“Oh,
namanya Marsya Mahfuzah?” Gumamku dalam hati yang tanpa sadar ternyata terdengar
oleh temanku sekaligus saudaraku.
“Kenapa? Azaim suka ya?” Tanya
Waazin sambil menyenggol tanganku.
Aku terdiam sambil terus
memperhatikan langkah Marsya yang semakin jauh.
“Ayo ah. Pergi. Bentar lagi dosen
masuk.” Ajak Waazin sambil menarik tanganku.
*****
Aku
dan Waazin kebetulan sejurusan sekaligus pula sekelas. Dimana-mana, kita berdua
suka bareng. Engga di kampus, di kost-an, dimana pun pasti dia nempel terus.
Risih sih sebenernya. Tapi gimana lagi, gitu-gitu juga dia saudaraku.
“Azaim, nanti sore enaknya makan
sama apa ya?” Tanya Waazin.
“Eh aku mau kesana dulu. Duluan aja
ya ke kost-annya. Aku ada urusan dulu.” Kataku sambil setengah berlari menuju ke
arahnya.
“Eh, eh tapi Azaim.” Kata Waazin
sedikit berteriak.
“Yah. Marsya lagi..” Lanjut Waazin
dengan nada yang mengeluh.
Ya, aku memang sedang mengikuti
Marsya. Gadis yang tertutup oleh kain di kepalanya dengan warna merah tua yang
calm, dan pakaian yang berlabuh menambah keanggunan yang sungguh sangat indah
dipandang mata.
“Marsya…” Panggilku.
Ku lihat Marsya menoleh, dan aku
segera melambaikan tanganku. Aku pun menghampirinya.
“Hai.” Sapaku.
“J apa kamu
muslim?” Tanyanya.
Aku pun terkejut. Jarang sekali
seorang perempuan ketika disapa tidak membalas sapaannya.
“Mmmm. Ya, aku seorang muslim.”
Jawabku mantap.
“Assalamu’alaikum.” Sapanya sambil
tersenyum
“Wa’alaikumsalam.” Jawabku dengan
terbata.
“Tadi ada apa ya memanggil saya? Dan
mas ini siapa ya?”
“Iyaya, ko aku jadi grogi gini. Tadi
aku mau ngapain?” Fikirku yang terucap dalam hati.
“Mmm.. aku, aku …..”
Tiba-tiba,
“Marsya.” Teriak seorang lelaki yang
menghampiri Marsya.
“Assalamu’alaikum. Hey ma’af, boleh
saya pinjam Marsyanya sebentar? Ini penting.” Izin lelaki itu padaku sambil
langsung menarik pergi tangan Marsya.
“Tapi, tapi hey, hey.” Kataku dengan
sedikit berteriak.
“Sial. Duh, kenapa tadi pake acara
lupa segala sih? Terus siapa lelaki itu? Ko pas tangan Marsya ditarik sama
lelaki itu dia bingung sendiri sih? Kayanya lelaki itu punya hubungan dekat deh
sama Marsya. Eh tapi, ko aku jadi berfikiran gini? Aneh!” Gerutuku sambil
berjalan menuju gerbang kampus.
*****
Esoknya ketika aku hendak pulang
melewati gang kecil, di seberang sana aku melihat Marsya dan lelaki yang
kemarin itu. Tampak sangat sangat akrab sekali memang. Entah kenapa, dari sana
otakku mulai memanas, darahku semakin naik, nafasku tak bisa diatur, emosiku
memuncak seperti gunung api yang hendak meletus. Tanganku yang ku kepal, sudah
tak bisa lagi menahan keinginan untuk melangkahkan kakiku pada arah mereka.
BUK!! Suara keras jatuhnya lelaki
itu didepan kakiku. Aku juga tak menyangka kenapa aku bisa melakukan hal
seperti ini.
“Astaghfirullah. Mas Saleem.” Teriak
spontan Marsya.
Ku akui, aku memang bersalah. Tampak
ku lihat ekspresi wajah Marsya yang sangat kaget dan sedih. Darah segar yang
keluar mengucur dari hidung dan mulut lelaki itu. Sungguh aku bingung, aku
sangat bingung. Keegoisanku yang sangat mengontrol fikiranku tak mampu aku
tahan.
Datang Waazin yang langsung menolong
lelaki itu. Sebenarnya aku ingin membantu, namun entah kenapa organ tubuhku
seketika kaku. Aku merasa berat hati untuk menolongnya. Memang aku bersalah,
bahkan sangat salah. Namun entahlah. Aku pun bingung.
“Tolong bawa ke pinggir sana saja
mas Waazin.” Kata Marsya yang sangat khawatir.
Dengan cekatnya Waazin langsung
melakukan apa yang diperintahkan oleh Marsya. Dan aku pun langsung menanyakan
keadaan lelaki itu.
“Eh. Kamu gak apa-apa?” Tanyaku
dengan polos.
“Azaim, kamu gak liat. Ini sampe
ngeluarin darah. Masa ditanya gak kenapa-napa?” Bentak Waazin.
“Udah gak apa-apa. Cuman dikit ko.”
Jawab lelaki itu.
“Eh, dikit apanya? Itu sampe
sekarang ngalir terus.” Kata Waazin.
Ku lihat Marsya yang sedang mencari
sesuatu di tasnya.
“Kamu sedang cari apa Marsya?”
Tanyaku.
“Sapu tangan.” Jawab Marsya dengan
suara yang nyaris tidak terdengar.
“Apa?” Tanyaku lagi.
“Sapu tangan, Azaim.” Jawab Waazin
dengan nada yang kesal.
“Oh. Ini aku ada.” Kataku sambil
menyodorkan sapu tanganku.
“Gak perlu. Ini udah ketemu.”
Jawabnya.
“Nih pake. Ini air sama kacanya.” Kata
Marsya sambil menyodorkan.
“Makasih.” Kata lelaki itu.
*****
Esoknya, tak sengaja aku mendengar
percakapan antara Waazin dengan Fareed, teman sekelasku.
“Fareed, nanti pulang kita selesaiin
tugas skripsi barengan yu.” Ajak Waazin.
“Yah, ma’af banget ya Waazin. Bukan
maksud aku nyepelein tugas. Tapi, aku udah menyanggupi permintaan Marsya.”
Aku terkejut. Ada apa memang sebenarnya?
“Hah? Permintaan? Apa emang?”
“Mas Saleem, ada di rumah sakit.
Kata Marsya, kemaren di rumahnya ngeluarin lagi darah yang banyak.” Jelas
Fareed.
“Astaghfirullah. Innalillahi wa inna
ilaihi roji’un. Ya Allah, semoga mas Saleem cepat sembuh ya. Oh jadi nanti abis
pulang mau langsung ke RS ya? Aku kayanya gak bisa ikut deh. Sebenernya pengen
banget. Titip salam aja yak ke mas Saleem.”
“Iya insha Allah.”
*****
Ketika pulang, aku segera
menghampiri Fareed.
“Fareed, tunggu.” Teriakku.
“Ya, ada apa Azaim?” Tanyanya.
“Eh, mau nanya dong. Kamu kenal sama
Saleem ga?”
“Saleem yang mana ya?”
“Mmmm. Pokonya yang sekarang lagi
dirawat di RS.”
“Oh iya tahu. Emang kenapa?”
“Itu pacarnya Marsya? Ko tiap aku
perhatiin, Saleem sering banget berduaan sama Marsya. Yang aku tahu, Marsya gak
gampang buat diajak jalan berduaan.” Jelasku.
“Oh itu. Bukan, mereka engga pacaran
ko. Tenang aja.” Katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Lah, terus?” Tanyaku sedikit kaget.
“Setahuku, mereka saudaraan. Marsya
pernah cerita sama aku kalo Marsya itu anak dari Om nya Saleem. Sekarang,
Saleem kuliah disini karena dititipin sama orangtuanya + dibiayain sama
orangtuanya Marsya. Jadi, tinggal serumah juga deh.”
DEG!! Sumpah. Aku merasa, aku
menjadi satu-satunya orang yang terhina di dunia. Aku sangat biadab.
Keegoisanku yang sangat melekat legit di tubuh itu serasa tak bisa move-on. Aku
mencaci maki diriku sendiri. Aku menyesali kejadian yang telah terjadi.
*****
“Hah? Innalillahi wa inna ilaihi
roji’un. Semoga keluarga beserta sodara yang ditinggalkannya diberi ketabahan
ya. Aamiin. Oh gitu. Ya sudah. Besok juga aku gak akan masuk kuliah deh.”
Terdengar obrolan Waazin dengan
seseorang yang sedang meneleponnya. Setelah selesai,
“Siapa?”
“Fareed.”
“Oh. Kamu besok gak akan kuliah
kenapa? Tadi siapa yang meninggal?”
“mas Saleem meninggal. Pemakamannya
mau dilaksanain besok jam 8 pagi.” Kata Waazin sambil menunduk.
Aku pun shock. Jantungku
terasa sangat mengganggu dadaku. Nafasku serasa yang sedang berlari, dan
tulang-tulangku yang seakan rapuh sirna. SALAH!! Itu yang ada di fikiranku.
“Terus apa hubungannya sama Fareed?”
Tanyaku heran.
“Katanya sih Marsya yang ngasih
tahu. Yah, wajar lah. Kan Marsya suka sama Fareed.”
“Hah? Suka?” Tanyaku spontan.
“Iya. Azaim baru tahu? Ini udah dari
dulu kali. Marsya emang suka sama Fareed.”
“Buktinya? Emang Marsya pernah
ngomong ke semua orang kalo dia suka sama Fareed? Atau nembak langsung ke
Fareed?”
“Engga sih. Tapi keliatan dari
gerak-geriknya kali. Tiap mereka ketemu, pasti pipinya Marsya langsung merah
dan kayak yang malu gitu. Terus apa-apa yang terjadi sama Marsya, pasti Fareed
tahu. Dan kayanya tiap Marsya ada masalah, suka curhatnya ke Fareed.”
Aku pun semakin shock.
Setelah mendengar mas Saleem yang meninggal karena ku, setelah itu mendengar
Marsya sang gadis pujaanku ternyata menyukai Fareed teman sekelasku.
*****
Suasana pemakaman yang mengikis
habis sikap biadabku menjadi saksi bisu acara pemakaman mas Saleem. Aku mencoba
untuk tenang, namun kondisi yang ada hanya membuatku semakin gelisah. Aku
serasa dihantui oleh fikiran burukku dan kejadian itu.
“Marsya ma’afkan aku.” Kataku ketika
semua penziarah sudah banyak yang pergi. Disana hanya ada Aku, Marsya, Waazin
dan Fareed.
“Tidak usah minta ma’af.” Katanya
singkat dengan masih mengeluarkan air matanya.
“Sudahlah Azaim, ini sudah Qudrotnya
Allah SWT. Hidup, mati, jodoh, semuanya ada di tangan Allah SWT.” Kata Fareed.
“Ma’af Marsya, aku belum bisa
bijak.” Kataku menunduk.
“Humans can become wise without
waiting parents. Manusia mampu menjadi bijak tanpa menunggu tua.” Singkatnya.
“Fareed, kita pergi yu.” Ajak Marsya
sambil berjalan menjauh meninggalkan kuburan mas Saleem.
“Tapi…” Sambil menoleh padaku dan
Waazin.
Ku lihat Waazin yang menganggukan
kepalanya. Lalu, Fareed langsung menyusul Marsya.
*****
Sudah 3 minggu aku menjadi seorang
pribadi yang sangat kuper alias kurang pergaulan. Kata orang-orang sih akhir-akhir
ini aku terlihat lebih sering diam, melamun, diam, melamun. Tiap hari selalu
begitu.
“Waazin, ko Azaim jadi aneh sih
sepeninggalnya mas Saleem?” tanya Fareed.
“Entahlah. Waazin juga bingung.”
“Coba deh bujuk lagi. Aku jadi
takut. Dia kaya yang kuper jadinya. Takut nantinya mengarah ke anti social.”
Cemas Fareed.
“Insha Allah gak akan sampe kaya
gitu ko. Waazin bakal terus berusaha.”
*****
Di kost-an, ketika aku sedang
memainkan laptopku, tiba-tba.
“Azaim ayo dong berkicau lagi. Sepi
tau.” Celetuk Waazin.
“Hhhhmmmm.”
Waazin pun semakin mendekat ke arah
ku.
“Sudahlah. Azaim gak usah, gak perlu
seperti ini sepeninggal mas Saleem. Waazin ngerti ko bahkan sangat ngerti jika
Waazin di posisi Azaim.”
Aku pun semakin menunduk dan terus
memejamkan mata yang tak terasa mengingatkan memori kejadian itu.
“Make a plan to achieve something
new. Membuat rencana untuk sesuatu yang baru.” Tambahnya sambil menepuk pundak
ku.
“Tapi, apa Marsya dan keluarganya
bisa mema’afkan aku?”
“Allah saja Maha Pengampun. Masa hambanya
engga? Aku yakin, mereka akan mema’afkan Azaim. Marsya sama keluarganya kan
fanatic sama Islam. Insha Allah lah. Berdo’a saja.”
“Benar
juga apa yang dikatakan oleh Waazin. Membuat rencana. Ya, membuat rencana.”
Gumamku dalam hati.
*****
Esoknya, aku beranikan diri
menginjakan kakiku ke beranda rumah Marsya. Dengan ditemani Waazin, sodaraku
yang sangat peduli terhadapku. Selain meminta ma’af, aku juga ikut mengikuti
yasinan ke 40 harinya.
Awalnya, aku hanya menunjukan wajah
yang penuh tanpa dosa pada mereka. Aku pun bingung, aku tak tahu harus
melakukan apa. Di akhir acara yasinan, setelah para warga setempat dan yang
lainnya memutuskan untuk pulang, aku meminta izin pada Marsya dan pihak
keluarga untuk membicarakan sesuatu.
“Sebelumnya ma’af sekali. Memang
sebaiknya, saya harus menyampaikan kalimat ini, walau memang ini sangat pahit.
Memang saya ini orang yang sangat biadab, hina. Saya khilaf ketika itu. Saya
tiba-tiba mengepalkan tangan dan langsung memukulkannya pada mas Saleem. Itu
semua, karena salah paham.”
“Salah paham?” Tanya ibunya Marsya.
“Iya
bu. Karena ketika itu, saya…saya…menyukai Marsya. Fikiran saya langsung
memutuskan kalo mas Saleem itu pacarnya Marsya. Melihat tingkah laku Marsya
yang tidak mau diajak jalan berdua, dipegang tangannya oleh saya. Tapi, ketika
oleh Mas Saleem tampak Marsya yang biasa saja, saya juga tidak terima. Dan
ternyata, mas Saleem itu sodara Marsya. Saya sangat-sangat meminta ma’af.
Terserah pihak keluarga, saya hanya bisa pasrah jika memang dikaitkan dengan hukum.”
Ku lihat, Marsya dan pihak keluarga
yang saling bertatapan menandakan sebuah kebingungan apa yang harus mereka
putuskan.
“Begini. Kami dari pihak keluarga
besar, sudah mema’afkan dek ini.” Kata ayahnya Marsya.
“Namanya siapa?” Lanjut beliau menanyakan
pada Marsya.
“Azaim.” Jawab Marsya sambil
tertunduk.
“Kami sudah ikhlas. Ini sudah
Qadarnya Allah SWT. Ini sudah menjadi ketentuan dan keputusan Allah SWT.”
“Terimakasih banyak pak.” Kataku
yang tak percaya.
*****
Semakin hari, entah kenapa meski kasarnya
aku sudah membunuh mas Saleem, saudara dari Marsya, tapi hubunganku dengan
Marsya semakin erat. Memang, dia itu orang yang sangat luar biasa di hatiku.
Semenjak aku mengenalnya lebih dekat, aku semakin bisa memperbaiki diriku
sendiri. Dulu, aku yang brutal, sekarang aku masih bisa menahan diri. Aku dan
dia sama-sama berusaha untuk terus selalu dekat dengan-Nya.
Hingga suatu hari, Allah sudah
memantapkan isi hatiku untuk meminang Marsya. Aku merasa sangat bahagia. Cinta
kepada Illahi mempertemukanku pada cinta sejati.
*****
Begitulah kenanganku ketika 3 tahun
yang lalu. Kami saling bercerita masa-masa indah bersama semasa kuliah.
“Mas, boleh aku simpulkan?” Tanya
Marsya padaku.
“Tentang cerita tadi?” Tanya
balikku.
“Ya.” Katanya dengan mantap ditambah
dengan anggukan yang meyakinkan.
“Oh, tentu saja.” Kataku.
“Kita sukses mas.”
“Maksudnya?” Kataku terkejut.
“Success is getting what you want
…..”
“Sukses adalah mendapatkan apa yang anda
inginkan.” Kataku memotong pembicaraan Marsya.
Terlihat senyuman melengkung yang
menghiasi wajahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar