Kamis, 30 Januari 2014

Kembali Ke JalanMu


“Saya terima nikahnya Buthaynah binti Adam dengan mas kawin sekian dibayar tunai.” Terucap kalimat dengan suara lantang dan lancar oleh sang pengusaha muda yakni Rafaat. “Bagaimana, sah?” Tanya penghulu kepada wali dan para undangan. “Sah.” Jawab mereka serentak. “Alhamdulillah.”
            Seketika bumi menjadi saksi akan mulai terjalinnya ikatan yang sangat suci. Penuh janji, dan penuh arti. Memaknai semua ini. Pelangi yang kian mewarnai hati, seakan tak peduli dengan suka duka yang kian menanti.
            Melewati hari yang penuh dengan warna kehidupan. Bercumbu bersama, suka duka bersama, semua dilewati dengan bersama. Menatap indah wajahnya yang seakan bisa meneduhkan hati. Merangkulnya yang seakan bisa menggetarkan jiwa. Ya, itu semua membuat dunia ini terasa sempurna.
            “Alhamdulillah ya mas. Akhirnya sekarang kita resmi menjadi sepasang suami istri.” Kata Ayna memulai pembicaraan di kamarnya. “Iya Ayna. Mas sangat senang sekali.” Jawab Rafa sambil menggenggam tangan Ayna.
            Malam pertama yang seakan menjadi kenangan manis dalam hidup. Menikah dengan seorang suami yang mapan bak seorang pangeran tampan yang sangat kaya raya. Begitu pun sebaliknya, menikah dengan seorang gadis cantik jelita. Namun di tengah kebahagiaannya ini, Ayna harus sering-sering sabar menunggu suaminya ada di rumah. Maklum, seorang eksekutif muda yang sangat sukses harus menyelesaikan urusan pekerjaannya di luar kota, pulau, bahkan negeri. Ayna harus menanti suaminya yang pulang ke rumah hanya dalam jangka waktu 5 hari dalam 3 bulan. Oh, betapa sangat rindunya ia. Di tengah gedong rumahnya yang mewah, ia harus sendiri hanya menunggu suami tercinta.
            “Ayna, ma’afkan mas. Lagi-lagi mas harus ke luar kota.” Kata Rafa, yang sedang dipakaikan dasi oleh Ayna. “Ya sudahlah mas, tak apa. Harus bagaimana lagi? Tapi …..” Jawab Ayna sambil mengelus wajah suaminya. “Tapi kenapa?” Tanya Rafa. “Aku ingin mencari kesibukan dengan menjadi seorang wanita karier mas. Aku bosan di rumah terus.” Kesal Ayna. “Sayang, dengarkan aku. Harta kita sudah banyak sekali. Biarkan kita memberi peluang tersebut terhadap orang yang memang sangat membutuhkannya. Kalau kamu bête, kamu bisa pergunakan uangku dalam ATM ini.” Kata Rafa sambil menyodorkan ATMnya pada Ayna. “Terimakasih banyak, mas.” Kata Ayna. “Sama-sama Ayna. Ya sudah, aku harus pergi dulu. Jaga baik-baik di rumah ya sayang. Oya, tadi kamu bilang, kamu kesepian? Oke, aku akan kirim pengawal untukmu.” Kata Rafa sambil mengecup dahi istrinya. “Iya mas. Hati-hati dijalan ya.”
#####
            Setelah 1 minggu kemudian.
            “Ma’af bu. Apakah ini benar rumahnya Bapak Rafaat?” Tanya laki-laki yang berbadan suspect dan berwajah serius. “Iya benar. Saya istrinya. Anda ini siapa ya? Silahkan masuk.” Tanya Ayna. “Saya Jaffan. Saya dibayar oleh Pak Rafa untuk menjadi pengawal ibu.” “24 jam?” “Ya.”
            Setelah ditunjukkan kamar untuk Jaffan, bodyguardnya Ayna, Ayna meminta untuk Jaffan sendiri rehat sejenak di rumahnya.
            “Ah, sial. Ko beneran sih sampe ngirim bodyguard segala. Aku kan bukan anak kecil lagi.” Gumam Ayna dalam hati.
#####
            “Bu, hari ini mau kemana?” Tanya Jaffan. “Aduh, risih banget sih.” Gumam Ayna dalam hati. “Aku mau ketemu sama teman-teman lamaku. Mending kamu bersihin halaman rumah aja sana.” “Ma’af bu. Tapi saya ini diperintahkan oleh Pak Rafa itu menjadi pengawal ibu. Bukan jadi tukang kebun.” “Ya tapi kan sekarang suami saya lagi gaada di rumah, berarti kamu harus nurut sama saya.” Kata Ayna dengan nada yang nyolot. “Ma’af Bu. Sekali lagi, saya hanya dibayar untuk menjadi pengawal ibu. Bukan untuk yang lainnya.” “Ahh. Terserah kamu lah. Cape saya.”
Setelah sampai di café,
            “Kamu jangan ikut turun dari mobil. Saya janji, saya bakal duduk di kursi luar sana. Biar kamu juga bisa mantau saya dari mobil ini.” “Baik bu.”
            Ayna pun keluar mobil lalu menghampiri 2 orang laki-laki.
            “Hey. Udah nunggu lama ya sayang?” Tanya Ayna pada laki-laki yang berkulit putih itu sambil bersalaman dilengkapi dengan cipika-cipiki. “Asy’ar. Ini siapa?” Lanjutnya. “Oh, kenalin. Ini temanku, namanya Thomi.” Ayna dan Thomi pun bersalaman untuk berkenalan. “Say, jalan yu?” Tawar Asy’ar pada Ayna. “Aduh, ma’afin say. Mobil dibelakangku itu yang warnanya putih, disana ada bodyguardku.” Jawabnya kesal. “Hah? Bodyguard? Hahahaa.” Kaget Asy’ar. “Gatau tuh. Suamiku yang kirim dia untukku. Aku risih kalo lama-lama gitu.” “Yah, aku gabisa bebas lagi dong sama kamu. Tiap detik kan aku selalu kangen kamu.” Rayu Asy’ar. “Ah, gombal kamu. Hahahaha bisa aja. Tenang aja, aku bakal cari ide supaya kita bisa selalu ketemu. Never say impossible but I am do it. Jangan katakan tidak mungkin tetapi katakan aku sanggup. Hahahha.”
#####
            [Say, kangen nih pengen ketemu.] Asy’ar.
            [Sama say. Aku juga kangen nih. Cuman bodyguardnya itu loh yang terus buntutin aku.] Ayna.
            [Aku punya ide.] Asy’ar.
            [Apaan say?] Ayna.
            [Dia udah berkeluarga? Punya anak?] Asy’ar.
            [Udah. Punya 1 anak dia.] Ayna.
            [Coba aku minta no hp nya.] Asy’ar.
            [Mau ngapain?] Ayna.
            [Udah, kirim aja sini. Believe to yourself is more the enough. Kepercayaan diri lebih dari cukup. Tenang aja say. Beres deh.] Asy’ar
            Setelah Ayna mengirim no hp Jaffan kepada Asy’ar lewat v-card, akhirnya dengan cara ngebujuk yang entah bagaimana, akhirnya Jaffan meminta izin kepada Ayna.
            “Bu, ma’af. Saya meminta izin untuk malam  ini dan esok hari pulang ke kampung halaman. Istri saya menelepon katanya anak saya demam tinggi bu.” Izin Jaffan pada Ayna. “Oh gitu. Ya sudah gapapa. Anakmu kan lebih penting daripada saya. Oya ini ada sedikit uang untuk kamu pulang dan berobat anakmu itu.” Kata Ayna. “Alhamdulillah, terimakasih banyak bu. Kalau begitu, saya pamit bu. assalamu’alaikum.”
            Ketika Jaffan sudah pergi dari rumah mewahnya, akhirnya Ayna bisa bebas, dan Ayna pun langsung sms pada Asy’ar untuk bisa ke rumahnya.
            [Jaffan udah gaada. Kamu aman.] Ayna.
            [Aku OTW.] Asy’ar.
            Setelah 8 menit menunggu,
            “Ko cepet banget nyampenya sih say?” Tanya Ayna pada Asy’ar sambil cipika-cipiki. “Iya dong, tadi aku abis jalan dulu bareng Thomi. Abis makan yang emang tempatnya gak jauh dari sini.” Jawab Asy’ar sambil menoleh pada Thomi yang ada disampingnya. “Oh gitu. Oya mau minum apa?” Tawar Ayna pada mereka berdua. “Biasa aja, say. Orson.” Jawab Asy’ar. “Thomi?” Tanya Ayna. “Mmm, sama aja deh.” Jawab Thomi dengan gaya cool nya.
            Disamping Ayna sedang pergi ke dapur, Asy’ar yang emang sering sekali ke rumahnya Ayna, otomatis ia tahu semua letak bagian ruangan rumah tersebut. Asy’ar masuk ke dalam kamarnya Ayna sambil langsung menyemprotkan sesuatu. Entah, apa benda itu dan apa maksud tujuan benda itu.
            “Ini orsonnya. Silahkan diminum.” Kata Ayna. “Iya.” Kata Thomi sambil melihat foto-foto yang terpajang di tembok dan di bupet. “Loh, Asy’ar nya mana?” Tanya Ayna. “Oh, dia lagi ke belakang katanya. Oya, boleh ga kamu ajak aku keliling rumah ini? Aku kagum nih sama rumah ini. Gede banget. Isinya apa aja?” “Hahahaha. Ada-ada aja kamu. Boleh dong.”
            Setelah Asy’ar menyemprotkan cairan itu, lalu ia pun langsung bergegas ke ruang tamu yang terdapat 3 orson disana. Ia memasukkan serbuk-serbuk semacam obat pada orson bagian Ayna, sambil membaca komat-kamit.
            Disamping itu, ketika Ayna memperlihatkan kamar tidurnya, tampak Thomi menggenggam tangan Ayna. Ayna pun kaget, dan seolah-olah ia merasakan hal yang berbeda.
            Setelah kembali ke ruang tamu,
            “Wah, pantes ya rumahnya segede ini. Isinya aja pada mahal semua. Hahahaha.” Kata Thomi. “Ah, bisa aja kamu.” Kata Ayna yang tersipu malu. “Eh say, aku minum ya orsonnya. Haus nih.” Kata Asy’ar. “Oh iya, iya. Silahkan. Aku juga jadi haus nih. Gara-gara nganter Thomi keliling rumah. Haahahaha.” Kata Ayna.
            Namun, reaksi yang terjadi pada Ayna setelah meminum orson tersebut, ia langsung pergi ke kamarnya. Ia kembali ke ruang tamu dengan pakaian yang sangat-sangat sexy. Pakaian yang ketat, yang jauh lebih ketat daripada biasanya. Tiba-tiba ia mendekati Thomi, dan merayu lalu membujuk Thomi supaya masuk ke dalam kamarnya.
#####
            Keesokan harinya, Ayna pun langsung bangun dan kaget dengan apa yang sudah dilakukannya. Ia tak sadar, ketika malam itu sudah berbuat apa saja. Ia pun  langsung pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
            Setelah itu, Jaffan pun datang dari kampung halamannya. Ia kaget. Karena, TV, guci, hiasan, laptop, tab, i-pad, itu tidak ada. Jaffan pun langsung mencari Ayna.
            Setelah Ayna selesai membersihkan diri, ia langsung ingin bersantai-santai. Ia sangat ingin untuk menonton TV.
            “Bu, ko TV, guci, hiasan, laptop, tab, i-pad gitu ga ada? Emang dipindahkan kemana?” Tanya Jaffan. “Hah? Masa gak ada? Orang di tempatnya ko.” Kata Ayna dengan ekspresi kaget. “Benar bu. Sungguh. Saya tidak berbohong.”
            Di cek nya benda tersebut, namun benar saja apa yang di katakana Jaffan itu benar.
            “Loh, kemaren malem masih ada ko.” “Hah? Emang ada maling bu?” Tanya Jaffan.
            Tiba-tiba, jawaban Ayna hanya mual-mual yang ingin keluar namun tak kunjung keluar. Jaffan pun semakin merasakan keganjalan, karena berawal dari penelepon itu yang ternyata palsu.
            Sudah 15 hari, Ayna mual-mual seperti itu. Dan perutnya pun terlihat semakin membuncit. Ia menolak jika di ajak pergi ke dokter oleh Jaffan. Karena Jaffan pun mempunyai tanggung jawab sebagai pengawal pribadinya Ayna, akhirnya ia menelepon pada Rafa.
            “Assalamu’alaikum pak. Bu Ayna tampaknya lagi sakit. Sudah saya bujuk untuk pergi ke dokter, namun tak mau saja pak. Mau panggil dokter pun dilarang pak. Bagaimana?” “Astaghfirullah. Iya, sebenarnya saya juga lagi di jalan menuju pulang. Ya, sekitar 28 menitan kira-kira saya sampe disana. Tolong terus jaga istri saya ya.” “Baik pak.” “Ya sudah kalau begitu. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.”
#####
            “Assalamu’alaikum. Jaffan, gimana? Istri saya udah mendingan?” Tanya Rafa dengan sangat khawatir. “Tadi saya lihat, Bu Ayna sedang tidur Pak.” Jawab Jaffan. “Yasudah, biarkan saja lah.” Katanya agak tenang. “Oya, ini TV kemanain? Emang dipindahin kemana?” Tanya Rafa. “Mmm, anu pak. Anu, mmm …..” Jawab Jaffan dengan gugup.
            Tiba-tiba, suara hp Ayna pun bordering,
            [Makasih ya sayang, atas semuanya. Barang-barang ini aku pinjem dulu. Kamu kan bisa minta lagi ke suamimu.]
            Rafa pun kaget, ia langsung membacakannya dengan nyaring di depan Jaffan.
            “Ma’af sekali sebelumnya pak. Semenjak malem juga ada yang telpon saya, ia mengakunya sebagai istri saya. Ia bilang, bahwa anak saya sedang sakit.” Jelas Jaffan. “Oh, untung saya pasang CCTV di rumah ini, ayo kita lihat.”
            Setelah semuanya terbongkar, terdengar Ayna yang semakin muntah-muntah. Mereka berdua langsung menghampirinya.
            “Ayna, jawab jujur. Kamu hamil?” Tanya Rafa.
            Ayna pun kaget, namun ia berfikir. Ia bisa memberikan alasan bahwa jabangbayi ini anaknya.
            “Iya mas. Aku hamil. Ini anakmu mas. Mas senang kan?” Tanya Ayna. “Bohong. Anak itu dari perbuatan jinah kamu kan dengan orang lain? Kita tak akan mungkin mempunyai keturunan karena aku sendiri mandul. Ingat Ayna, Discipline is a highest esteem. Disiplin adalah harga diri paling tinggi.” Tegas Rafa. “Maksudnya mas? Mas tega!” Bentak Ayna sambil berjalan keluar. “Apa? Kamu yang lebih tega, karena kamu, …..” Tiba-tiba Rafa mengalami sesak nafas dan akhirnya pingsan. “Bu, Bu Ayna. Jangan pergi Bu. Kasian Pak Rafa.” Kata Jaffan sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil.
            Namun karena terlalu agresifnya, akhirnya mobil itu pun menabrak Jaffan. Lalu, dengan perasaannya yang sangat kacau. Ia pun turun dan langsung membawa keduanya ke rumah sakit.
            Setelah sampai, entah mengapa perutnya mengalami sakit yang luar biasa, lalu pingsan. Dan akhirnya ia pun dirawat disana juga.
            Kurang lebih sekitar 28 menit, akhirnya Ayna pun siuman.
            “Bagaimana Bu, sudah mendingan?” Tanya suster. “Alhamdulillah suster. Meski masih merasakan perih dan nyeri yang campur aduk dibagian perut dan dibawahnya.” Jawab Ayna merintih. “Memang demikian Bu. Karena ibu mengalami keguguran.” “Apa sus? Keguguran? Astaghfirullah.” Tangis Ayna. “Iya Bu. Ma’afkan saya Bu. Memang seharusnya berita ini disampaikan kepada orang yang menjaga ibu. Namun tampaknya tak ada seorang pun yang menemani ibu.” “Iya, suami saya juga lagi di rawat disini. Sus, saya boleh minta tolong?” “Silahkan bu.” “Antar saya ke ruang suami saya.” “Baik bu.”
            Setelah mereka berdua sampai,
            “Astaghfirullah. Ma’afkan aku mas. Ayo mas bangun.” “Ma’af bu, bapak ini sedang mengalami koma.” “Astaghfirullah. Oya sus, bagaimana keadaan seorang pasien yang bernama Jaffan yang disebabkan kecelakaan?” “Oh, Pak Jaffan. Sekitar 28 menit yang lalu, pak Jaffan meninggal dunia bu.” “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.”
#####
            “Ya Allah, sadarku dalam dosa. HambaMu yang penuh hina. Kau pun datang memelukku. Tuk kembali ke jalanMu. Ku pasrahkan diri. Ku sandarkan hati. Tuk dapat ridhoMu. Ya Allah, ku ikhlaskan air mata basahi seluruh jiwa dan ragaku. Sempurnakan ku dalam ibadahku. Agar ku selalu jadi kekasihMu. Aamiin.” Do’anya ketika di dalam mushola.
            Dan ia pun menyadari semua kesalahannya, dan bertobat dengan sepenuh hatinya. Yakni dengan taubatan nasuha.

Tidak ada komentar: