Senin, 23 Desember 2013

FALL IN LOVE


“Please, dong ka. Beliin buku ini. Yah? Yah? Kakakku yang baik, yang ganteng, yang superrrrrr banget deh.” Mohon Bulan ketika itu pada kakaknya, Ka Aqlan.
            “Dasar Qamar, Qamarr.. paling jago ya, buat bisa ngeluluhin hati orang. Oke deh. Asal inget, kamu juga harus tetep rajin belajar. Biar bisa kaya kakak, bisa sekolah di luar negeri.” Sombong Kakaknya.
            “Uuhhhh. Sombong. Kuliah di luar negeri aja segini gengsinya. Iiiihhhhh please dong ka, jangan manggil Qamar napa? Itutuh kaya nama cowok tau?” Kesal Bulan.
            “Ih, kakak sih ga gengsi. Afwan aja ya. Ya kan kalo dalam bahasa Arab, Qamar itu artinya Bulan. Ngerti?” Jelas Ka Aqlan.
            “Duuhh, mentang-mentang kuliahnya di luar negeri terus ambil jurusan sastra Arab, jadi ngomong sehari-harinya juga Arab.”
            “Hahaha. Dasar bocah.”
#####
            Tak terasa, sudah 5 hari berlalu cuti Kak Aqlan untuk liburan bersama Bulan di Indonesia, di rumahnya. Akhirnya, kini Kakaknya harus pergi kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
            “Hati-hati ya ka. Kabari di facebook atau twitter, atau e-mail kalo udah nyampe.” Pesan Bulan.
            “Iya Qamar..” Jawab Ka Aqlan sembari mengacak rambut gelombangnya Bulan yang sebahu.
            “Tuh kan Qamar lagi? Berarti udah 3 tahun disebut Qamar mulu.” Cemberut Bulan.
            “Hahahaha.”
            “Ko ketawa? Bukannya minta ma’af ke?” Kesal Bulan.
            “Iya ma’af deh. Kakak berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.”
            “Wa’alaikumsalam.”
#####
            Sudah 5 hari, Bulan chat di f b, mention di twitter, dan sudah kirim e-mail sekalipun pada kakaknya, tetap, tak ada yang dibalas. Sehingga terlintas di fikiran Bulan “Apa Kakak udah langsung sibuk ya? Sampe lupa ngabarin kabar? Atau jangan-jangan?” Muncul berbagai prasangka dalam benaknya.
            Ia ambil HP Maxtronnya yang berwarna hitam, mirip dengan i-phone. Ia langsung mengirimkan sms pada sahabatnya sejak kecil.
            [Yan, dimana? Kamu lagi sibuk ga? Aku pengen curhat nih. Ke rumahku ya.] Bulan.
            [Oke, kamu lagi di kamar?] Sufyan.
            [Iya.] Bulan.
            Kebetulan, rumah Sufyan dan rumah Bulan tetanggaan. Jadi, dalam waktu 5 menit, Sufyan sudah berada di depan mata Bulan.
            “Hey. Kenapa? Murung gitu.” Tanya Sufyan mengawali.
            “Aku khawatir Yan.” Kata Bulan memulai cerita.
            “Khawatir? Kenapa?”
            “Udah 8 hari, Kak Aqlan gak ngabarin kabarnya. Biasanya paling lama juga 3 hari. Aku khawatir Beliau kenapa-napa.” Cemasnya sambil mondar-mandir tidak tenang.
            “Innallaaha Ma’asshoobiriin. Bersabarlah. Wainnallaaha ma’ana.” Singkat Sufyan.
            “Aahh. Kamu ngomong bahasa Arab, aku jadi lebih ingat kakakku lagi.”
            “mmm mungkin, dia lagi sibuk. Atau mungkin, HPnya rusak. Positive thinking sajalah.”
            “Mmm oke.”
#####
            [Assalamu’alaikum. Saya Kahil, teman universitasnya sekaligus teman SMAnya Aqlan. Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun. Telah berpulang ke Rahmatullah, saudara Aqlan pada hari Jum’at, tanggal 15 Maret 2005 pukul 08.28 WIB. Beliau mengalami kecelakaan pesawat terbang 3 hari yang lalu, ketika pesawat yang ia tumpangi sedikit mengalami ketidak seimbangan ketika masa pendaratan. Saya, perwakilan dari keluarga besar Universtas turut berduka cita. Dan mohon izin, untuk memakamkan saudara Aqlan di tanah ini. Tidak di Indonesia] Kak Aqlan.
            Melihat sms dari hpnya, atas nama kontak kakaknya, sontak Bulan pun menangis sejadi-jadinya. Dia teringat akan kenangan manis yang selalu diberikan kakaknya selama ini. Dan yang paling ia kangenin, adalah panggilan “Qamar”.
            [Kakak? Kakak bercanda kan? Cuman mau nakut-nakutin aja kan?] Bulan.
            [Ini sungguh benar de. Demi Allah, Kakakmu, Aqlan. Ia sudah meninggal.] Kak Kahil.
            Semakin menjadi-jadi Bulan menangis. Dia sangat tidak kuat untuk kehilangan kakak tercintanya. Ia satu-satunya orang yang bisa diajak blak-blakan oleh Bulan. Meskipun Sufyan sahabatnya Bulan sejak kecil, tapi ia lebih senang curhat dengan Kakaknya.
            [Terimakasih Kak informasinya. Saya perwakilan dari keluarga besar Alm. Aqlan, menyerahkan semuanya ke Kak Kahil dari mulai pemakaman dan yang lainnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya.] Bulan.
            [Sama-sama] Kak Kahil.
#####
            Sudah 100 harinya Kak Aqlan meninggal. Dan, sudah 5 kali bolak-balik Bulan membaca buku sebanyak 280 halaman, pemberian dari kakaknya. Ia juga selalu curhat pada diary pemberian kakaknya. Ia menganggap, diary pun bisa menggantikan Kakaknya, ia bisa mengibaratkan diary itu sebagai Kakaknya.
            Tahun ajaran baru, Bulan duduk di bangku kelas XI. Ia mengambil jurusan IPS. Untungnya, ia sekelas dengan Sufyan. Jadi, kalo mau curhat gak harus nyebrangin lapangan kaya waktu kelas X dulu.
            Awal masuk sekolah, Bulan sengaja berangkat sangat pagi. Karena ia harus memilih bangku yang posisinya tepat. Tidak terlalu depan, juga tidak terlalu belakang.
            Sampai di kelas yang baru, ternyata Sufyan dan 1 anak laki-laki sudah datang. Ia kira, ia akan menjadi satu-satunya anak yang paling pagi memasuki gerbang sekolahnya. Ternyata, anggapannya salah dan keliru.
            “Assalamu’alaikum.” Sapa Bulan pada Sufyan dan anak itu.
            “Wa’alaikumsalam.” Jawab mereka.
            “Bulan, disini aja bareng aku.” Ajak Sufyan.
            “Kebetulan, aku juga ngincer bangku ini. Hehe.”
#####
            Memang, sekolah Bulan itu sekolah yang menjadi no 1 di kotanya. Bukan hanya itu, tapi juga masuk 3 besar dalam provinsi. Sehingga, dalam kurun waktu 5 hari saja, guru-guru di sekolah sana, sudah berani memberikan berbagai macam tugas.
            “Gini ya, jumlah muridnya disini ada berapa?” Tanya guru Matematika.
            “24.” Jawab anak-anak serempak.
            “Oke, kalian bagi 8 kelompok. Jadi, setiap kelompoknya 3 orang. Mau sama ibu bagi atau sama kalian sendiri?” Tawar guru Matematika itu.
            “Sama ibu aja bu. Biar adil.” Kata salah seorang anak.
            “Baik, ibu akan menyebutkan.”
Pembagian kelompok Matematika pun dimulai.
“Kelompok 4. Bulan, Sufyan, dan Zulfadhli.”
“Yey, kita sekelompok lan. Bareng Zul lagi.” Bisik Sufyan.
“Oh, namanya Zulfadhli.” Gumam Bulan dalam hati.
“Baik, selesai. Silahkan kalian menulis materinya ini yang ada di papan tulis. Ini sudah ibu urutkan. Yang no 1, untuk kelompok 1, dan seterusnya.”
“Iya bu.”
#####
            Bel istirahat kedua pun berbunyi.
            “Eh, mau kerja kelompok kapan?” Tanya Sufyan pada Bulan dan Zul.
            “Terserah aja lah. Dimana aja, sama aja.” Jawab ramah Zul.
            “Mmm, sekarang aja yu. Pulang sekolah. Mau dirumah aku atau disini aja?” tawar Bulan.
            “Eh, tapi sekedar saran aja sih ya. Gimana kalo kita nyari bahan materi yang nanti akan dipresentasikan. Kalo udah, kita gabung. Atau mau langsung dibagi aja?” usul Zul.
            “Oh gitu. Boleh deh.” Jawab Bulan.
            “Langsung bagi aja atuh ya. Kita kan kelompok yang ngebahas Kuartil nih. Berarti ada yang buat data kelompok, data tunggal, sama contoh soal + latihannya buat anak-anak kelas.” Kata Sufyan
            “Aku mau yang data tunggal deh.” Kata Bulan langsung menyerobot perkataan Sufyan.
            “Aku data kelompok.” Kata Sufyan, yang tidak mau kalah cepatnya dengan Bulan.
            “Yowis, aku yang contoh soal + latihannya.” Pasrah Zul.
            “Gapapa kan?” Tanya Bulan.
            “Ya gapapa. Tenang aja.” Jawab santainya Zul.
#####
            15 hari berlalu Bulan menduduki kelas XI IPS. Nama kelasnya “KUARTIL” singkatan dari “Kulawargi Tilu.”. Dalam bahasa Indonesia itu “Keluarga Tiga.”, maksudnya keluarga XI IPS 3.
            Terlihat Handphone Maxtronnya menyala, pertanda ada pesan masuk disana.
[Assalamu’alaikum. De, gimana kabarnya?] Kak Kahil.
“Oh ka Kahil. Dikira Fadhli. Eh…” Pikir Bulan.
[Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah baik Ka. Kakak sendiri gimana?] Bulan.
[Alhamdulillah baik juga de. De, sekarang kelas berapa? Udah mulai masuk sekolah kan?] Kak Kahil.
[Kelas XI ka. Iya udah.] Bulan.
[Oh iya? Cepet banget ya. Udah gadis dong adiknya Alm. Aqlan ini. Hehehe.] Kak Kahil.
[Iya dong Ka, masa anak kecil mulu. Hahaha.] Bulan
#####
Sudah 28 hari, Bulan merasakan ada kejanggalan pada hatinya. Ada rasa yang terselip dalam perasaan hatinya. Itu semua tertuju pada Zulfadhli dan Kak Kahil.
Entah saking PDnya mungkin, ia merasakan bahwa kak Kahil suka padanya. Karena, akhir-akhir ini beliau sering menanyakan akan keadaan dirinya. Apakah beliau bermaksud untuk menghiburnya karena kakaknya sudah tiada atau dalam artian beliau menggantikan kakaknya? Atau bahkan lebih dari itu? Dalam artian ada maksud tertentu? Entahlah.
Nah, kalo dengan Zulfadhli, ia juga entah apa dan kenapa Bulan tertuju pada Zul. Entah karena kebetulan, ia sering sekali sekelompok dengan Zul. Mulai dari Matematika, Sosiologi, Bahasa Sunda, Kelompok Menyanyi, dan sampai TIK pun sekelompok terus. Dan, satu yang membuat hati Bulan tertegun. Ternyata, ia tertarik dengan suara Zul. Memang, suaranya sih sebenarnya sama saja bila dibandingkan dengan anggota paduan suara laki-laki yang lain, tidak ada khasnya tersendiri. Tapi, entah kenapa Bulan terlihat mulai simpati padanya.
#####
Biasanya, Bulan selalu curhat akan perasaanya sama Sufyan. Namun, entah kenapa, dia hanya curhat tentang Kak Kahil saja pada Sufyan. Ia tidak berani curhat tentang Zul pada Sufyan.
“Yan, menurut kamu. Cinta itu apa sih?” Tanya Bulan suatu ketika.
“Hah? Hahhahahaha.”
“Ko ketawa?”
“Mmmm aneh aja. Emang kenapa sih?” Tanya Sufyan.
“Aku kok ngerasa aneh sama Kak Kahil ya?” Kata Bulan memulai curhatnya.
“Aneh? Aneh kenapa?” Tanya balik Sufyan.
“Nih, coba baca smsnya. Akhir-akhir ini, kak Kahil sering banget sms aku.” Kata Bulan, sembari menyodorkan HP Maxtronnya pada Sufyan.
“Bagus dong. Itu namanya perhatian. Terus aneh dimananya?” Kata Sufyan sembari menerima HP nya Bulan.
“Perhatian? Mmm. Baca aja.”
“Hah? Iya juga sih? Ko aneh ya? Padahal, ini sms yang dulu banget gak seperhatian ini. Mungkin emang beliau kasian ke kamu karena Alm. Kak Aqlan sudah meninggal. Atau jangan-jangan? Cieeee.” Kata Sufyan.
“Mmm bisa jadi sih. Tapi ya, heran aja. Cieee? Ko cie sih?” Kata Bulan penasaran.
“Kamu inget ga? Kamu pernah curhat apa ke aku tentang kak Kahil?” Tanya Sufyan balik.
“Hah? Mmmmm. Oh, iya aku inget. Ya ampun, tapi itukan waktu dulu Yan. Sekarang kan udah engga.” Kata Bulan.
“Nah, maka dari itu.”
“Maksudnya?” kata Bulan tambah penasaran.
“Dulu, kamu kan suka ke Kak Kahil …..”
“Iya, dulu. Pas kelas IX/ Pas SMP.” Kata Bulan yang memotong perkataan Sufyan.
“Iya, dengerin dulu. Aku belum selesai ngomong. Nah, saking kamu sukanya ke Kak Kahil, kamu kan sering sms perhatian gini juga ke Kak Kahil. Cuman sayangnya kak Kahil balesnya singkat aja kan? Nah sekarang, malah kebalik. Mungkin ini karma.”
“Karma?” Kata Bulan dengan nada shocknya.
“Mmmm bisa jadi sih itu juga.”
#####
Anak yang sedikit pemalu ini, yang gak pandai bergaul dengan teman cowoknya. Yah, paling dengan teman cowok tertentu saja yang bisa ia dekati. Paling, bisa deket juga di media aja. Tapi, dengan Zul, Bulan berusaha menarik perhatiannya.
“Zul, kenapa sih ko sekarang tiap kali aku buka laptop itu suka ada pilihan Acer sama Guess? Padahal kan dulu enggak kaya gitu. Dulu suka langsung ke desktopnya.” Tanya Bulan memulai.
“Oh, mungkin bisa dihapus.” Jawabnya.
“Dari?”
“Control Panel.”
“Caranya?”
“Aduh. Mmm coba tanya Sufyan aja ya. Dia kan lebih jago. Ma’af, aku harus ke Masjid dulu.”
“Oh iyaiya, silahkan.”
#####
Alhamdulillah, semester 1 Bulan meraih rangking ke 5 di kelas. Bulan bernadzar pada dirinya sendiri. Ia, akan memakai jilbab paten karena Allah Ta’ala.
Semester 2, ia mulai lebih menyibukkan diri pada hal yang bersifat ke-akhirat-an. Ia yakin, jika tujuannya untuk akhirat, pasti dunia pun terpenuhi. Tapi, jika ia tujuannya dunia, belum pasti akhirat terpenuhi.
Ia lebih sering puasa Senin-Kamis, Shalat sunnat tahajud, dhuha, qabliyah, ba’diyah, dan lain-lain. Sehingga tak heran, Zul yang dulu bersikap dingin padanya, akhirnya ia bisa terluluhkan hatinya oleh sikap Bulan.
Bulan bersyukur akan karunia ini. Ia teringat, kata-kata dalam buku pemberian Almarhum Kakaknya. Bahwa Conquer himself is the most glorious victory artinya “Menaklukan diri adalah kemenangan yang paling mulia.”. Bulan merasa yakin, bahwa ia telah berhasil menguasai dirinya.
#####
Kini, anggapan tentang perasaannya pada Kak Kahil dan juga Zul, ia sudah tidak memikirkannya. Kenapa? Karena, pertama. Ternyata Kak Kahil memang tidak punya perasaan yang lebih padanya. Benar kata hati kecilnya dulu dan apa yang dibilang Sufyan ketika itu. Beliau hanya kasian padanya. Tidak lebih. Itu dibuktikan, ketika Kak Kahil akan menikah dengan mantan pacar Kak Aqlan.
Sedangkan Zul? Entahlah. Tapi, yang kini ia rasakan, masih ada sedikit perasaan yang masih tersisa dalam hatinya. Dibilang suka ya, biasa aja sih sebenernya. Tapi dibilang biasa, ko masih grogi ya kalo mau ngobrol? Entahlah, bingung.
#####
Kelas XII, lagi-lagi dan lagi Bulan sekelas dengan Zul. Ia merasa, hubungannya terasa semakin dekat. Ketika kelas XI, yang memulai pembicaraan selalu Bulan. Tapi kini di kelas XII, Zul yang selalu memulai pembicaraan. Sampai-sampai, muncul isyu kalo Bulan pacaran dengan Zul. Bulan sih nampaknya biasa aja, tapi terlihat wajah Zul yang memerah menandakan bahwa ia memang suka dengan Bulan. Tapi, entahlah. Hanya Zul dan Allah yang tau. Ia tidak pernah membicarakan soal itu pada orang lain apalagi Bulan.
#####
1 tahun sudah, Zul dan juga Bulan bersabar mendengar ejekan teman-temannya tentang status hubungannya. Sebenarnya, sedikit risih. Namun, hati juga bisa terlena jika terlalu sering diejek seperti yang demikian.
Memang, mungkin jodoh. Ternyata, Bulan dan juga Zul sama-sama masuk ke UII dan memilih jurusan tarbiyah.
Hingga suatu hari, ada pesan masuk dari Zul pukul 02.00 dini hari.
[Assalamu’alaikum. Bangun yu? Kita shalat Tahajud.] Zulfadhli.
[Wa’alaikumsalam. Iya, makasih.] Bulan.
[J] Zulfadhli.
#####
Di kuliahan,
“Assalamu’alaikum Bulan. Dari tadi aku nyari-nyari kamu, ternyata ada disini toh.” Kata Zul dengan nafas yang terengah-engah.
“Wa’alaikumsalam. Ma’af ya. Emang ada apa Zul?” Jawab Bulan.
“Mmmm. Lagi ganggu ga?” Tanya balik Zul.
“Mmm engga ko. Ini lagi ngobrol biasa aja.” Jawab Bulan.
“Eh, ma’af. Boleh Zul mengobrol berdua sama Bulan? Dipinjem dulu Bulannya boleh? Hehehe.” Izin Zul pada teman Bulan.
“Iya boleh. Silahkan aja.” Jawab mereka.
#####
“Ma’af ya. Aku ajak kamu ngobrol berdua.”
“Iya gapapa Zul. Ada apa sih? Ko aneh? Ada hal yang serius ya?” Tanya Bulan penasaran.
“Sebenernya ga terlalu serius-serius amat sih. Aku mau nanya tentang suatu hal. Boleh?” Tanya Zul tanda akan memulai inti pembicaraan.
“Iya boleh, silahkan.” Jawab Bulan.
“Jujur, aku rasa kamu mengalami perubahan besar semenjak kelas XI semester 2.” Kata Zul memulai pembicaraan.
“Oh ya? Perubahan besar? Maksudnya?” Tanya Bulan.
“Kamu gak ngerasa?” Tanya Zul.
“Dimananya?” Tanya balik Bulan.
“Semua tentang sikap, perilaku, semuanya.” Jawab singkat Zul.
“Hah? Masa? Mungkin itu perasaan kamu aja kali. Apa kamu merasa keberatan kalo memang sekiranya aku berubah?” Tanya balik Bulan.
“Hah? Keberatan? Justru aku senang lan. Aku senang karena kamu berubah ke hal yang lebih positif. Cuman aku heran aja.”
“Heran? Kenapa?”
“Aku baru nemuin akhwat kaya kamu.”
“Maksudnya?”
“Apa sih yang bisa membuat kamu berubah seperti ini?” Tanya Zul.
“Fall in love with what you do. Mmm.. Ma’af banget. Sekarang aku harus pergi. Aku baru ingat sekarang mau ada kumpulan dengan hijabers. Assalamu’alaikum.” Pamit Bulan sambil berlalu pergi.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Zul.
“Fall in love with what you do? Jatuh cintalah kepada apa yang kamu kerjakan? Subhanallah. Aku tak menyangka.” Gumam Zul sambil tersenyum melihat jejak Bulan yang berlalu pergi.
#####
Terlihat sejauh ini, mereka saling merasakan perasaan yang memang bukan main dan tidak biasa. Mereka saling mempunyai perasaan itu, tapi mereka juga saling menutupi perasaan itu. Mungkin bagi Bulan, ini bukan perasaan yang kali pertamanya, karena ia pernah merasakan perasaan ini semenjak ia SMP pada Kak Kahil, teman alm. Kakanya. Sedangkan Zul? Dia baru kali pertamanya merasakan hal seperti ini. Memang, dulu Zul itu tidak pernah memikirkan hal seperti ini walaupun banyak perempuan yang cantik, banyak perempuan yang suka. Tapi tetap, kali ini ia merasakan hal yang luar biasa pada seorang gadis bernama Bulan.
Yang membuat mereka yakin kalo mereka sudah tau mereka berdua saling suka tapi memilih untuk sama-sama memendam, ketika teman-teman mereka memojokkan mereka. Di satu sisi, teman-temannya Bulan berbicara pada Bulan. Kalo Zul itu suka padanya. Dan ia baru kali pertamanya merasakan perasaan suka pada seseorang. Di sisi lain, teman-temannya Zul juga berbicara pada Zul kalo Bulan juga sebenarnya merasakan hal yang demikian. Selain dia cantik, aktif, ia juga wanita idaman dari para lelaki sholeh.
#####
Ketika Bulan hendak mengambil mukenanya didalam loker, tampak sepucuk surat berwarna putih polos menyergap matanya. Tak pernah ia mendapat surat kaleng seperti ini. Dibuka surat itu. Kata-kata yang dihadapannya membuat ia menyeringai dengan tubuh kekakuannya.
Assalamu’alaikum wr.wb
Entah, apa yang kini saya rasakan pun tak tahu, 3 tahun sudah saya mengenalimu. Jujur, saya belum pernah merasakan hal ini yang memang jarang sekali untuk aku pelihara, untuk sekadar menyenangkan sesaat, untuk sekadar menghapus pelipur lara. Aku tidak memikirkan hal ini bahwa untuk apa, kepada siapa aku berikan? Aku hanya memikirkan, semoga rasa ini tidak sampai putus pada-Nya. Jika memang ini yang dinamakan jatuh cinta, aku hanya bisa tersenyum. Alhamdulillah Allah SWT masih memberikan nikmat dan karuniaNya padaku. Yang aku fikirkan, aku takut rasa cinta ini membuat aku terlena pada hal keduniawian, aku takut aku mencintai seseorang bukan karenaNya.  Fall in love with what you do. Jatuh cintalah kepada apa yang kamu kerjakan. Itu yang membuat aku tertegun, hatiku terenyuh.
Jika kamu tidak mengerti kenapa aku mengirimkan sepucuk surat ini untukmu, tolong tunggu aku di masjid. Aku akan menemuimu di masjid pukul 08.00. Sampai ketemu disana.
Wassalamu’alaikum wr.wb
*ZF
“ZF? Fall in love with what you do? Jatuh cintalah kepada apa yang kamu kerjakan? Perasaan kata-kata ini? Atau memang dia itu?” Kata Bulan dengan wajah yang penasaran sambil menatap surat itu.
#####
Setelah Bulan selesai sholat Dhuha, dilihat jam tangannya masih menunjukkan angka 07.53.
“7 menit. Aku tunggu saja. Aku penasaran siapa yang mencurahkan isi hatinya pada surat ini?” Kata Bulan.
7 menit kemudian, tiba-tiba.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Zul mengagetkan lamunan Bulan.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Bulan dengan nada yang kaget.
“Hey, ngelamun aja. Ngelamunin apa sih? Masa depan ya?” Tanya Zul.
“Engga. Aku penasaran Zul sama yang ngasih surat ini.” Kata Bulan sambil menunjukan suratnya.
“Iya? Boleh aku lihat dan baca?” Pinta Zul kemudian.
Dibacanya surat itu oleh Zul, dengan mimic wajah yang tak menentu. Kadang tertawa, serius, senyum-senyum, bingung, gelisah, dan yang terakhir pasrah.
“Nih, aku kembalikan. Terus sekarang gimana?”
“Gimana? Maksudnya? Kamu tau orangnya? Sekarang aku lagi nunggu orangnya.” Kata Bulan sambil melihat orang-orang sekitar.
“Iya, aku tau orangnya.”
“Siapa? Yang mana?” Jawab Bulan antusias sambil melihat ke sekeliling orang yang mendatangi masjid.
“Eh nanti kalo orangnya dateng, kalo boleh sih kamu temenin aku ya. Plisss.” Lanjutnya.
“Orangnya udah ada disamping kamu.” Jawab singkat Zul.
Sontak, hati Bulan seakan menciut, jantungnya semakin dag-dig-dug, mukanya menunduk. Jiwa yang sedang grogi, dan raga yang seakan kaku dan penuh kecanggungan itu tengah mencari 1001 alasan untuk tidak jadi mengobrol dengan Zul. Entah, alasan yang sebenarnya juga Bulan tak tau.
Dilihat jam tangannya yang melilit di tangan sebelah kirinya Bulan, menunjukan pukul 08.15. dan ia pun langsung mengambil tindakan,
“Ma’af, sekarang aku harus kumpul dengan hijabers. Assalamu’alaikum.” Kata Bulan dengan nada yang tergesa-gesa.
Namun, cekatnya Zul. Ia berhasil meraih tangannya Bulan.
“Sekarang kan hari Rabu. Bukannya kumpulan itu setiap hari Senin dan Kamis?” Tanya Zul yang masih tetap memegang tangan Bulan.
“Ma’af. Tolong lepaskan tanganku.” Tegas Bulan sambil melihat tangannya yang sedang dipegang oleh Zul.
“Ma’af.” Kata Zul sambil langsung melepaskan tangan Bulan.
“Mmm aku mau masuk kelas. Takut dosen sudah datang.”
“Bulan, aku kan sekelas sama kamu. Dosen itu bilangnya mau masuk jam 09.00. Sekarang masih jam 08.28.” Kata Zul sambil melihat jam tangannya.
Tanpa fikir panjang, Bulan langsung memutar balik badannya 180 derajat dan langsung melangkahkan kakinya. Egonya yang besar, berani mengalahkan perasaan yang suci itu.
Ketika baru 3 langkah Bulan berjalan menjauhi Zul. Tiba-tiba,
“We must have long range goal.” Singkat Zul.
Dengan perasaan yang tak karuan, akhirnya Bulan bisa menghentikan langkah kakinya. Meski tak berbalik arah kembali 180 derajat menghadap Zul yang masih tengah duduk di beranda masjid.
“Kita harus mempunyai tujuan jangka panjang.” Lanjut Zul.
Tidak terasa, buliran air mata Bulan pun jatuh. Entah itu pertanda senang atau pun sedih. Lalu, Bulan pun menarik nafas dalam-dalam dan menghapus air matanya.
“Bulan, saya mohon. Kembalilah. Ada suatu hal yang ingin aku utarakan.” Mohon Zul.
Akhirnya, ego berhasil terkalahkan oleh rasa suci itu. Bulan pun kembali ke hadapan Zul.
“Terimakasih Bulan. Kamu mau kembali. Aku hanya ingin mengatakan. Setelah bertahun-tahun aku kenal sama kamu. Sungguh, entah mengapa. Kini, hatiku terenyuh, hatiku tertegun, melihat sosok perempuan sepertimu. Sedikit terdengar gombal, namun memang ini yang tengah aku rasakan. Aku mencoba untuk tetap menutupi perasaan ini, tapi hatiku pun mempunyai batas. Aku tak tega merasakan hatiku yang tersiksa seperti ini. Banyak ejekan dari temanku dan temanmu bahwa kita memang cocok. Dan banyak kabar yang lainnya. Aku menjadi sangat yakin dengan perasaan ini. Tapi, melihat sikapmu yang tadi, keyakinanku menciut. Tapi, apalah daya. Aku harus sampaikan perasaan ini.”
Zul pun menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan tenang bersamaan dengan semilir angin yang ikut memanjakan keadaan suasana.
“Aku menyukaimu Bulan. Aku mencintaimu karena Allah. Izinkan aku untuk berta’aruf denganmu. Dan langsung meminta izin pada orangtuamu. Aku ingin membangun istana hanya denganmu. Semoga pilihanku tepat.”
Bulan pun langsung mengangkat wajahnya. Lalu, memberikan senyum termanisnya yang benar-benar tulus ikhlas ia berikan.
“Apa yang dikatakan temanku dan temanmu benar, apa yang tengah kamu rasakan juga benar, dan tindakanmu juga benar. Aku juga mencintaimu karena Allah.” Jawab Bulan sambil menampakan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Alhamdulillah ya Allah.” Jawab Zul yang tak kalah bangganya dengan Bulan.

Tidak ada komentar: