus sendiri hanya menunggu suami tercinta.
            “Ayna, ma’afkan mas. Lagi-lagi mas harus ke luar kota.” Kata Rafa, yang sedang dipakaikan dasi oleh Ayna. “Ya sudahlah mas, tak apa. Harus bagaimana lagi? Tapi …..” Jawab Ayna sambil mengelus wajah suaminya. “Tapi kenapa?” Tanya Rafa. “Aku ingin mencari kesibukan dengan menjadi seorang wanita karier mas. Aku bosan di rumah terus.” Kesal Ayna. “Sayang, dengarkan aku. Harta kita sudah banyak sekali. Biarkan kita memberi peluang tersebut terhadap orang yang memang sangat membutuhkannya. Kalau kamu bĂȘte, kamu bisa pergunakan uangku dalam ATM ini.” Kata Rafa sambil menyodorkan ATMnya pada Ayna. “Terimakasih banyak, mas.” Kata Ayna. “Sama-sama Ayna. Ya sudah, aku harus pergi dulu. Jaga baik-baik di rumah ya sayang. Oya, tadi kamu bilang, kamu kesepian? Oke, aku akan kirim pengawal untukmu.” Kata Rafa sambil mengecup dahi istrinya. “Iya mas. Hati-hati dijalan ya.”
#####
            Setelah 1 minggu kemudian.
            “Ma’af bu. Apakah ini benar rumahnya Bapak Rafaat?” Tanya laki-laki yang berbadan suspect dan berwajah serius. “Iya benar. Saya istrinya. Anda ini siapa ya? Silahkan masuk.” Tanya Ayna. “Saya Jaffan. Saya dibayar oleh Pak Rafa untuk menjadi pengawal ibu.” “24 jam?” “Ya.”
            Setelah ditunjukkan kamar untuk Jaffan, bodyguardnya Ayna, Ayna meminta untuk Jaffan sendiri rehat sejenak di rumahnya.
            “Ah, sial. Ko beneran sih sampe ngirim bodyguard segala. Aku kan bukan anak kecil lagi.” Gumam Ayna dalam hati.
#####
            “Bu, hari ini mau kemana?” Tanya Jaffan. “Aduh, risih banget sih.” Gumam Ayna dalam hati. “Aku mau ketemu sama teman-teman lamaku. Mending kamu bersihin halaman rumah aja sana.” “Ma’af bu. Tapi saya ini diperintahkan oleh Pak Rafa itu menjadi pengawal ibu. Bukan jadi tukang kebun.” “Ya tapi kan sekarang suami saya lagi gaada di rumah, berarti kamu harus nurut sama saya.” Kata Ayna dengan nada yang nyolot. “Ma’af Bu. Sekali lagi, saya hanya dibayar untuk menjadi pengawal ibu. Bukan untuk yang lainnya.” “Ahh. Terserah kamu lah. Cape saya.”
Setelah sampai di café,
            “Kamu jangan ikut turun dari mobil. Saya janji, saya bakal duduk di kursi luar sana. Biar kamu juga bisa mantau saya dari mobil ini.” “Baik bu.”
            Ayna pun keluar mobil lalu menghampiri 2 orang laki-laki.
            “Hey. Udah nunggu lama ya sayang?” Tanya Ayna pada laki-laki yang berkulit putih itu sambil bersalaman dilengkapi dengan cipika-cipiki. “Asy’ar. Ini siapa?” Lanjutnya. “Oh, kenalin. Ini temanku, namanya Thomi.” Ayna dan Thomi pun bersalaman untuk berkenalan. “Say, jalan yu?” Tawar Asy’ar pada Ayna. “Aduh, ma’afin say. Mobil dibelakangku itu yang warnanya putih, disana ada bodyguardku.” Jawabnya kesal. “Hah? Bodyguard? Hahahaa.” Kaget Asy’ar. “Gatau tuh. Suamiku yang kirim dia untukku. Aku risih kalo lama-lama gitu.” “Yah, aku gabisa bebas lagi dong sama kamu. Tiap detik kan aku selalu kangen kamu.” Rayu Asy’ar. “Ah, gombal kamu. Hahahaha bisa aja. Tenang aja, aku bakal cari ide supaya kita bisa selalu ketemu. Never say impossible but I am do it. Jangan katakan tidak mungkin tetapi katakan aku sanggup. Hahahha.”
#####
            [Say, kangen nih pengen ketemu.] Asy’ar.
            [Sama say. Aku juga kangen nih. Cuman bodyguardnya itu loh yang terus buntutin aku.] Ayna.
            [Aku punya ide.] Asy’ar.
            [Apaan say?] Ayna.
            [Dia udah berkeluarga? Punya anak?] Asy’ar.
            [Udah. Punya 1 anak dia.] Ayna.
            [Coba aku minta no hp nya.] Asy’ar.
            [Mau ngapain?] Ayna.
            [Udah, kirim aja sini. Believe to yourself is more the enough. Kepercayaan diri lebih dari cukup. Tenang aja say. Beres deh.] Asy’ar
            Setelah Ayna mengirim no hp Jaffan kepada Asy’ar lewat v-card, akhirnya dengan cara ngebujuk yang entah bagaimana, akhirnya Jaffan meminta izin kepada Ayna.
            “Bu, ma’af. Saya meminta izin untuk malam  ini dan esok hari pulang ke kampung halaman. Istri saya menelepon katanya anak saya demam tinggi bu.” Izin Jaffan pada Ayna. “Oh gitu. Ya sudah gapapa. Anakmu kan lebih penting daripada saya. Oya ini ada sedikit uang untuk kamu pulang dan berobat anakmu itu.” Kata Ayna. “Alhamdulillah, terimakasih banyak bu. Kalau begitu, saya pamit bu. assalamu’alaikum.”
            Ketika Jaffan sudah pergi dari rumah mewahnya, akhirnya Ayna bisa bebas, dan Ayna pun langsung sms pada Asy’ar untuk bisa ke rumahnya.
            [Jaffan udah gaada. Kamu aman.] Ayna.
            [Aku OTW.] Asy’ar.
            Setelah 8 menit menunggu,
            “Ko cepet banget nyampenya sih say?” Tanya Ayna pada Asy’ar sambil cipika-cipiki. “Iya dong, tadi aku abis jalan dulu bareng Thomi. Abis makan yang emang tempatnya gak jauh dari sini.” Jawab Asy’ar sambil menoleh pada Thomi yang ada disampingnya. “Oh gitu. Oya mau minum apa?” Tawar Ayna pada mereka berdua. “Biasa aja, say. Orson.” Jawab Asy’ar. “Thomi?” Tanya Ayna. “Mmm, sama aja deh.” Jawab Thomi dengan gaya cool nya.
            Disamping Ayna sedang pergi ke dapur, Asy’ar yang emang sering sekali ke rumahnya Ayna, otomatis ia tahu semua letak bagian ruangan rumah tersebut. Asy’ar masuk ke dalam kamarnya Ayna sambil langsung menyemprotkan sesuatu. Entah, apa benda itu dan apa maksud tujuan benda itu.
            “Ini orsonnya. Silahkan diminum.” Kata Ayna. “Iya.” Kata Thomi sambil melihat foto-foto yang terpajang di tembok dan di bupet. “Loh, Asy’ar nya mana?” Tanya Ayna. “Oh, dia lagi ke belakang katanya. Oya, boleh ga kamu ajak aku keliling rumah ini? Aku kagum nih sama rumah ini. Gede banget. Isinya apa aja?” “Hahahaha. Ada-ada aja kamu. Boleh dong.”
            Setelah Asy’ar menyemprotkan cairan itu, lalu ia pun langsung bergegas ke ruang tamu yang terdapat 3 orson disana. Ia memasukkan serbuk-serbuk semacam obat pada orson bagian Ayna, sambil membaca komat-kamit.
            Disamping itu, ketika Ayna memperlihatkan kamar tidurnya, tampak Thomi menggenggam tangan Ayna. Ayna pun kaget, dan seolah-olah ia merasakan hal yang berbeda.
            Setelah kembali ke ruang tamu,
            “Wah, pantes ya rumahnya segede ini. Isinya aja pada mahal semua. Hahahaha.” Kata Thomi. “Ah, bisa aja kamu.” Kata Ayna yang tersipu malu. “Eh say, aku minum ya orsonnya. Haus nih.” Kata Asy’ar. “Oh iya, iya. Silahkan. Aku juga jadi haus nih. Gara-gara nganter Thomi keliling rumah. Haahahaha.” Kata Ayna.
            Namun, reaksi yang terjadi pada Ayna setelah meminum orson tersebut, ia langsung pergi ke kamarnya. Ia kembali ke ruang tamu dengan pakaian yang sangat-sangat sexy. Pakaian yang ketat, yang jauh lebih ketat daripada biasanya. Tiba-tiba ia mendekati Thomi, dan merayu lalu membujuk Thomi supaya masuk ke dalam kamarnya.
#####
            Keesokan harinya, Ayna pun langsung bangun dan kaget dengan apa yang sudah dilakukannya. Ia tak sadar, ketika malam itu sudah berbuat apa saja. Ia pun  langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
            Setelah itu, Jaffan pun datang dari kampung halamannya. Ia kaget. Karena, TV, guci, hiasan, laptop, tab, i-pad, itu tidak ada. Jaffan pun langsung mencari Ayna.
            Setelah Ayna selesai membersihkan diri, ia langsung ingin bersantai-santai. Ia sangat ingin untuk menonton TV.
            “Bu, ko TV, guci, hiasan, laptop, tab, i-pad gitu ga ada? Emang dipindahkan kemana?” Tanya Jaffan. “Hah? Masa gak ada? Orang di tempatnya ko.” Kata Ayna dengan ekspresi kaget. “Benar bu. Sungguh. Saya tidak berbohong.”
            Di cek nya benda tersebut, namun benar saja apa yang di katakana Jaffan itu benar.
            “Loh, kemaren malem masih ada ko.” “Hah? Emang ada maling bu?” Tanya Jaffan.
            Tiba-tiba, jawaban Ayna hanya mual-mual yang ingin keluar namun tak kunjung keluar. Jaffan pun semakin merasakan keganjalan, karena berawal dari penelepon itu yang ternyata palsu.
            Sudah 15 hari, Ayna mual-mual seperti itu. Dan perutnya pun terlihat semakin membuncit. Ia menolak jika di ajak pergi ke dokter oleh Jaffan. Karena Jaffan pun mempunyai tanggung jawab sebagai pengawal pribadinya Ayna, akhirnya ia menelepon pada Rafa.
            “Assalamu’alaikum pak. Bu Ayna tampaknya lagi sakit. Sudah saya bujuk untuk pergi ke dokter, namun tak mau saja pak. Mau panggil dokter pun dilarang pak. Bagaimana?” “Astaghfirullah. Iya, sebenarnya saya juga lagi di jalan menuju pulang. Ya, sekitar 28 menitan kira-kira saya sampe disana. Tolong terus jaga istri saya ya.” “Baik pak.” “Ya sudah kalau begitu. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.”
#####
            “Assalamu’alaikum. Jaffan, gimana? Istri saya udah mendingan?” Tanya Rafa dengan sangat khawatir. “Tadi saya lihat, Bu Ayna sedang tidur Pak.” Jawab Jaffan. “Yasudah, biarkan saja lah.” Katanya agak tenang. “Oya, ini TV kemanain? Emang dipindahin kemana?” Tanya Rafa. “Mmm, anu pak. Anu, mmm …..” Jawab Jaffan dengan gugup.
            Tiba-tiba, suara hp Ayna pun bordering,
            [Makasih ya sayang, atas semuanya. Barang-barang ini aku pinjem dulu. Kamu kan bisa minta lagi ke suamimu.]
            Rafa pun kaget, ia langsung membacakannya dengan nyaring di depan Jaffan.
            “Ma’af sekali sebelumnya pak. Semenjak malem juga ada yang telpon saya, ia mengakunya sebagai istri saya. Ia bilang, bahwa anak saya sedang sakit.” Jelas Jaffan. “Oh, untung saya pasang CCTV di rumah ini, ayo kita lihat.”
            Setelah semuanya terbongkar, terdengar Ayna yang semakin muntah-muntah. Mereka berdua langsung menghampirinya.
            “Ayna, jawab jujur. Kamu hamil?” Tanya Rafa.
            Ayna pun kaget, namun ia berfikir. Ia bisa memberikan alasan bahwa jabangbayi ini anaknya.
            “Iya mas. Aku hamil. Ini anakmu mas. Mas senang kan?” Tanya Ayna. “Bohong. Anak itu dari perbuatan jinah kamu kan dengan orang lain? Kita tak akan mungkin mempunyai keturunan karena aku sendiri mandul. Ingat Ayna, Discipline is a highest esteem. Disiplin adalah harga diri paling tinggi.” Tegas Rafa. “Maksudnya mas? Mas tega!” Bentak Ayna sambil berjalan keluar. “Apa? Kamu yang lebih tega, karena kamu, …..” Tiba-tiba Rafa mengalami sesak nafas dan akhirnya pingsan. “Bu, Bu Ayna. Jangan pergi Bu. Kasian Pak Rafa.” Kata Jaffan sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil.
            Namun karena terlalu agresifnya, akhirnya mobil itu pun menabrak Jaffan. Lalu, dengan perasaannya yang sangat kacau. Ia pun turun dan langsung membawa keduanya ke rumah sakit.
            Setelah sampai, entah mengapa perutnya mengalami sakit yang luar biasa, lalu pingsan. Dan akhirnya ia pun dirawat disana juga.
            Kurang lebih sekitar 28 menit, akhirnya Ayna pun siuman.
            “Bagaimana Bu, sudah mendingan?” Tanya suster. “Alhamdulillah suster. Meski masih merasakan perih dan nyeri yang campur aduk dibagian perut dan dibawahnya.” Jawab Ayna merintih. “Memang demikian Bu. Karena ibu mengalami keguguran.” “Apa sus? Keguguran? Astaghfirullah.” Tangis Ayna. “Iya Bu. Ma’afkan saya Bu. Memang seharusnya berita ini disampaikan kepada orang yang menjaga ibu. Namun tampaknya tak ada seorang pun yang menemani ibu.” “Iya, suami saya juga lagi di rawat disini. Sus, saya boleh minta tolong?” “Silahkan bu.” “Antar saya ke ruang suami saya.” “Baik bu.”
            Setelah mereka berdua sampai,
            “Astaghfirullah. Ma’afkan aku mas. Ayo mas bangun.” “Ma’af bu, bapak ini sedang mengalami koma.” “Astaghfirullah. Oya sus, bagaimana keadaan seorang pasien yang bernama Jaffan yang disebabkan kecelakaan?” “Oh, Pak Jaffan. Sekitar 28 menit yang lalu, pak Jaffan meninggal dunia bu.” “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.”
#####
            “Ya Allah, sadarku dalam dosa. HambaMu yang penuh hina. Kau pun datang memelukku. Tuk kembali ke jalanMu. Ku pasrahkan diri. Ku sandarkan hati. Tuk dapat ridhoMu. Ya Allah, ku ikhlaskan air mata basahi seluruh jiwa dan ragaku. Sempurnakan ku dalam ibadahku. Agar ku selalu jadi kekasihMu. Aamiin.” Do’anya ketika di dalam mushola.
            Dan ia pun menyadari semua kesalahannya, dan bertobat dengan sepenuh hatinya. Yakni dengan taubatan nasuha.

Dan Aku Memilih Setia


Ketika itu, aku baru pertama kalinya merasakan sebuah rasa yang memang sulit untuk ku ungkapkan. Entah itu perasaan senang, perasaan sedih, gundah, gelisah. Tak tahu. Semuanya aku tak tahu tentang rasa itu.
            Ketika itu aku sedang menyukai seorang lelaki. Namanya sama seperti malaikat, dan tak jauh hatinya pun sama seperti malaikat di hidupku. Semuanya berawal ketika ia sudah terlalu sering menolongku ketika aku terkena musibah. Seketika saja ia selalu datang disaat aku sedang membutuhkan bantuan orang lain. Ia datang untukku di saat yang tepat.
            Namun satu yang sangat ku sayangkan. Ia tak pernah sekali PEKA dalam perasaanku ini. Aku selalu menunggu, kapan ia datang kepadaku? Namun, ia tak kunjung datang padaku. Akhirnya aku pun lelah untuk menanti. Aku membulatkan tekadku dengan langkah MOVE-ON. Memang, awalnya cukup sulit. Namun jika niat itu memang masih mengikat hati, insha Allah selalu bisa.
*****
Sudah 3 tahun, aku berkuliah di perguruan tinggi negeri. Kebetulan aku mengambil jurusan sastra arab disana. Keluargaku memang menuntut aku untuk menjadi seorang wanita yang memang benar-benar mendalami Islam secara detail. Tak hanya itu, terkadang orangtuaku menuntut aku bisa berbahasa asing. Minimal bahasa arab, dan bahasa inggris. Dan disamping itu, aku pun mempunyai minat dan didukung oleh bakat.
Ketika aku sudah bisa melakukan move-on selama 5 bulan, tak ku sangka dan ku duga, akhirnya Ridwan tiba-tiba datang kembali kepadaku. Awalnya memang dengan mengajak ngobrol biasa, namun setelah itu semakin dekat dan semakin dekat. Dan akhirnya, rasa yang dulu pernah ada perlahan muncul kembali.
Ketika setiap pulang aku selalu memunculkan wajah yang sangat riang, ummiku dan abiku pun terheran-heran melihat anak satu-satunya ini seperti sedang mengalami kasmaran.
“Abi, kayaknya ada yang lagi kasmaran ya?” Sindir ummi dengan agak keras pada abi.
“Aduh, siapa sih yang berani menggetarkan hati anak kita satu-satunya ini mi? Abi penasaran.” Kata abi membalas sindiran ummi.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka dan langsung menuju ke kamarku. Namun ternyata, ummiku dan abiku ini datang menghampiri ke kamarku. Aku pun mempersilahkan mereka untuk memasuki kamarku.
“Sayang, siapa sih ikhwan itu?” Tanya ummi seketika sambil tersenyum-senyum.
Aku pun kaget, kenapa ummi dan abi tiba-tiba bisa menanyakan seperti ini.
“Ummi Wujhah ku yang paling soleha, abi Dzul ku yang paling soleh,” Kataku sambil mencium kedua telapak tangan mereka.
“Mahbubah tak apa, ummi, abi. Sungguh. Dan yang ummi maksud, ikhwan itu pun ….” Lanjutku dengan tersipu malu sambil menggelengkan kepala.
“Ah masa? Boong ya?” Tanya abi menggodaku.
“Aahhh, sudahlah. Pasti bakal panjang nih perbincangan. Kita makan aja yuk. Mahbubah laper nih.”
Terlihat ummi dan abi yang saling berpandangan sambil tersenyum. Tak ada reaksi untuk beranjak dari kasur tempat tidurku.
“Ayo, ummi, abi.” Manjaku sambil menarik lengan mereka.
*****
“Mahbubah, boleh gak aku main ke rumahmu?”
“Ya, boleh saja sih sebenernya. Tapi, tapi …..”
“Tapi kenapa?”
“Aku malu.”
“Kamu malu kalo aku datang ke rumahmu?”
“Bukan itu maksudnya. Tapi aku suka malu kalo aku bawa laki-laki ke rumah.”
“Ya ampun. Aku kan teman kamu, sahabat kamu. Lagian malu sama siapa?”
“Iya. Mau itu teman, sahabat, calon suami. Tapi aku malu. Aku malu sama orangtuaku.”
“Hah? Malu sama orangtua?”
“Iya. Dari kecil, aku selalu diasupi pengetahuan agama yang cukup kuat. Jadi, inilah sudah menjadi budaya dalam hidupku.”
“Oh gitu ya. Yowis deh kapan-kapan aja ya.”
“Iya. Ditunggu.”
*****
Esoknya, aku menemukan sepucuk surat beramplopkan warna hitam di atas mejaku. Aku pun melihat ke sekeliling kelas, tak ada orang. Aku mencoba untuk melihat apa isi surat itu.
Ketika surat itu ku baca. Sungguh, aku tak kuat menerima kenyataan ini. Rasanya ingin ku menjerit sekeras-kerasnya. Tak sadar, akhirnya buliran air mataku pun perlahan jatuh membasahi pipi kanan, lalu pipi kiriku.
“Ya Allah, bagaimana aku menunjukkan surat ini kepada orangtua ku?”
*****
[Assalamu’alaikum Mahbubah, kamu udah baca surat yang ada di meja kamu kan?] Ridwan.
[Wa’alaikumsalam. Iya sudah.] Mahbubah.
[Ma’af, aku tak bisa mengungkapkan perasaan itu kepadamu secara langsung. Sekarang, aku sedang sibuk mempersiapkan lomba yang akan diadakan di kampus kita yang tercinta ini. Aku hanya bisa mengungkapkan lewat media. Sekali lagi aku mencintaimu, aku menyayangimu, Mahbubah. Ingin sekali rasanya kau selalu berada dalam dekapanku.] Ridwan.
Melihat sms itu, jemari ku pun seolah mati, tak bisa bergerak. Fikiran ku pun stak, entah harus menjawab apa.
*****
“Assalamu’alaikum, ummi, abi.” Salamku masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka.
Seperti biasanya aku selalu mencium kedua telapak tangan oramgtuaku. Namun ketika itu, sedikit aku mengalami perbedaan. Kenapa? Karena aku tak riang lagi seperti biasanya. Aku pun langsung memasuki kamarku.
Melihat tingkah laku aneh ku yang jarang ini, akhirnya ummi ku seorang diri menghampiri ke kamarku.
“Mahbubah, boleh ummi masuk?”
“Ya, boleh ummi.”
“Kenapa sayang? Ko Mahbubah agak beda ya dari biasanya?”
Aku pun menyerahkan surat dari Ridwan itu kepada ummiku. Dan ummi ku pun langsung membacanya.
Namun tiba-tiba, abi ku pun datang menghampiri kami. Dan abi ku pun langsung tertuju pada surat yang sedang dibaca oleh ummi ku.
“Astahhfirullah al’adziim. Mahbubah, apa-apaan ini?” Bentak abi ku.
Aku pun menunduk, tak berani untuk menjawab.
“Kamu di didik dari kecil, lalu ini ujung-ujungnya. Abi dan ummi tak pernah mengajarimu untuk berbuat khianat nak. Siapa nama anak lelaki itu?”
“Abi, sudahlah. Inget abi. Discipline starts from mastery of the content of the mind. Disiplin dimulai dari penguasaan isi pikiran.”
Lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk. Dan terlihat ummi ku yang sedang menenangkan hati abi ku.
“Jawab Mahbubah!!” Bentak abi ku sampai aku pun terperanjat.
“Ayo sayang, jawab. Jangan takut, ayo nak.” Kata ummi ku.
“Namanya Ridwan, ummi, abi.” Kataku sambil terus menunduk.
“kapan dia menjadi seorang muallaf?”
“Kurang lebih 5 bulan ke belakang, abi.” Jawabku.
“Nah, itu baru 5 bulan. Pengetahuan tentang agamanya pun pasti masih seumur jagung. Masih belum luas. Ya sudah, mungkin ini keputusan yang tepat. Pokoknya, kamu akan abi jodohkan sama anak shahib abi. Namanya Fakhir. Dia seorang duta luar negeri di Negara Cordoba. Keluarganya, termasuk dianya seorang yang fanatic dalam agama. Sama seperti kita.”
“Ma’af abi, izin berbicara.”
“Silahkan.”
“Sebelumnya, Mahbubah hanya ingin meluruskan apa yang tadi dikatakan oleh abi. Memang, Ridwan itu seorang muallaf. Memang, baru 5 bulan kemaren. Tapi, Mahbubah yakin ia sudah sangat mendalami agama kita, abi. Dia saja sudah berani untuk mengajak menikah denganku, abi.”
“Apa kamu bilang? Dia itu hanya mengungkapkan di surat ini. Sesibuk apapun dia, kalau dia sudah sangat mendalami agama kita, harusnya dia langsung datang ke rumah ini, langsung ngomong di depan abi dan ummi.”
“Ma’af abi. Tapi apakah Fakhir juga demikian? Apakah Fakhir mau menjadi suamiku?”
“Aahh..Sudahlah. Yang terpenting, abi setuju kalau kamu hanya menikah dengan Fakhir.”
Abi pun pergi, lalu ummi ku mendekat ke arahku dan mengusap kepalaku.
“Sabar ya nak. Pasti jodoh itu ada di tangan Tuhan. Namun, kita fikirkan juga tentang masa depan kita. Proceed your actions positively. Lakukan tindakanmu secara positif, nak.”
*****
Esoknya, aku membicarakan tragedy kemarin pada Ridwan.
“Begitu ceritanya.” Kataku tak bersemangat sambil menunduk.
“Ya sudah. Mungkin memang benar, pengetahuan agamaku memang masih seumur jagung. Masih sangat sedikit. Aku sadar, no perfect man without trial. Tak ada manusia yang sempurna tanpa cobaan. Namun, ada suatu hal yang perlu kamu ingat Mahbubah. Aku mencintaimu karena Allah. Aku menyayangimu karena Allah. Sungguh, cintaku ini padamu adalah cinta pertama bagiku. Aku merasakan getaran ini ketika aku mendengar lantunan suaramu yang sedang mengaji. Dan setelah itu, aku pun membulatkan tekadku untuk menjadi seorang muallaf.”
Aku hanya bisa menunduk. Tak tahu harus menjawab apa. Yang pasti, hatiku pun tergetar jiwaku pun merinding saat Ridwan membicarakan soal itu.
*****
3 bulan sudah, akhirnya Fakhir meminangku. Di satu sisi, aku juga mencintai dan menyayangi Fakhir. Disamping karena untuk membahagiakan orangtuaku, menurutku Fakhir memang sama sepertiku. Keluarga Fakhir, sama seperti keluargaku. Gayanya yang sederhana, namun sangat istimewa. Dia mampu bertekad demi siapa saja yang ia cintainya. Suami sholeh yang ku idamkan, mungkin ia jawaban yang tepat.
Namun, di sisi yang lain. Aku pun belum bisa lagi move-on terhadap Ridwan semenjak mengutarakan akan menikahiku. Masih ada serpihan bayangan yang melekat dalam fikiranku. Karena, perjuangan selama ini ketika sudah muallaf yang menjadi senyum lebarku.

Kisah Cintaku


“Oh, namanya Marsya Mahfuzah?” Gumamku dalam hati yang tanpa sadar ternyata terdengar oleh temanku sekaligus saudaraku.
            “Kenapa? Azaim suka ya?” Tanya Waazin sambil menyenggol tanganku.
            Aku terdiam sambil terus memperhatikan langkah Marsya yang semakin jauh.
            “Ayo ah. Pergi. Bentar lagi dosen masuk.” Ajak Waazin sambil menarik tanganku.
*****
            Aku dan Waazin kebetulan sejurusan sekaligus pula sekelas. Dimana-mana, kita berdua suka bareng. Engga di kampus, di kost-an, dimana pun pasti dia nempel terus. Risih sih sebenernya. Tapi gimana lagi, gitu-gitu juga dia saudaraku.
            “Azaim, nanti sore enaknya makan sama apa ya?” Tanya Waazin.
            “Eh aku mau kesana dulu. Duluan aja ya ke kost-annya. Aku ada urusan dulu.” Kataku sambil setengah berlari menuju ke arahnya.
            “Eh, eh tapi Azaim.” Kata Waazin sedikit berteriak.
            “Yah. Marsya lagi..” Lanjut Waazin dengan nada yang mengeluh.

            Ya, aku memang sedang mengikuti Marsya. Gadis yang tertutup oleh kain di kepalanya dengan warna merah tua yang calm, dan pakaian yang berlabuh menambah keanggunan yang sungguh sangat indah dipandang mata.
            “Marsya…” Panggilku.
            Ku lihat Marsya menoleh, dan aku segera melambaikan tanganku. Aku pun menghampirinya.
            “Hai.” Sapaku.
            J apa kamu muslim?” Tanyanya.
            Aku pun terkejut. Jarang sekali seorang perempuan ketika disapa tidak membalas sapaannya.
            “Mmmm. Ya, aku seorang muslim.” Jawabku mantap.
            “Assalamu’alaikum.” Sapanya sambil tersenyum
            “Wa’alaikumsalam.” Jawabku dengan terbata.
            “Tadi ada apa ya memanggil saya? Dan mas ini siapa ya?”
            “Iyaya, ko aku jadi grogi gini. Tadi aku mau ngapain?” Fikirku yang terucap dalam hati.
            “Mmm.. aku, aku …..”
            Tiba-tiba,
            “Marsya.” Teriak seorang lelaki yang menghampiri Marsya.
            “Assalamu’alaikum. Hey ma’af, boleh saya pinjam Marsyanya sebentar? Ini penting.” Izin lelaki itu padaku sambil langsung menarik pergi tangan Marsya.
            “Tapi, tapi hey, hey.” Kataku dengan sedikit berteriak.
            “Sial. Duh, kenapa tadi pake acara lupa segala sih? Terus siapa lelaki itu? Ko pas tangan Marsya ditarik sama lelaki itu dia bingung sendiri sih? Kayanya lelaki itu punya hubungan dekat deh sama Marsya. Eh tapi, ko aku jadi berfikiran gini? Aneh!” Gerutuku sambil berjalan menuju gerbang kampus.
*****
            Esoknya ketika aku hendak pulang melewati gang kecil, di seberang sana aku melihat Marsya dan lelaki yang kemarin itu. Tampak sangat sangat akrab sekali memang. Entah kenapa, dari sana otakku mulai memanas, darahku semakin naik, nafasku tak bisa diatur, emosiku memuncak seperti gunung api yang hendak meletus. Tanganku yang ku kepal, sudah tak bisa lagi menahan keinginan untuk melangkahkan kakiku pada arah mereka.
            BUK!! Suara keras jatuhnya lelaki itu didepan kakiku. Aku juga tak menyangka kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini.
            “Astaghfirullah. Mas Saleem.” Teriak spontan Marsya.
            Ku akui, aku memang bersalah. Tampak ku lihat ekspresi wajah Marsya yang sangat kaget dan sedih. Darah segar yang keluar mengucur dari hidung dan mulut lelaki itu. Sungguh aku bingung, aku sangat bingung. Keegoisanku yang sangat mengontrol fikiranku tak mampu aku tahan.
            Datang Waazin yang langsung menolong lelaki itu. Sebenarnya aku ingin membantu, namun entah kenapa organ tubuhku seketika kaku. Aku merasa berat hati untuk menolongnya. Memang aku bersalah, bahkan sangat salah. Namun entahlah. Aku pun bingung.
            “Tolong bawa ke pinggir sana saja mas Waazin.” Kata Marsya yang sangat khawatir.
            Dengan cekatnya Waazin langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Marsya. Dan aku pun langsung menanyakan keadaan lelaki itu.
            “Eh. Kamu gak apa-apa?” Tanyaku dengan polos.
            “Azaim, kamu gak liat. Ini sampe ngeluarin darah. Masa ditanya gak kenapa-napa?” Bentak Waazin.
            “Udah gak apa-apa. Cuman dikit ko.” Jawab lelaki itu.
            “Eh, dikit apanya? Itu sampe sekarang ngalir terus.” Kata Waazin.
            Ku lihat Marsya yang sedang mencari sesuatu di tasnya.
            “Kamu sedang cari apa Marsya?” Tanyaku.
            “Sapu tangan.” Jawab Marsya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
            “Apa?” Tanyaku lagi.
            “Sapu tangan, Azaim.” Jawab Waazin dengan nada yang kesal.
            “Oh. Ini aku ada.” Kataku sambil menyodorkan sapu tanganku.
            “Gak perlu. Ini udah ketemu.” Jawabnya.
            “Nih pake. Ini air sama kacanya.” Kata Marsya sambil menyodorkan.
            “Makasih.” Kata lelaki itu.
*****
            Esoknya, tak sengaja aku mendengar percakapan antara Waazin dengan Fareed, teman sekelasku.
            “Fareed, nanti pulang kita selesaiin tugas skripsi barengan yu.” Ajak Waazin.
            “Yah, ma’af banget ya Waazin. Bukan maksud aku nyepelein tugas. Tapi, aku udah menyanggupi permintaan Marsya.”
            Aku terkejut. Ada apa memang sebenarnya?
            “Hah? Permintaan? Apa emang?”
            “Mas Saleem, ada di rumah sakit. Kata Marsya, kemaren di rumahnya ngeluarin lagi darah yang banyak.” Jelas Fareed.
            “Astaghfirullah. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Ya Allah, semoga mas Saleem cepat sembuh ya. Oh jadi nanti abis pulang mau langsung ke RS ya? Aku kayanya gak bisa ikut deh. Sebenernya pengen banget. Titip salam aja yak ke mas Saleem.”
            “Iya insha Allah.”
*****
            Ketika pulang, aku segera menghampiri Fareed.
            “Fareed, tunggu.” Teriakku.
            “Ya, ada apa Azaim?” Tanyanya.
            “Eh, mau nanya dong. Kamu kenal sama Saleem ga?”
            “Saleem yang mana ya?”
            “Mmmm. Pokonya yang sekarang lagi dirawat di RS.”
            “Oh iya tahu. Emang kenapa?”
            “Itu pacarnya Marsya? Ko tiap aku perhatiin, Saleem sering banget berduaan sama Marsya. Yang aku tahu, Marsya gak gampang buat diajak jalan berduaan.” Jelasku.
            “Oh itu. Bukan, mereka engga pacaran ko. Tenang aja.” Katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.
            “Lah, terus?” Tanyaku sedikit kaget.
            “Setahuku, mereka saudaraan. Marsya pernah cerita sama aku kalo Marsya itu anak dari Om nya Saleem. Sekarang, Saleem kuliah disini karena dititipin sama orangtuanya + dibiayain sama orangtuanya Marsya. Jadi, tinggal serumah juga deh.”
            DEG!! Sumpah. Aku merasa, aku menjadi satu-satunya orang yang terhina di dunia. Aku sangat biadab. Keegoisanku yang sangat melekat legit di tubuh itu serasa tak bisa move-on. Aku mencaci maki diriku sendiri. Aku menyesali kejadian yang telah terjadi.
*****
            “Hah? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga keluarga beserta sodara yang ditinggalkannya diberi ketabahan ya. Aamiin. Oh gitu. Ya sudah. Besok juga aku gak akan masuk kuliah deh.”
            Terdengar obrolan Waazin dengan seseorang yang sedang meneleponnya. Setelah selesai,
            “Siapa?”
            “Fareed.”
            “Oh. Kamu besok gak akan kuliah kenapa? Tadi siapa yang meninggal?”
            “mas Saleem meninggal. Pemakamannya mau dilaksanain besok jam 8 pagi.” Kata Waazin sambil menunduk.
            Aku pun shock. Jantungku terasa sangat mengganggu dadaku. Nafasku serasa yang sedang berlari, dan tulang-tulangku yang seakan rapuh sirna. SALAH!! Itu yang ada di fikiranku.
            “Terus apa hubungannya sama Fareed?” Tanyaku heran.
            “Katanya sih Marsya yang ngasih tahu. Yah, wajar lah. Kan Marsya suka sama Fareed.”
            “Hah? Suka?” Tanyaku spontan.
            “Iya. Azaim baru tahu? Ini udah dari dulu kali. Marsya emang suka sama Fareed.”
            “Buktinya? Emang Marsya pernah ngomong ke semua orang kalo dia suka sama Fareed? Atau nembak langsung ke Fareed?”
            “Engga sih. Tapi keliatan dari gerak-geriknya kali. Tiap mereka ketemu, pasti pipinya Marsya langsung merah dan kayak yang malu gitu. Terus apa-apa yang terjadi sama Marsya, pasti Fareed tahu. Dan kayanya tiap Marsya ada masalah, suka curhatnya ke Fareed.”
            Aku pun semakin shock. Setelah mendengar mas Saleem yang meninggal karena ku, setelah itu mendengar Marsya sang gadis pujaanku ternyata menyukai Fareed teman sekelasku.
*****
            Suasana pemakaman yang mengikis habis sikap biadabku menjadi saksi bisu acara pemakaman mas Saleem. Aku mencoba untuk tenang, namun kondisi yang ada hanya membuatku semakin gelisah. Aku serasa dihantui oleh fikiran burukku dan kejadian itu.
            “Marsya ma’afkan aku.” Kataku ketika semua penziarah sudah banyak yang pergi. Disana hanya ada Aku, Marsya, Waazin dan Fareed.
            “Tidak usah minta ma’af.” Katanya singkat dengan masih mengeluarkan air matanya.
            “Sudahlah Azaim, ini sudah Qudrotnya Allah SWT. Hidup, mati, jodoh, semuanya ada di tangan Allah SWT.” Kata Fareed.
            “Ma’af Marsya, aku belum bisa bijak.” Kataku menunduk.
            “Humans can become wise without waiting parents. Manusia mampu menjadi bijak tanpa menunggu tua.” Singkatnya.
            “Fareed, kita pergi yu.” Ajak Marsya sambil berjalan menjauh meninggalkan kuburan mas Saleem.
            “Tapi…” Sambil menoleh padaku dan Waazin.
            Ku lihat Waazin yang menganggukan kepalanya. Lalu, Fareed langsung menyusul Marsya.
*****
            Sudah 3 minggu aku menjadi seorang pribadi yang sangat kuper alias kurang pergaulan. Kata orang-orang sih akhir-akhir ini aku terlihat lebih sering diam, melamun, diam, melamun. Tiap hari selalu begitu.
            “Waazin, ko Azaim jadi aneh sih sepeninggalnya mas Saleem?” tanya Fareed.
            “Entahlah. Waazin juga bingung.”
            “Coba deh bujuk lagi. Aku jadi takut. Dia kaya yang kuper jadinya. Takut nantinya mengarah ke anti social.” Cemas Fareed.
            “Insha Allah gak akan sampe kaya gitu ko. Waazin bakal terus berusaha.”
*****
            Di kost-an, ketika aku sedang memainkan laptopku, tiba-tba.
            “Azaim ayo dong berkicau lagi. Sepi tau.” Celetuk Waazin.
            “Hhhhmmmm.”
            Waazin pun semakin mendekat ke arah ku.
            “Sudahlah. Azaim gak usah, gak perlu seperti ini sepeninggal mas Saleem. Waazin ngerti ko bahkan sangat ngerti jika Waazin di posisi Azaim.”
            Aku pun semakin menunduk dan terus memejamkan mata yang tak terasa mengingatkan memori kejadian itu.
            “Make a plan to achieve something new. Membuat rencana untuk sesuatu yang baru.” Tambahnya sambil menepuk pundak ku.
            “Tapi, apa Marsya dan keluarganya bisa mema’afkan aku?”
            “Allah saja Maha Pengampun. Masa hambanya engga? Aku yakin, mereka akan mema’afkan Azaim. Marsya sama keluarganya kan fanatic sama Islam. Insha Allah lah. Berdo’a saja.”
“Benar juga apa yang dikatakan oleh Waazin. Membuat rencana. Ya, membuat rencana.” Gumamku dalam hati.
*****
            Esoknya, aku beranikan diri menginjakan kakiku ke beranda rumah Marsya. Dengan ditemani Waazin, sodaraku yang sangat peduli terhadapku. Selain meminta ma’af, aku juga ikut mengikuti yasinan ke 40 harinya.
            Awalnya, aku hanya menunjukan wajah yang penuh tanpa dosa pada mereka. Aku pun bingung, aku tak tahu harus melakukan apa. Di akhir acara yasinan, setelah para warga setempat dan yang lainnya memutuskan untuk pulang, aku meminta izin pada Marsya dan pihak keluarga untuk membicarakan sesuatu.
            “Sebelumnya ma’af sekali. Memang sebaiknya, saya harus menyampaikan kalimat ini, walau memang ini sangat pahit. Memang saya ini orang yang sangat biadab, hina. Saya khilaf ketika itu. Saya tiba-tiba mengepalkan tangan dan langsung memukulkannya pada mas Saleem. Itu semua, karena salah paham.”
            “Salah paham?” Tanya ibunya Marsya.
“Iya bu. Karena ketika itu, saya…saya…menyukai Marsya. Fikiran saya langsung memutuskan kalo mas Saleem itu pacarnya Marsya. Melihat tingkah laku Marsya yang tidak mau diajak jalan berdua, dipegang tangannya oleh saya. Tapi, ketika oleh Mas Saleem tampak Marsya yang biasa saja, saya juga tidak terima. Dan ternyata, mas Saleem itu sodara Marsya. Saya sangat-sangat meminta ma’af. Terserah pihak keluarga, saya hanya bisa pasrah jika memang dikaitkan dengan hukum.”
            Ku lihat, Marsya dan pihak keluarga yang saling bertatapan menandakan sebuah kebingungan apa yang harus mereka putuskan.
            “Begini. Kami dari pihak keluarga besar, sudah mema’afkan dek ini.” Kata ayahnya Marsya.
            “Namanya siapa?” Lanjut beliau menanyakan pada Marsya.
            “Azaim.” Jawab Marsya sambil tertunduk.
            “Kami sudah ikhlas. Ini sudah Qadarnya Allah SWT. Ini sudah menjadi ketentuan dan keputusan Allah SWT.”
            “Terimakasih banyak pak.” Kataku yang tak percaya.
*****
            Semakin hari, entah kenapa meski kasarnya aku sudah membunuh mas Saleem, saudara dari Marsya, tapi hubunganku dengan Marsya semakin erat. Memang, dia itu orang yang sangat luar biasa di hatiku. Semenjak aku mengenalnya lebih dekat, aku semakin bisa memperbaiki diriku sendiri. Dulu, aku yang brutal, sekarang aku masih bisa menahan diri. Aku dan dia sama-sama berusaha untuk terus selalu dekat dengan-Nya.
            Hingga suatu hari, Allah sudah memantapkan isi hatiku untuk meminang Marsya. Aku merasa sangat bahagia. Cinta kepada Illahi mempertemukanku pada cinta sejati.
*****
            Begitulah kenanganku ketika 3 tahun yang lalu. Kami saling bercerita masa-masa indah bersama semasa kuliah.
            “Mas, boleh aku simpulkan?” Tanya Marsya padaku.
            “Tentang cerita tadi?” Tanya balikku.
            “Ya.” Katanya dengan mantap ditambah dengan anggukan yang meyakinkan.
            “Oh, tentu saja.” Kataku.
            “Kita sukses mas.”
            “Maksudnya?” Kataku terkejut.
            “Success is getting what you want …..”
            “Sukses adalah mendapatkan apa yang anda inginkan.” Kataku memotong pembicaraan Marsya.
            Terlihat senyuman melengkung yang menghiasi wajahnya.