Kamis, 30 Januari 2014

Kisah Cintaku


“Oh, namanya Marsya Mahfuzah?” Gumamku dalam hati yang tanpa sadar ternyata terdengar oleh temanku sekaligus saudaraku.
            “Kenapa? Azaim suka ya?” Tanya Waazin sambil menyenggol tanganku.
            Aku terdiam sambil terus memperhatikan langkah Marsya yang semakin jauh.
            “Ayo ah. Pergi. Bentar lagi dosen masuk.” Ajak Waazin sambil menarik tanganku.
*****
            Aku dan Waazin kebetulan sejurusan sekaligus pula sekelas. Dimana-mana, kita berdua suka bareng. Engga di kampus, di kost-an, dimana pun pasti dia nempel terus. Risih sih sebenernya. Tapi gimana lagi, gitu-gitu juga dia saudaraku.
            “Azaim, nanti sore enaknya makan sama apa ya?” Tanya Waazin.
            “Eh aku mau kesana dulu. Duluan aja ya ke kost-annya. Aku ada urusan dulu.” Kataku sambil setengah berlari menuju ke arahnya.
            “Eh, eh tapi Azaim.” Kata Waazin sedikit berteriak.
            “Yah. Marsya lagi..” Lanjut Waazin dengan nada yang mengeluh.

            Ya, aku memang sedang mengikuti Marsya. Gadis yang tertutup oleh kain di kepalanya dengan warna merah tua yang calm, dan pakaian yang berlabuh menambah keanggunan yang sungguh sangat indah dipandang mata.
            “Marsya…” Panggilku.
            Ku lihat Marsya menoleh, dan aku segera melambaikan tanganku. Aku pun menghampirinya.
            “Hai.” Sapaku.
            J apa kamu muslim?” Tanyanya.
            Aku pun terkejut. Jarang sekali seorang perempuan ketika disapa tidak membalas sapaannya.
            “Mmmm. Ya, aku seorang muslim.” Jawabku mantap.
            “Assalamu’alaikum.” Sapanya sambil tersenyum
            “Wa’alaikumsalam.” Jawabku dengan terbata.
            “Tadi ada apa ya memanggil saya? Dan mas ini siapa ya?”
            “Iyaya, ko aku jadi grogi gini. Tadi aku mau ngapain?” Fikirku yang terucap dalam hati.
            “Mmm.. aku, aku …..”
            Tiba-tiba,
            “Marsya.” Teriak seorang lelaki yang menghampiri Marsya.
            “Assalamu’alaikum. Hey ma’af, boleh saya pinjam Marsyanya sebentar? Ini penting.” Izin lelaki itu padaku sambil langsung menarik pergi tangan Marsya.
            “Tapi, tapi hey, hey.” Kataku dengan sedikit berteriak.
            “Sial. Duh, kenapa tadi pake acara lupa segala sih? Terus siapa lelaki itu? Ko pas tangan Marsya ditarik sama lelaki itu dia bingung sendiri sih? Kayanya lelaki itu punya hubungan dekat deh sama Marsya. Eh tapi, ko aku jadi berfikiran gini? Aneh!” Gerutuku sambil berjalan menuju gerbang kampus.
*****
            Esoknya ketika aku hendak pulang melewati gang kecil, di seberang sana aku melihat Marsya dan lelaki yang kemarin itu. Tampak sangat sangat akrab sekali memang. Entah kenapa, dari sana otakku mulai memanas, darahku semakin naik, nafasku tak bisa diatur, emosiku memuncak seperti gunung api yang hendak meletus. Tanganku yang ku kepal, sudah tak bisa lagi menahan keinginan untuk melangkahkan kakiku pada arah mereka.
            BUK!! Suara keras jatuhnya lelaki itu didepan kakiku. Aku juga tak menyangka kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini.
            “Astaghfirullah. Mas Saleem.” Teriak spontan Marsya.
            Ku akui, aku memang bersalah. Tampak ku lihat ekspresi wajah Marsya yang sangat kaget dan sedih. Darah segar yang keluar mengucur dari hidung dan mulut lelaki itu. Sungguh aku bingung, aku sangat bingung. Keegoisanku yang sangat mengontrol fikiranku tak mampu aku tahan.
            Datang Waazin yang langsung menolong lelaki itu. Sebenarnya aku ingin membantu, namun entah kenapa organ tubuhku seketika kaku. Aku merasa berat hati untuk menolongnya. Memang aku bersalah, bahkan sangat salah. Namun entahlah. Aku pun bingung.
            “Tolong bawa ke pinggir sana saja mas Waazin.” Kata Marsya yang sangat khawatir.
            Dengan cekatnya Waazin langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Marsya. Dan aku pun langsung menanyakan keadaan lelaki itu.
            “Eh. Kamu gak apa-apa?” Tanyaku dengan polos.
            “Azaim, kamu gak liat. Ini sampe ngeluarin darah. Masa ditanya gak kenapa-napa?” Bentak Waazin.
            “Udah gak apa-apa. Cuman dikit ko.” Jawab lelaki itu.
            “Eh, dikit apanya? Itu sampe sekarang ngalir terus.” Kata Waazin.
            Ku lihat Marsya yang sedang mencari sesuatu di tasnya.
            “Kamu sedang cari apa Marsya?” Tanyaku.
            “Sapu tangan.” Jawab Marsya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
            “Apa?” Tanyaku lagi.
            “Sapu tangan, Azaim.” Jawab Waazin dengan nada yang kesal.
            “Oh. Ini aku ada.” Kataku sambil menyodorkan sapu tanganku.
            “Gak perlu. Ini udah ketemu.” Jawabnya.
            “Nih pake. Ini air sama kacanya.” Kata Marsya sambil menyodorkan.
            “Makasih.” Kata lelaki itu.
*****
            Esoknya, tak sengaja aku mendengar percakapan antara Waazin dengan Fareed, teman sekelasku.
            “Fareed, nanti pulang kita selesaiin tugas skripsi barengan yu.” Ajak Waazin.
            “Yah, ma’af banget ya Waazin. Bukan maksud aku nyepelein tugas. Tapi, aku udah menyanggupi permintaan Marsya.”
            Aku terkejut. Ada apa memang sebenarnya?
            “Hah? Permintaan? Apa emang?”
            “Mas Saleem, ada di rumah sakit. Kata Marsya, kemaren di rumahnya ngeluarin lagi darah yang banyak.” Jelas Fareed.
            “Astaghfirullah. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Ya Allah, semoga mas Saleem cepat sembuh ya. Oh jadi nanti abis pulang mau langsung ke RS ya? Aku kayanya gak bisa ikut deh. Sebenernya pengen banget. Titip salam aja yak ke mas Saleem.”
            “Iya insha Allah.”
*****
            Ketika pulang, aku segera menghampiri Fareed.
            “Fareed, tunggu.” Teriakku.
            “Ya, ada apa Azaim?” Tanyanya.
            “Eh, mau nanya dong. Kamu kenal sama Saleem ga?”
            “Saleem yang mana ya?”
            “Mmmm. Pokonya yang sekarang lagi dirawat di RS.”
            “Oh iya tahu. Emang kenapa?”
            “Itu pacarnya Marsya? Ko tiap aku perhatiin, Saleem sering banget berduaan sama Marsya. Yang aku tahu, Marsya gak gampang buat diajak jalan berduaan.” Jelasku.
            “Oh itu. Bukan, mereka engga pacaran ko. Tenang aja.” Katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.
            “Lah, terus?” Tanyaku sedikit kaget.
            “Setahuku, mereka saudaraan. Marsya pernah cerita sama aku kalo Marsya itu anak dari Om nya Saleem. Sekarang, Saleem kuliah disini karena dititipin sama orangtuanya + dibiayain sama orangtuanya Marsya. Jadi, tinggal serumah juga deh.”
            DEG!! Sumpah. Aku merasa, aku menjadi satu-satunya orang yang terhina di dunia. Aku sangat biadab. Keegoisanku yang sangat melekat legit di tubuh itu serasa tak bisa move-on. Aku mencaci maki diriku sendiri. Aku menyesali kejadian yang telah terjadi.
*****
            “Hah? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Semoga keluarga beserta sodara yang ditinggalkannya diberi ketabahan ya. Aamiin. Oh gitu. Ya sudah. Besok juga aku gak akan masuk kuliah deh.”
            Terdengar obrolan Waazin dengan seseorang yang sedang meneleponnya. Setelah selesai,
            “Siapa?”
            “Fareed.”
            “Oh. Kamu besok gak akan kuliah kenapa? Tadi siapa yang meninggal?”
            “mas Saleem meninggal. Pemakamannya mau dilaksanain besok jam 8 pagi.” Kata Waazin sambil menunduk.
            Aku pun shock. Jantungku terasa sangat mengganggu dadaku. Nafasku serasa yang sedang berlari, dan tulang-tulangku yang seakan rapuh sirna. SALAH!! Itu yang ada di fikiranku.
            “Terus apa hubungannya sama Fareed?” Tanyaku heran.
            “Katanya sih Marsya yang ngasih tahu. Yah, wajar lah. Kan Marsya suka sama Fareed.”
            “Hah? Suka?” Tanyaku spontan.
            “Iya. Azaim baru tahu? Ini udah dari dulu kali. Marsya emang suka sama Fareed.”
            “Buktinya? Emang Marsya pernah ngomong ke semua orang kalo dia suka sama Fareed? Atau nembak langsung ke Fareed?”
            “Engga sih. Tapi keliatan dari gerak-geriknya kali. Tiap mereka ketemu, pasti pipinya Marsya langsung merah dan kayak yang malu gitu. Terus apa-apa yang terjadi sama Marsya, pasti Fareed tahu. Dan kayanya tiap Marsya ada masalah, suka curhatnya ke Fareed.”
            Aku pun semakin shock. Setelah mendengar mas Saleem yang meninggal karena ku, setelah itu mendengar Marsya sang gadis pujaanku ternyata menyukai Fareed teman sekelasku.
*****
            Suasana pemakaman yang mengikis habis sikap biadabku menjadi saksi bisu acara pemakaman mas Saleem. Aku mencoba untuk tenang, namun kondisi yang ada hanya membuatku semakin gelisah. Aku serasa dihantui oleh fikiran burukku dan kejadian itu.
            “Marsya ma’afkan aku.” Kataku ketika semua penziarah sudah banyak yang pergi. Disana hanya ada Aku, Marsya, Waazin dan Fareed.
            “Tidak usah minta ma’af.” Katanya singkat dengan masih mengeluarkan air matanya.
            “Sudahlah Azaim, ini sudah Qudrotnya Allah SWT. Hidup, mati, jodoh, semuanya ada di tangan Allah SWT.” Kata Fareed.
            “Ma’af Marsya, aku belum bisa bijak.” Kataku menunduk.
            “Humans can become wise without waiting parents. Manusia mampu menjadi bijak tanpa menunggu tua.” Singkatnya.
            “Fareed, kita pergi yu.” Ajak Marsya sambil berjalan menjauh meninggalkan kuburan mas Saleem.
            “Tapi…” Sambil menoleh padaku dan Waazin.
            Ku lihat Waazin yang menganggukan kepalanya. Lalu, Fareed langsung menyusul Marsya.
*****
            Sudah 3 minggu aku menjadi seorang pribadi yang sangat kuper alias kurang pergaulan. Kata orang-orang sih akhir-akhir ini aku terlihat lebih sering diam, melamun, diam, melamun. Tiap hari selalu begitu.
            “Waazin, ko Azaim jadi aneh sih sepeninggalnya mas Saleem?” tanya Fareed.
            “Entahlah. Waazin juga bingung.”
            “Coba deh bujuk lagi. Aku jadi takut. Dia kaya yang kuper jadinya. Takut nantinya mengarah ke anti social.” Cemas Fareed.
            “Insha Allah gak akan sampe kaya gitu ko. Waazin bakal terus berusaha.”
*****
            Di kost-an, ketika aku sedang memainkan laptopku, tiba-tba.
            “Azaim ayo dong berkicau lagi. Sepi tau.” Celetuk Waazin.
            “Hhhhmmmm.”
            Waazin pun semakin mendekat ke arah ku.
            “Sudahlah. Azaim gak usah, gak perlu seperti ini sepeninggal mas Saleem. Waazin ngerti ko bahkan sangat ngerti jika Waazin di posisi Azaim.”
            Aku pun semakin menunduk dan terus memejamkan mata yang tak terasa mengingatkan memori kejadian itu.
            “Make a plan to achieve something new. Membuat rencana untuk sesuatu yang baru.” Tambahnya sambil menepuk pundak ku.
            “Tapi, apa Marsya dan keluarganya bisa mema’afkan aku?”
            “Allah saja Maha Pengampun. Masa hambanya engga? Aku yakin, mereka akan mema’afkan Azaim. Marsya sama keluarganya kan fanatic sama Islam. Insha Allah lah. Berdo’a saja.”
“Benar juga apa yang dikatakan oleh Waazin. Membuat rencana. Ya, membuat rencana.” Gumamku dalam hati.
*****
            Esoknya, aku beranikan diri menginjakan kakiku ke beranda rumah Marsya. Dengan ditemani Waazin, sodaraku yang sangat peduli terhadapku. Selain meminta ma’af, aku juga ikut mengikuti yasinan ke 40 harinya.
            Awalnya, aku hanya menunjukan wajah yang penuh tanpa dosa pada mereka. Aku pun bingung, aku tak tahu harus melakukan apa. Di akhir acara yasinan, setelah para warga setempat dan yang lainnya memutuskan untuk pulang, aku meminta izin pada Marsya dan pihak keluarga untuk membicarakan sesuatu.
            “Sebelumnya ma’af sekali. Memang sebaiknya, saya harus menyampaikan kalimat ini, walau memang ini sangat pahit. Memang saya ini orang yang sangat biadab, hina. Saya khilaf ketika itu. Saya tiba-tiba mengepalkan tangan dan langsung memukulkannya pada mas Saleem. Itu semua, karena salah paham.”
            “Salah paham?” Tanya ibunya Marsya.
“Iya bu. Karena ketika itu, saya…saya…menyukai Marsya. Fikiran saya langsung memutuskan kalo mas Saleem itu pacarnya Marsya. Melihat tingkah laku Marsya yang tidak mau diajak jalan berdua, dipegang tangannya oleh saya. Tapi, ketika oleh Mas Saleem tampak Marsya yang biasa saja, saya juga tidak terima. Dan ternyata, mas Saleem itu sodara Marsya. Saya sangat-sangat meminta ma’af. Terserah pihak keluarga, saya hanya bisa pasrah jika memang dikaitkan dengan hukum.”
            Ku lihat, Marsya dan pihak keluarga yang saling bertatapan menandakan sebuah kebingungan apa yang harus mereka putuskan.
            “Begini. Kami dari pihak keluarga besar, sudah mema’afkan dek ini.” Kata ayahnya Marsya.
            “Namanya siapa?” Lanjut beliau menanyakan pada Marsya.
            “Azaim.” Jawab Marsya sambil tertunduk.
            “Kami sudah ikhlas. Ini sudah Qadarnya Allah SWT. Ini sudah menjadi ketentuan dan keputusan Allah SWT.”
            “Terimakasih banyak pak.” Kataku yang tak percaya.
*****
            Semakin hari, entah kenapa meski kasarnya aku sudah membunuh mas Saleem, saudara dari Marsya, tapi hubunganku dengan Marsya semakin erat. Memang, dia itu orang yang sangat luar biasa di hatiku. Semenjak aku mengenalnya lebih dekat, aku semakin bisa memperbaiki diriku sendiri. Dulu, aku yang brutal, sekarang aku masih bisa menahan diri. Aku dan dia sama-sama berusaha untuk terus selalu dekat dengan-Nya.
            Hingga suatu hari, Allah sudah memantapkan isi hatiku untuk meminang Marsya. Aku merasa sangat bahagia. Cinta kepada Illahi mempertemukanku pada cinta sejati.
*****
            Begitulah kenanganku ketika 3 tahun yang lalu. Kami saling bercerita masa-masa indah bersama semasa kuliah.
            “Mas, boleh aku simpulkan?” Tanya Marsya padaku.
            “Tentang cerita tadi?” Tanya balikku.
            “Ya.” Katanya dengan mantap ditambah dengan anggukan yang meyakinkan.
            “Oh, tentu saja.” Kataku.
            “Kita sukses mas.”
            “Maksudnya?” Kataku terkejut.
            “Success is getting what you want …..”
            “Sukses adalah mendapatkan apa yang anda inginkan.” Kataku memotong pembicaraan Marsya.
            Terlihat senyuman melengkung yang menghiasi wajahnya.

Tidak ada komentar: