7 tahun lamanya, wanita gadis cantik berkerudung ini yang bernama Tar
alias Tarik Talib berpacaran yang alhamdulillah dengan seorang pemuda
tampan nan shaleh bernama Aman, alias Amanat Maajid. Sekarang mereka
berdua kuliah di sebuah universitas tinggi yang mengambil kejuruan
menjadi seorang guru agama Islam.
Pada tanggal 4 Februari Tar berulang tahun, kebetulan sekarang masih tanggal 5 Januari jadi masih agak jauh ke hari H nya.
"kira-kira
aku ngado apa ya, ke Tar.. aku ingin sekali dia bahagia denganku."
gumam Aman sambil melamun disebuah taman universitasnya
"assalamualaikum,
hey jangan melamun nanti ada yang lewat lho! hhahaha" kata Tar yang
tentu saja mengagetkan Aman yang sedang melamun dan ikut duduk di kursi
yang jaraknya kurang lebih 20cm-an
"waalaikumsalam ah kamu, bikin kaget aku aja deh.. dasar :p!!" kata Aman yang sambil bercanda pada Tar
"hhehehe :D" kata Tar
"mmm, oiya nama kamukan Tarik..." kata Aman
"iya, terus emang kenapa? tanya Tar
"Tarik itu kan artinya bintang, bener ga? kata Aman
"iya, ko tau?" tanya Tar
"iya, karna bintang kamu selalu menghiasi hatiku hahhaha ga nyambung ya?" kata Aman yang mencoba untuk menggombali Tar
"jahahaha, oh jadi ceritanya ngegombal nih? hhee" kata Tar
"iya :p :D" kata Aman
Sepulang kuliah, Aman nampak bingung dengan kado yang akan dikasih kepada Tar
"Aman, dimana kamu nak?" panggil abi Haban, ayahnya
Aman langsung menghampiri beliau "iya, ada apa bi?" menuju ke ruang tengah
"coba duduk nak" kata umi Mutarokiba atau umi Mutar, ibunya
setelah duduk "nak, abi ingin tau usiamu berapa tahun?" tanya abinya
"alhamdulillah, udah sekitar 22 bi" jawab Aman
"wah, itumah udah waktunya buat punya istri, nak" lanjut uminya
"iya benar apa yang dikatakan umimu ini, gimanaa kalau bulan depan kamu nikahi nak Tar?" usul abinya
"hhmm, Aman belum siap untuk menjadi suami shaleh bi, Aman masih belum cukup dewasa." jawab Aman
"ya sudah, gimana kalo kamu tunangan saja dengan nak Tar?" usul uminya
"nah itu, bagus sekali ide umimu itu, abi sangat setuju" kata abinya yang mendukung umi Mutar
"mmmm, apa memang ini saja kado ulang tahunnya?" fikir Aman
"insyaAllah umi, abi nanti pas tanggal ulang tahunnya, Aman akan mempersuntingnya" jawab Aman
mendengar jawaban dari Aman, kedua orangtuanya kaget dan sangat senang.
Akhirnya, saat yang ditunggu sudah tiba..
"Aman, orangtuaku mengajak kamu beserta keluarga untuk makan malam sekalian selamatan ulang tahunku dirumah" kata Tar
"oh
ya? memangnya hari ini ulang tahunmu ya? tanggal berapa sih sekarang?
kira-kira jam berapa ya?" jawab Aman yang seolah-olah pura-pura lupa
akan ulang tahun Tar
"iya, masa lupa :(,, sekarang tanggal 4
Februari, kira-kira jam 20.00" jawab Tar yang sedih karena Aman sudah
lupa dengan hari ulang tahunnya
"oiyaya, afwan deh, selamat ulang tahun ya.. semoga menjadi istri shalehah ;)" kata Aman
"aamiin,, makasih :D" jawab Tar
Pukul
20.00 keluarga Aman beserta Aman datang tepat pada waktunya ke rumah
Tar untuk memenuhi undangannya. Mereka sangat disambut hangat..
"mari-mari silahkan masuk" kata abi Wahiduddin (abi wahid ; abinya Tar)
"iya, terimakasih pak :)" jawab abi Haban
"iya, langsung ke ruang makan saja ya :)" kata umi Iklil (umi lil ; uminya Tar)
Semuanya langsung ke ruang meja makan dan berdoa untuk makan bersama. Setelah selesai, semuanya hening tidak ada suara apapun
"mungkin sekarang saatnya" gumam Aman
"Tar, umi, abi, umi Lil, dan abi Wahid.. sebelumnya Aman mau berbicara sesuatu" kata Aman yang lumayan gugup
"silahkan nak, katakan pada kami semua" kata abi Wahid
"bismillahirrahmanirrahiim,
Tar sebenarnya aku sangat ingin mempersunting dirimu menjadi
tunanganku. maukah kamu jadi tunangan aku?" kata Aman yang memulai
pembicaraan
sontak, orangtua Aman dan Tar tercengang. Dan pastinya
hati Tar pun kaget, dia senang akan kata yang dikeluarkan oleh Aman
"mmm, iya aku mau jadi tunangan kamu" jawab Tar
"alhamdulillah" jawab Aman beserta keluarga Aman dan Tar
semuanya tertawa bahagia "kenapa ga langsung nikahin aja nak Aman?" tanya abi Wahid
"iya, nanti kita bisa gendong cucu kita" tambah umi Lil
"maaf
umi, abi.. tapi Aman masih belum siap buat jadi suami yang shaleh dan
belum cukup dewasa, tapi Aman janji akan menikahi Tar ;)" jawab Aman
"bener ya? awas kalo boong :D" kata Tar
"iya sayang :D" jawab Aman
Sudah 1 bulan, Aman menjadi tunangannya Tar. Tetapi semenjak mereka tunangan, Aman menjadi sering sakit.
"kamu kenapa? pusing lagi?" tanya Tar
"engga ko, ini pusing biasa" jawab Aman
Pasti itu yang selalu dijawab Aman ketika Tar menanyakan kondisinya
Cinta dan kasihmu tidak pernah hilang..
Meskipun kita tidak dapat bersama..
Namun cintamu akan tetap tinggal..
Di hatiku untuk selama lamanya..
kring..kring... suara hand phone Tar berbunyi, ternyata dari umi Mutar
"hallo, assalamualaikum nak Tar?" kata umi Mutar sambil menangis
"waalaikumsalam, ada apa umi? ko menangis?" jawab Tar
"Aman
nak, aman dia sakit parah. Sekarang dia lagi ada dirumah sakit Jawahir
ruang 56, dia sedang memanggil namamu nak :'(" kata umi Mutar
"astaghfirullah, iya umi iya, Tar langsung kesana" kata Tar
"ditunggu ya nak, wassalamualaikum" tutup umi Mutar
"waalaikumsalam" kata Tar
sesampainya
dirumah sakit, "Aman, aku disini disampingmu.. kamu harus kuat ya,
ingat kamu udah janji bakal nikahn aku. Kamu harus sembuh Aman" kata Tar
sambil menangis
Setelah beberapa minggu, kondisi Aman semakin kritis
"maaf
pak, bu kami tim dokter sudah semaksimal mungkin untuk menyembuhaknnya.
Tapi semuanya saya serahkan kembali kepada Allah SWT, dan ternyata...."
kata dokter Husam yang dipotong oleh umi Mutar
"ternyata apa dok?" kata umi Mutar
"ternyata Allah sudah sangat sayang pada Aman, sehingga, sehingga..." kata dokter Husam
"sehingga apa dok? pasti sehingga dia sembuh kan?" kata Tar
"sehingga dia harus meninggalkan kita semua :'(" kata dokter Husam sedih
"astaghfirullah, innalillahiwainnailaihi roji'un" kata umi Mutar menangis dan langsung pingsan
"innalillahiwainnailaihi
rojii'uun, pasti dokter bercanda kan? iya kan? tunangan saya pasti kuat
dok" dengan PDnya Tar berbicara seperti itu
"inilah ujian hidup, bagi kita yang mendapat musibah. Semuanya akan kembali pada sang pemilikNya" kata dokter Husam.
semuanya sedih dengan keadaan seperti ini
Meskipun mengundang derita..
Namun aku tetap tabah..
Dan menghadapi meskipun pedih..
Karna perpisahan ini Tuhan yang menentukan..
Tar
harus menerima kenyataan seperti ini, karena takdir tidak bisa dirubah,
karena sudah ditentukan oleh Allah SWT. Kita tidak tau kapan kita mati,
senang, sedih, sial, dll
Bukan kita yang tentukan..
Dan jodoh pertemuan di tangan Tuhan..
Cuma kita harus bersabar..
Dan butuh pengorbanan..
Tar
duduk di kursi taman yang menjadi kenangan indah bersama tunangannya,
Aman. Dia selalu sedih, gembira, rasanya kadang tak tentu dengan fikiran
yang masuk kedalamnya. Dirumah, dia memandangi meja makan yang menjadi
saksi bisu janji yang diucapkan Aman untuk menikahinya. Sampai-sampai
dia lupa dengan makan, sehingga badannya menjadi kurus drastis
Seandainya cinta ini ikhlas dan jujur..
Pasti akan berakhir dengan kebahagiaan..
Karena Tar stres dengan keadaan seperti itu, dia menjadi sakit dan menyusul Aman di Syurga sana.
umi Lil menangis tiada hentinya. "mi, biarkan anak kita menikah dengan Aman di Syurga sana" kata abi Wahid kepada umi Lil.
-------------THE END-------------
yah,
pegel juga ya ternyata,, maaf ya kalo ada kesamaan nama/yang lainnya,
kalo jelek atau ada yang mungkin tersinggung/apa, inimah cuman lagi
iseng aja akunya.. jangan diketawain ya kalo ga nyambung.. hhehe :D (asli karangan sendiri)
wassalamualaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar