Sabtu, 07 Desember 2013

Pulau Cinta


“Bismillah, saya terima nikahnya Syahrazad binti Raza dengan seperangkat alat shalat dan mas kawin sebesar 5 gram dibayar tunai” kataku dengan perasaan yang sangat grogi dan sangat bahagia.
            “Alhamdulillah. Bagaimana? Sah?” Tanya penghulu pada saksi.
            “Sah.” Jawab mereka singkat.
            Alhamdulillah, di tanggal 15 Mei 2008 pada hari Rabu akhirnya menjadi saksi bahwa kini, aku dan Ara resmi menjadi pasangan suami istri. Hari yang pertama kali aku memegang tangannya. Aku bahagia sekali.
            Kini, sudah 8 bulan kami berumah tangga. Dan Alhamdulillah, tidak ada konflik sama sekali. Kami sama-sama menutupi kekurangan kita masing-masing dengan kelebihan yang kami miliki.
            Memang, Alhamdulillah aku mempunyai perusahaan yang cukup maju, sehingga aku selalu pergi ke luar kota. Jujur, sebenarnya aku sangat khawatir karena terlalu sering meninggalkan istri dari rumah dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan supaya Ara tidak terlalu bosan, saya izinkan Ara keluar rumah hanya untuk ke rumah orangtuanya yang hanya berjarak 1 m dari rumah kami.
            “Ma’afkan aku. Lagi-lagi malam ini aku harus ke luar kota menemui clien. Apa Ara suka keberatan? Jujur saja.” Kataku ketika bersiap mengemas baju di kamar oleh istriku, Ara.
            “Iya, gapapa mas. Semoga usaha mas dimudahkan dan dilancarkan, juga diridhoi oleh Allah SWT. Aku gak keberatan ko mas. Aku akan setia menunggu mas disini untuk membuka pintu selamat datang dan selamat pulang kembali.” Katanya sambil menunjukan senyum termanisnya.
            Alhamdulillah Ya Allah, Engkau memang menurunkan bidadari syurga untuk ku. Memang, bagiku Ara itu sang motivator pribadiku. Sebenarnya, aku sangat mengerti perasaan dia. Dia sangat kesepian, apalagi sudah 8 bulan kini, kami masih belum saja memiliki seorang anak. Tapi ia selalu pintar menyembunyikan hal itu semua. Dia selalu menutupinya dengan senyum keteduhannya. “Ya Allah, sungguh Shaleha nya istriku.” Gumamku.
            Aku langsung memeluk erat tubuh Ara dan ku kecup keningnya. “Mas akan selalu kangen Ara.” Bisikku.
            Tampak ia membalas dengan senyuman yang tersipu malu, sembari menjawab “Ara juga mas. Ara akan setia menunggu.” Ku peluk erat lagi tubuhnya. Seakan, aku benar-benar tidak mau berpisah dengannya.
            Hingga suatu hari terjadi, dimana aku ditelepon oleh mertuaku. Ibu istriku.
            “Rahmi, cepat kesini. Ke Rumah sakit Harapan Kita.” kata mertuaku dengan nada yang cemas.
            “Tapi bu, ada apa? Kenapa Rahmi harus pergi ke Rumah Sakit bu? Siapa yang sakit? Ibu sakit?” Tanyaku kepo.
            “Istrimu ….. Sudahlah. Cepat kamu kesini saja sekarang juga. Ibu tunggu di ruang 28.” Dengan langsung menutup telponnya.
            “Istrimu …..? Jangan-jangan?” Tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengambil jas ku dan langsung menuju ke Rumah Sakit Harapan Kita. Aku membutuhkan waaktu 5 jam untuk sampai ke Rumah Sakit Harapan Kita.
            Setelah sampai, aku segera menuju ke ruang 28 sesuai apa yang diperintahkan oleh mertuaku. Dan ternyata.
            “Ma’af sus. Pasien yang disini kemana ya? Ko tidak ada? Apa dipindahkan?” Tanyaku setelah melihat tidak ada pasien di dalam ruangan tersebut.
            “Oh, pasien yang disini sudah dibawa pulang pak. Ma’af pak saya harus buru-buru ke ruang 15 karena pasien membutuhkan perawat.” Permisi suster itu sambil terburu-buru berlalu pergi.
            Pikiranku mulai tenang, karena aku berfikir “mungkin kalau memang istriku yang sakit, dia sudah agak baikan.”
            Setelah sampai rumah, aku kaget. Kenapa banyak sekali warga didalam? Atau mungkin, mertuaku langsung mengadakan syukuran karena  istriku sudah sembuh? Berbagai pertanyaan memenuhi fikiranku. Di samping aku senang, aku merasa aneh. Karena, semakin aku mendekat ke dalam rumah, semakin keras bacaan surat yang dilantunkan.
            Dan ternyata, tepat sekali di hadapanku tampak bidadari syurgaku yang terbujur kaku. Aku menunduk. Aku berusaha untuk setegar mungkin. Kulihat, bapakku mulai mendekatiku. Aku pun langsung memeluk erat bapakku.
            “Yang sabar nak. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya.” Bisik bapakku.
            “Aamiin.” Jawabku lirih.
            Aku turut serta membantu kifayah untuk merawat mayit istriku. Dari mulai memandikan sampai menguburkan, aku selalu melakukan hal itu dengan sebaik-baiknya. Mungkin, hanya ini yang bisa aku persembahkan untuk terakhir kalinya.
            Mertuaku bercerita. Katanya, istriku mengidap penyakit jantung dan asma. Dan ternyata, setelah kemarin dia main ke rumah orangtuanya, tiba-tiba saja jatuh pingsan. Itu hal yang tidak biasanya. Akhirnya, istriku dibawa ke Rumah Sakit. Dan ternyata, penyakitnya itu sudah kronis.
            Aku tak habis fikir. Ternyata, segininya istriku menyimpan rasa sakitnya hanya karena ia tidak ingin menambah beban fikiranku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan mertuaku.  Dan aku pun hanyut dalam pelukan dan tangisan di pundak mertuaku itu.
            Sudah 5 minggu atau 1 bulan 1 minggu, aku hanya berdiam diri saja di rumah mengingat istriku. Tak ku sangka. Ternyata dia yang pergi lebih dulu dariku. Memang, mati itu ada di tangan Allah SWT dan datang dengan membawa kejutan.
            Selama ini, aku masih saja membayangkan sosok istriku, Syahrazad. Tapi, aku mulai tersadarkan oleh kedua orangtuaku dan juga mertuaku untuk tetap terus bangkit. Masih ada masa depan yang harus aku tantangi, aku jalani, aku lewati.
            Suatu hari, tiba-tiba aku dikenalkan oleh rekan kerjaku. Namanya Makhlad. Aku dikenalkan olehnya pada teman perempuannya. Namanya Dalal. Ketika aku bertemu dengannya, tak ku sangka. Mirip sekali wajahnya dengan istriku, Syahrazad. Dari mulai mata, hidung, bentuk tubuh, semuanya. Semuanya sama. Hanya saja, ada  satu yang beda. Sayangnya, dia tidak memakai jilbab.
            Aku mulai terlena dengannya karena hanya dia sangat mirip dengan istriku. Aku mulai dekati dia, rayu dia, apa yang ia minta pasti aku kasih. Kenapa? Hanya karena dia mirip dengan istrku. Aku benar-benar terlena. Sampai-sampai dia pengen sebuah apartemen, mobil mewah, perhiasan. Aku kasih semuanya. Aku benar-benar termakan oleh wajah cantiknya yang mirip sekali dengan istriku.
            Saking aku cinta pada istriku, semakin aku terlena pada Dalal. Aku benar-benar kehilangan kendali, tak mempunyai pegangan. Darisana, imanku mulai goyah, bahkan turun drastis dan nyaris menghilang –na’udzubillah-.
            Setelah 5 bulan aku kenal dengan Dalal. Aku mulai sadar, ketika aku melihat Dalal dengan Makhlad sedang berdua di restoran dekat perusahaanku. Terlihat ada kemesraan diantara mereka. Aku mulai curiga. Aku memilih tempat duduk yang agak mojok. Dan sempat aku dengar perbincangan mereka bahwa “tenang sayang. Aku akan selalu sayang sama kamu. Aku seperti ini karena aku hanya ingin memanfa’atkan kekayaannya Rahmi aja. Sesuai rencana kita.”
            Aku kaget dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Dalal. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung mendatangi mereka berdua.
            “Oke, jadi ini maksud kalian berdua?” Dengan nadaku yang sedikit memuncak.
            “Mmhh, bukan Rahmi. Ini sodaraku.” Bujuk Dalal
            “Aku ga percaya. Pokoknya, ambil semua barang-barang kamu di apartemenku. Kembalikan mobil mewahku dan perhiasan yang kamu pakai. Dan kamu Makhlad. Aku gak percaya kamu sekejam ini. Hati kamu beneran busuk. Mulai detik ini, kamu saya pecat dengan sangat tidak hormat.”
            “Wah, senang sekali mendengar keputusan ini. Saya juga sudah tidak sudi lagi mengabdi di perusahaan anda.”
            Mereka pun langsung pergi. Aku pun mengejarnya. Sayangnya, aku kehilangan jejak ketika aku hampir saja menabrak seorang kakek. Aku pun langsung memutuskan untuk kembali ke rumah.
            Aku pun langsung bermunajat pada Allah SWT. Aku menyesali perbuatan khilafku yang sungguh, ini seharusnya tidak terjadi.  Aku benar-benar menangis di hadapan Rabbku.
            Esoknya, aku awali hari-hariku dengan yang lebih baik. Soal Dalal dan Makhlad, sudahlah. Lupakan saja. Ikhlaskan saja. Biar Allah SWT yang membalas mereka.
            Aku mulai merutinkan kembali jadwal shalat dhuha ku di mushola yang berada di kantorku. Aku mulai rajin ikut mendengarkan tausyiah di mesjid yang dulu menjadi saksi pertemuanku dengan Syahrazad. Menjadi saksi ketika aku mulai jatuh cinta padanya.
            Suatu hari, ketika aku hendak pulang setelah mendengarkan tausyiah di mesjid, aku kehilangan sebelah sepatuku. Aku cari kemana-mana gak ada. Aku cek lagi gak ada. Aku ulang lagi bolak-balik juga masih tetap gak ada. Orang-orang makin sepi meninggalkan mesjid ini. Tiba-tiba
            “Assalamu’alaikum. Ma’af mas. Saya perhatikan dari tadi, mas terlihat mencari sesuatu. Bisa saya bantu?”
            Ku tatap wajahnya sejenak. Sungguh, entah kenapa dan mengapa? Aku sangat merasakan sosok kehadiran Syahrazad. Senyum yang indah diberikannya, persis ketika Syahrazad memotivasiku untuk tidak mengeluh dan tidak berputus asa.
            “Wa’alaikumsalam. Oh ini, sepatu saya hilang sebelah. Udah dicari beberapa kali gak ketemu. Boleh, kalau tidak keberatan.” Jawabku.
            Setelah 28 menit kemudian.
            “Mas, ini sepatunya bukan?” Tanyanya.
            Subhanallah, teduh sekali pandangannya. “Nah iya. Itu memang sepatu saya. Ternyata nyelip di deket tong sampah toh.”
            Akhwat itu memberikan senyum manisnya lagi padaku. “Ya sudah mas. Saya permisi dulu. Wassalamu’alaikum.”
            “Iya, makasih ya. Wa’alaikumsalam.” Jawabku.
            Dia hanya membalas dengan senyuman sambil berlalu pergi meninggalkan jejak.
            “Ah. Aku lupa menanyakan siapa namanya.” Kesalku. “Astaghfirullah.” Kataku menyadarkan diri.
            Tidak terasa, sudah 5 minggu aku rutin kembali hadir dalam majelis ini. aku lumayan dekat dengan ustadz penceramah disana, karena beliau juga tahu bahwa saya pernah pacaran dengan Syahrazad. Pernah ku katakan sebelumnya, Syahrazad juga sering hadir dalam majelis ini. dan disinilah tempat kami menuangkan seluruh isi hati kita.
            Makin hari, entah kenapa aku semakin sering menanyakan soal akhwat itu. Aku bertanya pada ustadz, dan jawab beliau “Namanya Rohana. Dia anak bungsu bapak. Baru saja dia pulang dari Kairo menuntaskan kuliahnya. Bapak juga tidak tahu, dia sudah memikirkan kepada hal pernikahan atau belum. Seingat bapak, umurnya sudah cukup untuk memenuhi persyaratan untuk menikah.”
            Aku sedikit terkejut mendengarnya. Ternyata, Rohana itu, akhwat yang menarik perhatianku itu putri bungsu dari ustadz. Oh sedikit malu sebenarnya.
Esoknya, entah mengapa. Dengan sangat PDnya aku meminta waktu kepada ustadz dan Rohana untuk mengobrolkan sesuatu.
“Bismillah. Langsung saja ustadz. Mohon ma’af, jika menurut ustadz atau pun Rohana, perlakuan saya selama ini tidak sopan. Saya sudah tidak sanggup lagi menahan perasaan ini. Bismillah. Ustadz, izinkan saya berta’aruf dengan Rohana. Dan kalau boleh, insha Allah bulan depan saya siap menikahinya.”
Aku melihat, ustadz dan Rohana saling bertatapan tidak menyangka.
“Bapak kembalikan semuanya pada Rohana. Bagaimana menurutmu nak? Apa kamu mau?”
Ku lihat Rohana mengangguk kecil sambil tersipu malu.
“Alhamdulillah. Kalau begitu, Bapak merestui hubungan kalian. Semoga kita semua selalu dalam naungan keridhoan Allah SWT. Aamiin”
Sungguh senangnya hatiku hari ini. Menurutku, mesjid ini bagaikan pulau. We have many thousand islands, kami memiliki ribuan pulau. Pulau cinta. Dimana bukan saja aku menemukan cinta pada Rabb-ku, tapi juga Rabb-ku mempertemukan cinta pada jodohku.


Tidak ada komentar: