“Please,
dong ka. Beliin buku ini. Yah? Yah? Kakakku yang baik, yang ganteng, yang
superrrrrr banget deh.” Mohon Bulan ketika itu pada kakaknya, Ka Aqlan.
“Dasar Qamar, Qamarr.. paling jago
ya, buat bisa ngeluluhin hati orang. Oke deh. Asal inget, kamu juga harus tetep
rajin belajar. Biar bisa kaya kakak, bisa sekolah di luar negeri.” Sombong
Kakaknya.
“Uuhhhh. Sombong. Kuliah di luar
negeri aja segini gengsinya. Iiiihhhhh please dong ka, jangan manggil Qamar
napa? Itutuh kaya nama cowok tau?” Kesal Bulan.
“Ih, kakak sih ga gengsi. Afwan aja
ya. Ya kan kalo dalam bahasa Arab, Qamar itu artinya Bulan. Ngerti?” Jelas Ka
Aqlan.
“Duuhh, mentang-mentang kuliahnya di
luar negeri terus ambil jurusan sastra Arab, jadi ngomong sehari-harinya juga Arab.”
“Hahaha. Dasar bocah.”
#####
Tak terasa, sudah 5 hari berlalu
cuti Kak Aqlan untuk liburan bersama Bulan di Indonesia, di rumahnya. Akhirnya,
kini Kakaknya harus pergi kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan tugas
kuliahnya.
“Hati-hati ya ka. Kabari di facebook
atau twitter, atau e-mail kalo udah nyampe.” Pesan Bulan.
“Iya Qamar..” Jawab Ka Aqlan sembari
mengacak rambut gelombangnya Bulan yang sebahu.
“Tuh kan Qamar lagi? Berarti udah 3
tahun disebut Qamar mulu.” Cemberut Bulan.
“Hahahaha.”
“Ko ketawa? Bukannya minta ma’af ke?”
Kesal Bulan.
“Iya ma’af deh. Kakak berangkat dulu
ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
#####
Sudah 5 hari, Bulan chat di f b,
mention di twitter, dan sudah kirim e-mail sekalipun pada kakaknya, tetap, tak
ada yang dibalas. Sehingga terlintas di fikiran Bulan “Apa Kakak udah langsung
sibuk ya? Sampe lupa ngabarin kabar? Atau jangan-jangan?” Muncul berbagai
prasangka dalam benaknya.
Ia ambil HP Maxtronnya yang berwarna
hitam, mirip dengan i-phone. Ia langsung mengirimkan sms pada sahabatnya sejak
kecil.
[Yan, dimana? Kamu lagi sibuk ga?
Aku pengen curhat nih. Ke rumahku ya.] Bulan.
[Oke, kamu lagi di kamar?] Sufyan.
[Iya.] Bulan.
Kebetulan, rumah Sufyan dan rumah
Bulan tetanggaan. Jadi, dalam waktu 5 menit, Sufyan sudah berada di depan mata
Bulan.
“Hey. Kenapa? Murung gitu.” Tanya
Sufyan mengawali.
“Aku khawatir Yan.” Kata Bulan
memulai cerita.
“Khawatir? Kenapa?”
“Udah 8 hari, Kak Aqlan gak ngabarin
kabarnya. Biasanya paling lama juga 3 hari. Aku khawatir Beliau kenapa-napa.”
Cemasnya sambil mondar-mandir tidak tenang.
“Innallaaha Ma’asshoobiriin.
Bersabarlah. Wainnallaaha ma’ana.” Singkat Sufyan.
“Aahh. Kamu ngomong bahasa Arab, aku
jadi lebih ingat kakakku lagi.”
“mmm mungkin, dia lagi sibuk. Atau
mungkin, HPnya rusak. Positive thinking sajalah.”
“Mmm oke.”
#####
[Assalamu’alaikum. Saya Kahil, teman
universitasnya sekaligus teman SMAnya Aqlan. Innalillahi wainna ilaihi
rooji’uun. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara Aqlan pada hari Jum’at,
tanggal 15 Maret 2005 pukul 08.28 WIB. Beliau mengalami kecelakaan pesawat
terbang 3 hari yang lalu, ketika pesawat yang ia tumpangi sedikit mengalami
ketidak seimbangan ketika masa pendaratan. Saya, perwakilan dari keluarga besar
Universtas turut berduka cita. Dan mohon izin, untuk memakamkan saudara Aqlan
di tanah ini. Tidak di Indonesia] Kak Aqlan.
Melihat sms dari hpnya, atas nama
kontak kakaknya, sontak Bulan pun menangis sejadi-jadinya. Dia teringat akan
kenangan manis yang selalu diberikan kakaknya selama ini. Dan yang paling ia
kangenin, adalah panggilan “Qamar”.
[Kakak? Kakak bercanda kan? Cuman
mau nakut-nakutin aja kan?] Bulan.
[Ini sungguh benar de. Demi Allah,
Kakakmu, Aqlan. Ia sudah meninggal.] Kak Kahil.
Semakin menjadi-jadi Bulan menangis.
Dia sangat tidak kuat untuk kehilangan kakak tercintanya. Ia satu-satunya orang
yang bisa diajak blak-blakan oleh Bulan. Meskipun Sufyan sahabatnya Bulan sejak
kecil, tapi ia lebih senang curhat dengan Kakaknya.
[Terimakasih Kak informasinya. Saya
perwakilan dari keluarga besar Alm. Aqlan, menyerahkan semuanya ke Kak Kahil
dari mulai pemakaman dan yang lainnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya.] Bulan.
[Sama-sama] Kak Kahil.
#####
Sudah 100 harinya Kak Aqlan
meninggal. Dan, sudah 5 kali bolak-balik Bulan membaca buku sebanyak 280
halaman, pemberian dari kakaknya. Ia juga selalu curhat pada diary pemberian
kakaknya. Ia menganggap, diary pun bisa menggantikan Kakaknya, ia bisa
mengibaratkan diary itu sebagai Kakaknya.
Tahun ajaran baru, Bulan duduk di
bangku kelas XI. Ia mengambil jurusan IPS. Untungnya, ia sekelas dengan Sufyan.
Jadi, kalo mau curhat gak harus nyebrangin lapangan kaya waktu kelas X dulu.
Awal masuk sekolah, Bulan sengaja
berangkat sangat pagi. Karena ia harus memilih bangku yang posisinya tepat.
Tidak terlalu depan, juga tidak terlalu belakang.
Sampai di kelas yang baru, ternyata
Sufyan dan 1 anak laki-laki sudah datang. Ia kira, ia akan menjadi satu-satunya
anak yang paling pagi memasuki gerbang sekolahnya. Ternyata, anggapannya salah
dan keliru.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Bulan pada
Sufyan dan anak itu.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka.
“Bulan, disini aja bareng aku.” Ajak
Sufyan.
“Kebetulan, aku juga ngincer bangku
ini. Hehe.”
#####
Memang, sekolah Bulan itu sekolah
yang menjadi no 1 di kotanya. Bukan hanya itu, tapi juga masuk 3 besar dalam
provinsi. Sehingga, dalam kurun waktu 5 hari saja, guru-guru di sekolah sana,
sudah berani memberikan berbagai macam tugas.
“Gini ya, jumlah muridnya disini ada
berapa?” Tanya guru Matematika.
“24.” Jawab anak-anak serempak.
“Oke, kalian bagi 8 kelompok. Jadi,
setiap kelompoknya 3 orang. Mau sama ibu bagi atau sama kalian sendiri?” Tawar
guru Matematika itu.
“Sama ibu aja bu. Biar adil.” Kata
salah seorang anak.
“Baik, ibu akan menyebutkan.”
Pembagian kelompok Matematika pun
dimulai.
“Kelompok 4. Bulan, Sufyan, dan
Zulfadhli.”
“Yey, kita sekelompok lan. Bareng Zul
lagi.” Bisik Sufyan.
“Oh, namanya Zulfadhli.” Gumam Bulan
dalam hati.
“Baik, selesai. Silahkan kalian menulis
materinya ini yang ada di papan tulis. Ini sudah ibu urutkan. Yang no 1, untuk
kelompok 1, dan seterusnya.”
“Iya bu.”
#####
Bel istirahat kedua pun berbunyi.
“Eh, mau kerja kelompok kapan?”
Tanya Sufyan pada Bulan dan Zul.
“Terserah aja lah. Dimana aja, sama
aja.” Jawab ramah Zul.
“Mmm, sekarang aja yu. Pulang
sekolah. Mau dirumah aku atau disini aja?” tawar Bulan.
“Eh, tapi sekedar saran aja sih ya.
Gimana kalo kita nyari bahan materi yang nanti akan dipresentasikan. Kalo udah,
kita gabung. Atau mau langsung dibagi aja?” usul Zul.
“Oh gitu. Boleh deh.” Jawab Bulan.
“Langsung bagi aja atuh ya. Kita kan
kelompok yang ngebahas Kuartil nih. Berarti ada yang buat data kelompok, data
tunggal, sama contoh soal + latihannya buat anak-anak kelas.” Kata Sufyan
“Aku mau yang data tunggal deh.”
Kata Bulan langsung menyerobot perkataan Sufyan.
“Aku data kelompok.” Kata Sufyan,
yang tidak mau kalah cepatnya dengan Bulan.
“Yowis, aku yang contoh soal +
latihannya.” Pasrah Zul.
“Gapapa kan?” Tanya Bulan.
“Ya gapapa. Tenang aja.” Jawab
santainya Zul.
#####
15 hari berlalu Bulan menduduki
kelas XI IPS. Nama kelasnya “KUARTIL” singkatan dari “Kulawargi Tilu.”. Dalam
bahasa Indonesia itu “Keluarga Tiga.”, maksudnya keluarga XI IPS 3.
Terlihat Handphone Maxtronnya
menyala, pertanda ada pesan masuk disana.
[Assalamu’alaikum. De, gimana kabarnya?]
Kak Kahil.
“Oh ka Kahil. Dikira Fadhli. Eh…” Pikir
Bulan.
[Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah baik Ka.
Kakak sendiri gimana?] Bulan.
[Alhamdulillah baik juga de. De,
sekarang kelas berapa? Udah mulai masuk sekolah kan?] Kak Kahil.
[Kelas XI ka. Iya udah.] Bulan.
[Oh iya? Cepet banget ya. Udah gadis
dong adiknya Alm. Aqlan ini. Hehehe.] Kak Kahil.
[Iya dong Ka, masa anak kecil mulu.
Hahaha.] Bulan
#####
Sudah 28 hari, Bulan merasakan ada
kejanggalan pada hatinya. Ada rasa yang terselip dalam perasaan hatinya. Itu
semua tertuju pada Zulfadhli dan Kak Kahil.
Entah saking PDnya mungkin, ia merasakan
bahwa kak Kahil suka padanya. Karena, akhir-akhir ini beliau sering menanyakan
akan keadaan dirinya. Apakah beliau bermaksud untuk menghiburnya karena
kakaknya sudah tiada atau dalam artian beliau menggantikan kakaknya? Atau
bahkan lebih dari itu? Dalam artian ada maksud tertentu? Entahlah.
Nah, kalo dengan Zulfadhli, ia juga
entah apa dan kenapa Bulan tertuju pada Zul. Entah karena kebetulan, ia sering
sekali sekelompok dengan Zul. Mulai dari Matematika, Sosiologi, Bahasa Sunda,
Kelompok Menyanyi, dan sampai TIK pun sekelompok terus. Dan, satu yang membuat
hati Bulan tertegun. Ternyata, ia tertarik dengan suara Zul. Memang, suaranya
sih sebenarnya sama saja bila dibandingkan dengan anggota paduan suara
laki-laki yang lain, tidak ada khasnya tersendiri. Tapi, entah kenapa Bulan
terlihat mulai simpati padanya.
#####
Biasanya, Bulan selalu curhat akan
perasaanya sama Sufyan. Namun, entah kenapa, dia hanya curhat tentang Kak Kahil
saja pada Sufyan. Ia tidak berani curhat tentang Zul pada Sufyan.
“Yan, menurut kamu. Cinta itu apa sih?”
Tanya Bulan suatu ketika.
“Hah? Hahhahahaha.”
“Ko ketawa?”
“Mmmm aneh aja. Emang kenapa sih?” Tanya
Sufyan.
“Aku kok ngerasa aneh sama Kak Kahil
ya?” Kata Bulan memulai curhatnya.
“Aneh? Aneh kenapa?” Tanya balik Sufyan.
“Nih, coba baca smsnya. Akhir-akhir ini,
kak Kahil sering banget sms aku.” Kata Bulan, sembari menyodorkan HP Maxtronnya
pada Sufyan.
“Bagus dong. Itu namanya perhatian. Terus
aneh dimananya?” Kata Sufyan sembari menerima HP nya Bulan.
“Perhatian? Mmm. Baca aja.”
“Hah? Iya juga sih? Ko aneh ya? Padahal,
ini sms yang dulu banget gak seperhatian ini. Mungkin emang beliau kasian ke
kamu karena Alm. Kak Aqlan sudah meninggal. Atau jangan-jangan? Cieeee.” Kata
Sufyan.
“Mmm bisa jadi sih. Tapi ya, heran aja.
Cieee? Ko cie sih?” Kata Bulan penasaran.
“Kamu inget ga? Kamu pernah curhat apa
ke aku tentang kak Kahil?” Tanya Sufyan balik.
“Hah? Mmmmm. Oh, iya aku inget. Ya
ampun, tapi itukan waktu dulu Yan. Sekarang kan udah engga.” Kata Bulan.
“Nah, maka dari itu.”
“Maksudnya?” kata Bulan tambah
penasaran.
“Dulu, kamu kan suka ke Kak Kahil …..”
“Iya, dulu. Pas kelas IX/ Pas SMP.” Kata
Bulan yang memotong perkataan Sufyan.
“Iya, dengerin dulu. Aku belum selesai
ngomong. Nah, saking kamu sukanya ke Kak Kahil, kamu kan sering sms perhatian
gini juga ke Kak Kahil. Cuman sayangnya kak Kahil balesnya singkat aja kan? Nah
sekarang, malah kebalik. Mungkin ini karma.”
“Karma?” Kata Bulan dengan nada
shocknya.
“Mmmm bisa jadi sih itu juga.”
#####
Anak yang sedikit pemalu ini, yang gak
pandai bergaul dengan teman cowoknya. Yah, paling dengan teman cowok tertentu
saja yang bisa ia dekati. Paling, bisa deket juga di media aja. Tapi, dengan
Zul, Bulan berusaha menarik perhatiannya.
“Zul, kenapa sih ko sekarang tiap kali
aku buka laptop itu suka ada pilihan Acer sama Guess? Padahal kan dulu enggak
kaya gitu. Dulu suka langsung ke desktopnya.” Tanya Bulan memulai.
“Oh, mungkin bisa dihapus.” Jawabnya.
“Dari?”
“Control Panel.”
“Caranya?”
“Aduh. Mmm coba tanya Sufyan aja ya. Dia
kan lebih jago. Ma’af, aku harus ke Masjid dulu.”
“Oh iyaiya, silahkan.”
#####
Alhamdulillah, semester 1 Bulan meraih
rangking ke 5 di kelas. Bulan bernadzar pada dirinya sendiri. Ia, akan memakai
jilbab paten karena Allah Ta’ala.
Semester 2, ia mulai lebih menyibukkan
diri pada hal yang bersifat ke-akhirat-an. Ia yakin, jika tujuannya untuk
akhirat, pasti dunia pun terpenuhi. Tapi, jika ia tujuannya dunia, belum pasti
akhirat terpenuhi.
Ia lebih sering puasa Senin-Kamis,
Shalat sunnat tahajud, dhuha, qabliyah, ba’diyah, dan lain-lain. Sehingga tak
heran, Zul yang dulu bersikap dingin padanya, akhirnya ia bisa terluluhkan
hatinya oleh sikap Bulan.
Bulan bersyukur akan karunia ini. Ia
teringat, kata-kata dalam buku pemberian Almarhum Kakaknya. Bahwa Conquer
himself is the most glorious victory artinya “Menaklukan diri adalah
kemenangan yang paling mulia.”. Bulan merasa yakin, bahwa ia telah berhasil
menguasai dirinya.
#####
Kini, anggapan tentang perasaannya pada
Kak Kahil dan juga Zul, ia sudah tidak memikirkannya. Kenapa? Karena, pertama.
Ternyata Kak Kahil memang tidak punya perasaan yang lebih padanya. Benar kata
hati kecilnya dulu dan apa yang dibilang Sufyan ketika itu. Beliau hanya kasian
padanya. Tidak lebih. Itu dibuktikan, ketika Kak Kahil akan menikah dengan
mantan pacar Kak Aqlan.
Sedangkan Zul? Entahlah. Tapi, yang kini
ia rasakan, masih ada sedikit perasaan yang masih tersisa dalam hatinya.
Dibilang suka ya, biasa aja sih sebenernya. Tapi dibilang biasa, ko masih grogi
ya kalo mau ngobrol? Entahlah, bingung.
#####
Kelas XII, lagi-lagi dan lagi Bulan
sekelas dengan Zul. Ia merasa, hubungannya terasa semakin dekat. Ketika kelas
XI, yang memulai pembicaraan selalu Bulan. Tapi kini di kelas XII, Zul yang
selalu memulai pembicaraan. Sampai-sampai, muncul isyu kalo Bulan pacaran
dengan Zul. Bulan sih nampaknya biasa aja, tapi terlihat wajah Zul yang memerah
menandakan bahwa ia memang suka dengan Bulan. Tapi, entahlah. Hanya Zul dan
Allah yang tau. Ia tidak pernah membicarakan soal itu pada orang lain apalagi
Bulan.
#####
1 tahun sudah, Zul dan juga Bulan
bersabar mendengar ejekan teman-temannya tentang status hubungannya.
Sebenarnya, sedikit risih. Namun, hati juga bisa terlena jika terlalu sering
diejek seperti yang demikian.
Memang, mungkin jodoh. Ternyata, Bulan
dan juga Zul sama-sama masuk ke UII dan memilih jurusan tarbiyah.
Hingga suatu hari, ada pesan masuk dari
Zul pukul 02.00 dini hari.
[Assalamu’alaikum. Bangun yu? Kita
shalat Tahajud.] Zulfadhli.
[Wa’alaikumsalam. Iya, makasih.] Bulan.
[J] Zulfadhli.
#####
Di kuliahan,
“Assalamu’alaikum Bulan. Dari tadi aku
nyari-nyari kamu, ternyata ada disini toh.” Kata Zul dengan nafas yang
terengah-engah.
“Wa’alaikumsalam. Ma’af ya. Emang ada
apa Zul?” Jawab Bulan.
“Mmmm. Lagi ganggu ga?” Tanya balik Zul.
“Mmm engga ko. Ini lagi ngobrol biasa
aja.” Jawab Bulan.
“Eh, ma’af. Boleh Zul mengobrol berdua
sama Bulan? Dipinjem dulu Bulannya boleh? Hehehe.” Izin Zul pada teman Bulan.
“Iya boleh. Silahkan aja.” Jawab mereka.
#####
“Ma’af ya. Aku ajak kamu ngobrol
berdua.”
“Iya gapapa Zul. Ada apa sih? Ko aneh?
Ada hal yang serius ya?” Tanya Bulan penasaran.
“Sebenernya ga terlalu serius-serius
amat sih. Aku mau nanya tentang suatu hal. Boleh?” Tanya Zul tanda akan memulai
inti pembicaraan.
“Iya boleh, silahkan.” Jawab Bulan.
“Jujur, aku rasa kamu mengalami
perubahan besar semenjak kelas XI semester 2.” Kata Zul memulai pembicaraan.
“Oh ya? Perubahan besar? Maksudnya?”
Tanya Bulan.
“Kamu gak ngerasa?” Tanya Zul.
“Dimananya?” Tanya balik Bulan.
“Semua tentang sikap, perilaku,
semuanya.” Jawab singkat Zul.
“Hah? Masa? Mungkin itu perasaan kamu
aja kali. Apa kamu merasa keberatan kalo memang sekiranya aku berubah?” Tanya
balik Bulan.
“Hah? Keberatan? Justru aku senang lan.
Aku senang karena kamu berubah ke hal yang lebih positif. Cuman aku heran aja.”
“Heran? Kenapa?”
“Aku baru nemuin akhwat kaya kamu.”
“Maksudnya?”
“Apa sih yang bisa membuat kamu berubah
seperti ini?” Tanya Zul.
“Fall in love with what you do. Mmm..
Ma’af banget. Sekarang aku harus pergi. Aku baru ingat sekarang mau ada
kumpulan dengan hijabers. Assalamu’alaikum.” Pamit Bulan sambil berlalu pergi.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Zul.
“Fall in love with what you do? Jatuh
cintalah kepada apa yang kamu kerjakan? Subhanallah. Aku tak menyangka.” Gumam
Zul sambil tersenyum melihat jejak Bulan yang berlalu pergi.
#####
Terlihat sejauh ini, mereka saling
merasakan perasaan yang memang bukan main dan tidak biasa. Mereka saling
mempunyai perasaan itu, tapi mereka juga saling menutupi perasaan itu. Mungkin
bagi Bulan, ini bukan perasaan yang kali pertamanya, karena ia pernah merasakan
perasaan ini semenjak ia SMP pada Kak Kahil, teman alm. Kakanya. Sedangkan Zul?
Dia baru kali pertamanya merasakan hal seperti ini. Memang, dulu Zul itu tidak
pernah memikirkan hal seperti ini walaupun banyak perempuan yang cantik, banyak
perempuan yang suka. Tapi tetap, kali ini ia merasakan hal yang luar biasa pada
seorang gadis bernama Bulan.
Yang membuat mereka yakin kalo mereka
sudah tau mereka berdua saling suka tapi memilih untuk sama-sama memendam,
ketika teman-teman mereka memojokkan mereka. Di satu sisi, teman-temannya Bulan
berbicara pada Bulan. Kalo Zul itu suka padanya. Dan ia baru kali pertamanya
merasakan perasaan suka pada seseorang. Di sisi lain, teman-temannya Zul juga
berbicara pada Zul kalo Bulan juga sebenarnya merasakan hal yang demikian.
Selain dia cantik, aktif, ia juga wanita idaman dari para lelaki sholeh.
#####
Ketika Bulan hendak mengambil mukenanya
didalam loker, tampak sepucuk surat berwarna putih polos menyergap matanya. Tak
pernah ia mendapat surat kaleng seperti ini. Dibuka surat itu. Kata-kata yang
dihadapannya membuat ia menyeringai dengan tubuh kekakuannya.
Assalamu’alaikum wr.wb
Entah, apa yang kini saya rasakan pun
tak tahu, 3 tahun sudah saya mengenalimu. Jujur, saya belum pernah merasakan
hal ini yang memang jarang sekali untuk aku pelihara, untuk sekadar
menyenangkan sesaat, untuk sekadar menghapus pelipur lara. Aku tidak memikirkan
hal ini bahwa untuk apa, kepada siapa aku berikan? Aku hanya memikirkan, semoga
rasa ini tidak sampai putus pada-Nya. Jika memang ini yang dinamakan jatuh
cinta, aku hanya bisa tersenyum. Alhamdulillah Allah SWT masih memberikan
nikmat dan karuniaNya padaku. Yang aku fikirkan, aku takut rasa cinta ini
membuat aku terlena pada hal keduniawian, aku takut aku mencintai seseorang
bukan karenaNya. Fall in love with what
you do. Jatuh cintalah kepada apa yang kamu kerjakan. Itu yang membuat aku
tertegun, hatiku terenyuh.
Jika kamu tidak mengerti kenapa aku
mengirimkan sepucuk surat ini untukmu, tolong tunggu aku di masjid. Aku akan
menemuimu di masjid pukul 08.00. Sampai ketemu disana.
Wassalamu’alaikum wr.wb
*ZF
“ZF? Fall in love with what you do?
Jatuh cintalah kepada apa yang kamu kerjakan? Perasaan kata-kata ini? Atau
memang dia itu?” Kata Bulan dengan wajah yang penasaran sambil menatap surat
itu.
#####
Setelah Bulan selesai sholat Dhuha,
dilihat jam tangannya masih menunjukkan angka 07.53.
“7 menit. Aku tunggu saja. Aku penasaran
siapa yang mencurahkan isi hatinya pada surat ini?” Kata Bulan.
7 menit kemudian, tiba-tiba.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Zul mengagetkan
lamunan Bulan.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Bulan dengan
nada yang kaget.
“Hey, ngelamun aja. Ngelamunin apa sih?
Masa depan ya?” Tanya Zul.
“Engga. Aku penasaran Zul sama yang
ngasih surat ini.” Kata Bulan sambil menunjukan suratnya.
“Iya? Boleh aku lihat dan baca?” Pinta
Zul kemudian.
Dibacanya surat itu oleh Zul, dengan
mimic wajah yang tak menentu. Kadang tertawa, serius, senyum-senyum, bingung,
gelisah, dan yang terakhir pasrah.
“Nih, aku kembalikan. Terus sekarang
gimana?”
“Gimana? Maksudnya? Kamu tau orangnya?
Sekarang aku lagi nunggu orangnya.” Kata Bulan sambil melihat orang-orang
sekitar.
“Iya, aku tau orangnya.”
“Siapa? Yang mana?” Jawab Bulan antusias
sambil melihat ke sekeliling orang yang mendatangi masjid.
“Eh nanti kalo orangnya dateng, kalo
boleh sih kamu temenin aku ya. Plisss.” Lanjutnya.
“Orangnya udah ada disamping kamu.”
Jawab singkat Zul.
Sontak, hati Bulan seakan menciut,
jantungnya semakin dag-dig-dug, mukanya menunduk. Jiwa yang sedang grogi, dan
raga yang seakan kaku dan penuh kecanggungan itu tengah mencari 1001 alasan
untuk tidak jadi mengobrol dengan Zul. Entah, alasan yang sebenarnya juga Bulan
tak tau.
Dilihat jam tangannya yang melilit di
tangan sebelah kirinya Bulan, menunjukan pukul 08.15. dan ia pun langsung
mengambil tindakan,
“Ma’af, sekarang aku harus kumpul dengan
hijabers. Assalamu’alaikum.” Kata Bulan dengan nada yang tergesa-gesa.
Namun, cekatnya Zul. Ia berhasil meraih
tangannya Bulan.
“Sekarang kan hari Rabu. Bukannya
kumpulan itu setiap hari Senin dan Kamis?” Tanya Zul yang masih tetap memegang
tangan Bulan.
“Ma’af. Tolong lepaskan tanganku.” Tegas
Bulan sambil melihat tangannya yang sedang dipegang oleh Zul.
“Ma’af.” Kata Zul sambil langsung
melepaskan tangan Bulan.
“Mmm aku mau masuk kelas. Takut dosen
sudah datang.”
“Bulan, aku kan sekelas sama kamu. Dosen
itu bilangnya mau masuk jam 09.00. Sekarang masih jam 08.28.” Kata Zul sambil
melihat jam tangannya.
Tanpa fikir panjang, Bulan langsung
memutar balik badannya 180 derajat dan langsung melangkahkan kakinya. Egonya
yang besar, berani mengalahkan perasaan yang suci itu.
Ketika baru 3 langkah Bulan berjalan
menjauhi Zul. Tiba-tiba,
“We must have long range goal.” Singkat
Zul.
Dengan perasaan yang tak karuan,
akhirnya Bulan bisa menghentikan langkah kakinya. Meski tak berbalik arah
kembali 180 derajat menghadap Zul yang masih tengah duduk di beranda masjid.
“Kita harus mempunyai tujuan jangka
panjang.” Lanjut Zul.
Tidak terasa, buliran air mata Bulan pun
jatuh. Entah itu pertanda senang atau pun sedih. Lalu, Bulan pun menarik nafas
dalam-dalam dan menghapus air matanya.
“Bulan, saya mohon. Kembalilah. Ada
suatu hal yang ingin aku utarakan.” Mohon Zul.
Akhirnya, ego berhasil terkalahkan oleh
rasa suci itu. Bulan pun kembali ke hadapan Zul.
“Terimakasih Bulan. Kamu mau kembali.
Aku hanya ingin mengatakan. Setelah bertahun-tahun aku kenal sama kamu.
Sungguh, entah mengapa. Kini, hatiku terenyuh, hatiku tertegun, melihat sosok
perempuan sepertimu. Sedikit terdengar gombal, namun memang ini yang tengah aku
rasakan. Aku mencoba untuk tetap menutupi perasaan ini, tapi hatiku pun
mempunyai batas. Aku tak tega merasakan hatiku yang tersiksa seperti ini.
Banyak ejekan dari temanku dan temanmu bahwa kita memang cocok. Dan banyak
kabar yang lainnya. Aku menjadi sangat yakin dengan perasaan ini. Tapi, melihat
sikapmu yang tadi, keyakinanku menciut. Tapi, apalah daya. Aku harus sampaikan
perasaan ini.”
Zul pun menarik nafas dalam-dalam dan
mengeluarkannya dengan tenang bersamaan dengan semilir angin yang ikut
memanjakan keadaan suasana.
“Aku menyukaimu Bulan. Aku mencintaimu
karena Allah. Izinkan aku untuk berta’aruf denganmu. Dan langsung meminta izin
pada orangtuamu. Aku ingin membangun istana hanya denganmu. Semoga pilihanku
tepat.”
Bulan pun langsung mengangkat wajahnya.
Lalu, memberikan senyum termanisnya yang benar-benar tulus ikhlas ia berikan.
“Apa yang dikatakan temanku dan temanmu
benar, apa yang tengah kamu rasakan juga benar, dan tindakanmu juga benar. Aku
juga mencintaimu karena Allah.” Jawab Bulan sambil menampakan mata yang sudah
berkaca-kaca.
“Alhamdulillah ya Allah.” Jawab Zul yang
tak kalah bangganya dengan Bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar